Ketika kualitas udara di perkotaan semakin rendah.

polusi jakartaPopulasi penduduk dari hari ke hari, baik di perkotaan atau perdesaan kian bertambah jumlahnya. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik Indonesia pada saat ini diperkirakan jumlah penduduk baik di perkotaan dan perdesaan sudah mencapai sekitar 250juta jiwa yang tersebar di 34 provinsi.

Konsekuensi dari pertambahan penduduk sudah tentu akan berpengaruh pada terjadinya peningkatan mobilisasi penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain. Perpindahan orang membawa konsekuensi pada perpindahan segala kebutuhan hidupnya, seperti pangan, sandang dan papan. Sebagai ciri dari adanya pertumbuhan perekonomian, maka terjadi pula peningkatan mobilisasi penduduk dari pinggir kota ke tengah kota untuk bekerja sesuai dengan profesinya. Oleh sebab itu kebutuhan akan transportasi publik akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk yang harus bekerja ke tengah kota. Sementara pada mereka yang mampu membeli kendaraan bermotor akan menggunakannya sebagai sarana transportasi menuju tempat bekerja. Hal ini berakibat akan terjadi peningkatan jumlah kendaraan bermotor yang harus bergerak ke pusat-pusat bisnis pada saat yang bersamaan.

Catatan tentang kendaraan bermotor menurut Badan Pusat Statistik Indonesia hingga tahun 2012, populasi kendaraan bermotor sudah tercatat sekitar 94juta unit dengan 81% berbentuk unit sepeda motor. Bahkan di ibu kota Jakarta seperti yang dimuat dalam www.vivanews.com terbitan 3 Januari 2014, catatan Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya di tahun 2013 jumlah kendaraan bermotor sudah mencapai 16 juta unit. Dapat dibayangkan berapa besar pertambahan kandungan emisi gas buang kendaraan bermotor yand didominasi oleh gas CO2 yang dibuang ke udara perkotaan seperti Jakarta yang dihuni sekitar 10 juta jiwa berdasar sensus penduduk tahun 2010.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2014 tentang tingkat polusi kota-kota besar di dunia dengan menggunakan data PM10 yang berarti ukuran partikel debu lebih kecil dari 10mikron, kawasan Asia Tenggara menduduki posisi ke dua sebagai penyumbang buruknya udara perkotaan di dunia. Buruknya udara perkotaan sudah barang tentu akan berakibat pada menurunnya kualitas hidup bagi penduduk. Menurut data WHO, polusi udara berkontribusi pada sekitar tujuh juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2012. Asia Tenggara, yang mencakup dari India hingga Indonesia, Pasifik Barat, Cina, Korea, dan Filipina, merupakan wilayah yang menderita polusi udara terburuk di dunia. Bersama-sama mereka menyumbang 5,9 juta kematian.

Pakar kedokteran masyarakat, lingkungan dan faktor sosial WHO Dr. Maria Neira mengingatkan kepada seluruh penduduk di dunia untuk mewaspadai kondisi buruk perkotaan yang diakibatkan oleh rendahnya kualitas udara perkotaan. Salah satu jenis kanker yang erat kaitannya dengan rendahnya mutu kualitas udara perkotaan akibat polusi udara adalah kanker paru. Apalagi jika yang bersangkutan memiliki riwayat kebiasaan merokok. Catatan di Yayasan Kanker Indonesia, kanker paru termasuk 10 jenis kanker yang mendapat perhatian serius untuk ditanggulangi. Upaya memeriksakan dini apabila terjadi gangguan kesehatan pernafasan adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan sebagai langkah awal atau pencegahan dini terhadap kemungkinan berkembang ke arah kanker paru. Rumah Sakit di kota-kota besar seluruh Indonesia sudah dapat dimintai bantuan pemeriksaan gangguan kesehatan pernafasan atau Kantor Cabang YKI untuk masalah kanker.

[A Mufti/amufti2004@gmail.com]

Ilustrasi gambar : Dikutip dari http://indoken.blogspot.com

One Response to “Ketika kualitas udara di perkotaan semakin rendah.”

Leave a Reply