YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta

Hotline Teledonasi: (021) 3152603 | Apotek : (021) 3920568 | Sekretariat: (021) 3152603

Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 63

Bisakah Mencegah Risiko Kanker Otak?

Posted on Fri, 12.07.2019

Kanker otak disebabkan oleh pertumbuhan abnormal sel di bagian otak yang merusak jaringan otak tempatnya berada. Kondisi pertumbuhan sel yang abnormal tersebut awalnya menyebabkan tumor otak. Namun, tidak semua tumor bersifat kanker dan berujung pada kanker otak.

Lalu, apa sebenarnya yang dapat memicu pertumbuhan abnormal sel pada…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 63

    Bisakah Mencegah Risiko Kanker Otak?

    Posted on Fri, 12.07.2019

    Kanker otak disebabkan oleh pertumbuhan abnormal sel di bagian otak yang merusak jaringan otak tempatnya berada. Kondisi pertumbuhan sel yang abnormal tersebut awalnya menyebabkan tumor otak. Namun, tidak semua tumor bersifat kanker dan berujung pada kanker otak.

    Lalu, apa sebenarnya yang dapat memicu pertumbuhan abnormal sel pada otak sehingga menyebabkan tumor atau kanker otak?

    Faktor pemicu tumbuhnya tumor atau kanker otak

    Penyebab pasti mengapa tumor dan segala jenis kanker—termasuk tumor dan kanker yang tumbuh di otak— masih belum dapat diketahui secara pasti. Meski begitu, ada sejumlah faktor yang memengaruhi munculnya tumor atau kanker otak pada seseorang, yakni faktor genetik atau keturunan, adanya paparan zat beracun dari lingkungan sekitar, radiasi yang menyerang kepala (otak), mengidap HIV dan memiliki kebiasaan buruk merokok.

    Jenis tumor dan kanker otak

    Kanker otak terbagi menjadi dua berdasarkan asal mula pertumbuhan sel kanker.

    • Kanker otak utama, disebabkan oleh munculnya salah satu sel dalam otak yang tumbuh tidak wajar, membentuk tumor ganas lalu bertransformasi menjadi sel kanker. Sel kanker ini yang kemudian merusak jaringan, sel saraf, selaput pelindung otak atau saraf tulang belakang.
    • Kanker otak metastasis, atau kanker otak sekunder, merupakan kanker otak yang disebabkan oleh tumbuhnya sel tumor atau sel kanker dari bagian lain dalam tubuh yang menyebar ke otak (melalui proses yang disebut metastasis). Sel-sel kanker tersebut bisa berasal dari bagian payudara (kanker payudara), usus (kanker kolorektal), ginjal (kanker ginjal), paru-paru (kanker paru) atau kulit (kanker melanoma). Penyebaran sel kanker inilah yang kebanyakan menjadi penyebab kanker otak.

    Ciri dan gejala tumor/kanker otak

    Tumor dan kanker otak ditandai dengan gejala yang berbeda-beda, bergantung pada ukuran, letak dan kecepatan tumbuh sel kanker itu sendiri. Biasanya, gejala awal yang dapat dirasakan adalah munculnya rasa sakit kepala yang kian lama semakin bertambah sering dan bertambah parah, timbul rasa mual dan muntah dengan tiba-tiba, tubuh menjadi lemas dan tidak seimbang, muncul kejang, sering hilang fokus, susah berkonsentrasi, hingga muncul masalah pada penglihatan.

    Jika terus menerus merasakan gejala yang telah disebutkan di atas, periksakan kondisi ke dokter untuk mengetahui ada tidaknya risiko kanker. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan tindakan CT Scan atau pemindaian otak.

    Bisakah menekan risiko terserang kanker otak?

    Umumnya, pencegahan terhadap penyakit kanker dapat dilakukan dengan cara mengubah gaya hidup seperti menjaga berat badan normal atau berhenti merokok. Namun, belum diketahui perubahan gaya hidup seperti apa yang bisa mencegah atau menekan risiko seseorang terhadap tumor/kanker otak, kecuali:

    • Menghindari paparan terhadap pestisida dan insektida
    • Menghindari paparan zat kimia berbahaya yang bersifat karsinogen (pemicu kanker)
    •  <!--[endif]-->Menghindari paparan radiasi terutama pada bagian kepala

    Untuk mencegah munculnya risiko kanker lain yang bisa menyebar dan memicu timbulnya kanker otak, hindari pula kebiasaan merokok atau terpapar asap rokok.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 62

    Apa Gejala Kanker Tulang?

    Posted on Thu, 13.06.2019

    Kanker tulang bermula dari munculnya sel kanker yang merusak jaringan tulang dalam tubuh. Meski diketahui sebagai jenis kanker yang langka bila dibandingkan dengan jenis kanker lainnya (yakni hanya 1%), kanker tulang merupakan kanker yang paling banyak menyerang anak-anak dan remaja usia 10-19 tahun.

    Kanker tulang dapat menyerang jaringan tulang mana saja di seluruh tubuh, contohnya pada tulang padat, tulang rawan (kartilago), jaringan serat dan jaringan dalam sumsum tulang. Berdasarkan munculnya sel kanker, kanker tulang terbagi menjadi empat jenis yaitu:

    • Osteosarcoma

    Sel kanker jenis ini berawal dari jaringan osteoid pada tulang, sering terjadi pada lutut dan lengan atas. Anak-anak dan remaja usia 10 dan 19 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker tulang jenis ini.

    • Chondrosarcoma

    Sel kanker jenis ini berasal dari jaringan tulang rawan dan sering terjadi di bagian panggul, paha atas dan bahu. Kanker tulang Chondrosarcoma umumnya menyerang orang dewasa di atas 40 tahun.

    • Ewing Sarkoma

    Sel kanker terdapat dalam jaringan lunak (otot, lemak, jaringan fibrosa, pembuluh darah atau jaringan pendukung lainnya). Sarkoma ewing ini paling sering terjadi di bagian tulang punggung, panggul, tulang kaki dan lengan. Sel tumor atau kanker ini kerap menyebar ke bagian lain tubuh, termasuk paru-paru.

    • Chordoma

    Chordoma merupakan jenis kanker tulang yang langka, biasanya muncul di tulang punggung. Kanker tulang jenis ini biasanya menyerang orang dewasa di bagian sacrum (tulang punggung), di pangkal tengkorak,

    Gejala bila terserang kanker tulang

    Umumnya, kanker tulang menimbulkan gejala awal berupa nyeri di bagian tulang. Selain itu, muncul pembengkakan di bagian kulit lengan, dada atau pinggul disertai dengan demam. Kondisi tersebut juga bisa memicu risiko patah tulang dan penurunan berat badan yang mendadak.

    Bila Anda mendapati anak atau anggota keluarga yang mengalami keluhan di atas, periksakan segera kondisinya ke dokter. Tindakan yang dapat diberikan untuk memeriksa apakah seseorang benar atau tidak menderita kanker tulang biasanya beragam, bergantung pada gejala klinis yang dirasakan. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 61

    Hati-Hati Ancaman Kanker Kolorektal di Indonesia

    Posted on Thu, 13.06.2019

    Kanker kolorektal atau yang lebih dikenal sebagai kanker usus besar merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemui di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO tahun 2014, prevalensi penyakit kanker kolorektal di Indonesia mencapai urutan kedua terbanyak pada laki-laki setelah kanker paru-paru. Mengingat begitu tingginya prevalensi kanker kolorektal di negara ini, apa saja sih, yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker tersebut?

    Mengenal penyebab kanker usus besar (kolorektal)

    Kanker kolorektal merupakan kanker yang menyerang bagian usus besar (colon) atau dubur (rectal), yaitu bagian akhir dari sistem pencernaan. Kanker ini biasanya menyerang orang dewasa  dan lanjut usia, namun tidak berarti kanker ini tidak bisa dialami mereka yang masih muda.

    Kanker kolorektal bisa dipicu oleh faktor genetik atau keturunan yang menyebabkan pertumbuhan tidak normal pada sel-sel tubuh (mutasi sel). Sel yang bermutasi tersebut kemudian membentuk tumor dan merusak jaringan di sekitarnya. Sel kanker juga dapat berpindah dan menyerang bagian tubuh lainnya (metastasis).

    Selain faktor genetik, penyebab kanker kolorektal juga dapat berasal dari faktor luar. Menurut Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, kanker kolorektal merupakan kanker yang paling dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk di antaranya pola makan dan gaya hidup. Zat-zat penyebab kanker atau karsinogen masuk ke dalam saluran cerna hingga usus besar bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi setiap harinya. Begitu pula jika kita memiliki kebiasaan atau gaya hidup yang buruk.

    Ada beberapa faktor risiko terkait pola makan dan gaya hidup yang dapat memicu munculnya kanker kolorektal, yaitu:

    • Makan secara berlebihan hingga menyebabkan obesitas – Berat badan berlebih atau obesitas meningkatkan risiko kanker kolorektal karena tersimpannya lemak berlebih.

    • Jarang mengonsumsi makanan tinggi serat – Diet atau pola makan rendah serat membuat makanan jadi tersimpan lebih lama di dalam tubuh. Zat karsinogen dalam makanan bisa memicu sel-sel di sekitar usus dan memicu kanker.

    • Kerap mengonsumsi daging olahan – Konsumsi daging olahan (yang dimasak melalui proses pengawetan, fermentasi, pengasapan atau proses lain dengan tujuan untuk memperpanjang daya tahan) seperti sosis, kornet, daging ham secara berlebihan turut memicu risiko kanker kolorektal pada seseorang. Bahkan, WHO memperingatkan bahwa daging yang dimasak dengan temperatur atau panas terlalu tinggi dapat memunculkan senyawa berbahaya yang karsinogenik.

    • Memiliki kebiasaan buruk merokok dan minum minuman beralkohol.

    • Memiliki gaya hidup sedentari atau malas bergerak.

    Mencegah risiko kanker kolorektal

    Untuk mencegah terjadinya kanker kolorektal, terapkan gaya hidup sehat dengan membiasakan diri berolahraga, mengonsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayuran, juga hindari konsumsi makanan berlemak dan stop kebiasaan merokok. Selain itu, Anda juga bisa melakukan deteksi dini untuk mengetahui risiko kanker, juga untuk menghindari kemungkinan kanker bertambah parah hingga stadium lanjut. Deteksi dini kanker kolorektal bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu pemeriksaan rektal dengan jari, pemeriksaan darah atau DNA dalam tinja, endoskopi, pemeriksaan rontgen, atau CT scan.

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 58

    Apa 4 Jenis Kanker Terbesar di Indonesia? Cari tahu disini !

    Posted on Wed, 15.05.2019

    Video layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh Yayasan Kanker Indonesia.

    Terima kasih kepada Segenap Pengurus & Keluarga Besar Yayasan Kanker Indonesia

    Wardah (PT Paragon Technology and Innovation)

    Pembicara

    Prof. Dr. Aru W. Sudoyo (Ketua Umum YKI - Ahli Hematologi Onkologi Medik)

    Dr. dr. Sonar Soni Panigoro, Sp.B (K) Onk, MEpid, MARS. (Spesialis Bedah Onkologi)

    Dr. Nadia Ayu Mulansari (Ahli Hematologi Onkologi Medik)

    dr. Rebecca N. Angka M. Biomed (Penanggung Jawab Klinik Utama dan Sasana Marsudi Husada Yayasan Kanker Indonesia)

    Pratiwi Astar (Anggota HUMAS Yayasan Kanker Indonesia)

    dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed. (Anggota Bidang HUMAS Yayasan Kanker Indonesia)

    Production Team:

    VP Digital

    Good Rockets Production

    Copywriter: Muhamad Fahmi

     

    Copyright 2019

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 59

    Survivor YKI

    Posted on Wed, 15.05.2019

    Video layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh Yayasan Kanker Indonesia.

     

     

    Terima kasih kepada Segenap Pengurus & Keluarga Besar Yayasan Kanker Indonesia

    Wardah (PT Paragon Technology and Innovation)

    Survivor 1: Albert Charles Sompie

    Survivor 2: Martini Lim

    Production Team:

    VP Digital

    Good Rockets Production

    Copywriter: Muhamad Fahmi

     

    Video layanan masyarakat ini dipersembahkan oleh Yayasan Kanker Indonesia Copyright 2019

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 60

    Fenomena Rokok Elektronik di Masyarakat : Ancaman atau Solusi ?

    Posted on Wed, 15.05.2019

    Jakarta, 14 Mei 2019 – Indonesia tengah diserbu fenomena baru hadirnya rokok elektronik atau yang secara umum saat ini dikenal dengan vape. Ribuan toko vape tiba-tiba menjamur dan pengguna vape menjadi sangat umum. Produk baru ini disebut-sebut aman dibanding rokok konvensional dan bahkan bisa menjadi solusi berhenti merokok. Untuk meluruskan pemahaman ini, hari ini organisasi profesi kesehatan mengemukakan perspektifnya agar masyarakat mendapat informasi yang benar tentang rokok elektronik.

    WHO menyebutkan, peredaran rokok elektronik secara global saat ini tengah melambung. Peredarannya tersebar luas terutama di negara-negara berkembang, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

    Di Indonesia, ditemukan kasus anak-anak sekolah dasar mengonsumsi vape di sekolah. Peminat rokok elektronik secara dahsyat meningkat tajam yang diindikasikan dengan menjamurnya para penjual vape, baik di gerai-gerai maupun di toko online (BPOM, 2018). Mendapatnya sangat mudah dan tidak ada regulasi apapun yang mengaturnya kecuali pengenaan cukai 57% yang justru melegalisasi produk yang belum jelas keamanannya ini.

    Dalam berbagai kesempatan, para penjual dan produsen vape berkampanye menyebutkan produk ini lebih aman karena tidak mengeluarkan asap dan tidak beracun, serta sangat menganjurkan para perokok konvensional untuk pindah ke rokok elektronik untuk membantu berhenti merokok. Sayangnya, masyarakat tidak mendapat referensi untuk mengetahui fakta-fakta di balik informasi- informasi tersebut. Pemerintah juga belum membuat pernyataan yang tegas mengenai produk ini sebagai panduan kepada masyarakat dalam pemakaiannya.

    Dalam konferensi pers yang melibatkan tiga belas organisasi profesi kesehatan dan lembaga masyarakat diungkapkan bahwa rokok elektronik sama sekali bukan tidak berbahaya dan tetap mengandung bahan-bahan kimia yang memiliki dampak kesehatan.

    Seperti yang disampaikan Ketua Pokja Masalah Rokok PDPI dr Feni Fitriani Sp.P(K) dalam pengantar, “Rokok elektronik mengandung nikotin, bahan karsinogen/menyebabkan kanker (seperti propylene glycol, gliserol, formaldehid, nitrosamin dll) dan bahan toksik lain (seperti logam/heavy metals, silikat, nanopartikel dan particulate matter) yang merangsang iritasi dan peradangan serta menimbulkan kerusakan sel. Oleh karena itu, rokok elektronik berpotensi menimbulkan adiksi, meningkatkan risiko kanker, dan risiko kesehatan lainnya pada manusia.”

    Pernyataan tersebut disepakati oleh ahli kesehatan lainnya yang hadir dalam konferensi pers di Kantor PB Ikatan Dokter Indonesia, Jakarta, ini. Seperti yang disebutkan Ketua Umum PB Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Dr Sally Aman Nasution, SpPD-KKV, “Rokok elektronik memiliki substansi yang bersifat karsinogenesis sehingga memiliki risiko perubahan sel dan mencetuskan timbulnya beberapa kanker tertentu, seperti: kanker paru, mulut dan tenggorokan, dan juga gangguan di bidang pencernaan, sistem imun, dan timbulnya trombosis.”

    Senada dengan pendapat di atas, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. DR. Agus Dwi Susanto Sp.P(K), FAPSR, FISR, mengungkapkan, “Berbagai penelitian menunjukkan dampak rokok elektrik pada sistem paru dan pernapasan, seperti peningkatan peradangan/inflamasi, kerusakan epitel, kerusakan sel, menurunkan sistem imunitas lokal paru dan saluran napas, peningkatan hipersensitif saluran napas, risiko asma dan emfisema dan risiko kanker paru. Beberapa penelitian di populasi juga menunjukkan bahwa rokok elektrik menyebabkan iritasi saluran napas, meningkatkan gejala pernapasan, risiko bronkitis, asma serta risiko penyakit bronkiolitis obliterans dan infeksi paru.”

    Dr. dr. Erlina Burhan, MSc, SpP(K) dan Dr. dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP dari Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) menambahkan, “Terdapat 7x1011 zat radikal per-hirup rokok elektronik yang akan meningkatkan stres oksidatif dan memiliki efek pengubah status imun yang mirip dengan rokok reguler. Kandungan zat berbahaya dalam rokok elektronik, antara lain nikotin, dapat mengubah ekspresi beberapa gen, salah satunya ICAM-4 yang dapat meningkatkan penempelan bakteri TB. Kondisi tersebut membuat perokok berisiko 2x lipat untuk terinfeksi dan mati karena TB dibandingkan bukan perokok!”

    Mengenai anggapan bahwa rokok elektronik dapat menjadi alat bantu berhenti merokok, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) menolaknya. Disebutkan bahwa alih-alih berhenti merokok, berbagai penelitian di beberapa negara menunjukkan DUAL users rokok elektronik dan rokok konvensional. Sebagai contoh, Polandia, dari 30% remaja 15-19 th yang mengonsumsi rokok elektronik tahun 2013-2014, 72,4%nya adalah dual users. Studi UHAMKA pada remaja SMA di Jakrata tahun 2018 menemukan dari 11,8% perokok elektronik dimana 51%nya DUAL users. Ketua Umum PDPI, dr. Agus kembali menambahkan bahwa WHO dalam konferensi WHO Framework Convention On Tobacco Control tahun 2014 juga menyimpulkan bahwa tidak ada cukup bukti yang menyatakan rokok elektronik dapat membantu seseorang untuk berhenti merokok.

    Sementara itu, beredarnya penelitian tentang keamanan rokok elektronik terhadap kesehatan mulut dan gigi juga harus dipertanyakan. Sebab menurut Dr. drg. Didi Nugroho Santosa, MSc, Komisi Obat, Material, dan Alat Kedokteran Gigi Persatuan Dokter Gigi Indonesia, “Berdasarkan beberapa penelitian, rokok elektronik ternyata tetap berpengaruh negatif pada sel mukosa mulut dan tidak terbukti bahwa rokok elektronik merupakan cara yg tepat untuk menghentikan kebiasaan merokok konvensional.”

    Dalam konferensi pers hari ini, IAKMI juga mengingatkan untuk berhati-hati pada kampanye penggunaan rokok elektronik karena industri rokok konvensional justru berada di baliknya. British American Tobacco mengintegrasikan rokok elektronik ke dalam bisnis rokok konvensionalnya dengan menginvestasikan USD 1 Miliar dollar untuk pengembangan, mematok target pemasukan > 1 juta Pound (USD 1,79M) tahun 2018 dan > 5 juta Pound tahun 2022. Philip Morris (PMI) mendanai Foundation for Smoke Free World (FSFW) dengan tujuan menghentikan orang merokok dan memberikan dana penelitian untuk menambah bukti ilmiah. Bersamaan dengan pemasaran rokok konvensional, PMI juga memasarkan produk tembakau yang dipanaskan bernama IQOS.

    “Indonesia perlu mengambil sikap kehati-hatian. Dengan belum cukupnya bukti ilmiah tentang safety dan efficacy sebagai alat berhenti merokok karena waktu yang masih terlalu pendek, indonesia perlu mewaspadai klaim kesehatan yang menjebak,” jelas dr. Widyastuti Soerojo, IAKMI.

    Dr. Wahyuni Indawati, Sp.A(K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia mengungkapkan bahwa saat ini anak-anak adalah target utama produk ini. “Anak-anak selalu menjadi korban dan saatnya kita harus melindungi mereka dengan membuat aturan yang ketat mengenai promosi dan penjualannya. Mereka dibuat terlena oleh berbagai wangi buah dan permen, sehingga mereka tidak sadar dibuat sakit karena bahan-bakan kimia dan dibuat kecanduan oleh nikotin di dalamnya.”

    dr. Adhi Wibowo Nurhidayat, SpKJ(K), MPH dari Institute of Mental Health, Addiction, and Neuroscience (IMAN) mengingatkan bahwa rokok elektronik membuat penggunanya adiksi terhadap nikotin cair yang ada di dalamnya. Rokok elektronik juga menjadi cara masuk baru beragam jenis narkoba. Penelitian yang dilakukan oleh Blundell dkk (QJM, 2018) menunjukkan dari 861 responden yang diteliti, 39,5 persen menggunakan rokok elektronik untuk menghisap narkoba, baik narkoba tradisional (ganja, kokain, heroin) maupun narkoba jenis baru (ganja sintetis, katinona sintetis).

    Karena itu, dalam kesempatan ini, para dokter dari ahli kesehatan dan lembaga masyarakat juga memberikan rekomendasi kepada pemerintah untuk melarang peredaran rokok elektronik sampai kepastian keamanannya. “Melihat berbagai kerugian yang ditimbulkan oleh pemakaian rokok elektronik, kami menghimbau masyarakat Indonesia untuk tidak menggunakan rokok elektronik dan mengharapkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, mengambil keputusan yang tegas demi melindungi rakyat Indonesia dan mencegah terulang kembali eksploitasi industri rokok dalam produk yang berbeda dengan isi yang sama, yaitu zat adiktif nikotin,” tegas Dr. Daeng M Faqih, SH MH Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, seraya menutup acara.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 57

    Pemberitahuan Penelitian YKI

    Posted on Tue, 14.05.2019

    PEMBERITAHUAN

     

    Kepada calon peneliti yang ingin menggunkan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) sebagai tempat penelitian, topik yang berhubungan dengan Program Kegiatan/Promosi Kanker

    Namun, Yayasan Kanker Indonesia tidak mempunyai pasien, sehingga tidak tepat jika para peneliti melakukan penelitian dengan subjek penderita kanker. 

     

    Jakarta, Maret 2019

    dr. Elisna Syahrudin, PhD.Sp.P(K)

    Ketua Penelitian dan Registrasi Kanker

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 56

    Yayasan Kanker Indonesia Ajak Masyarakat Peduli dan Lakukan Deteksi Dini Kanker Kulit

    Posted on Tue, 14.05.2019

    Jakarta, 4 Mei 2019 – Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar Seminar bertajuk “Peduli Kanker Kulit” di Gedung Sasana Marsudi Husada, YKI, Jakarta Selatan dalam rangka memperingati Bulan Kanker Kulit.  Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengajak masyarakat meningkatkan pemahaman dan kepeduliannya dalam upaya pencegahan terhadap kanker kulit dengan menghadirkan DR. Dr. Aida SD Hoemardani, SpKK(K), Dr. Jeffery Beta Tenggara, SpPD-KHOM, dan DR. Dr. Fiastuti I. Witjaksono, SpGK dan Dr. Rebecca Angka, M. Biomed dari Yayasan Kanker Indonesia.

    Penanggung Jawab Klinik Utama dan Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada (SMH), Dr. Rebecca Angka, M.Biomed, menjelaskan, “Sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk peduli terhadap kanker kulit, karena penyakit ini dapat tumbuh pada bagian manapun di kulit tubuh, dan masyarakat cenderung mengabaikannya karena kerap diasosiasikan dengan penyakit kulit biasa, padahal penyakit ini dapat merenggut jiwa.”

    Menurut data Globocan 2018, terdapat 1392 kasus baru kanker kulit melanoma di Indonesia dengan 797 kematian. “Jumlah kasus baru kanker kulit melanoma maupun kematian yang diakibatkan tidaklah sedikit, sehingga sangatlah penting untuk melakukan deteksi dini kanker kulit dengan terus memperhatikan perubahan yang terjadi pada kulit, dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan medis yang benar,” ujar Dr. Rebecca Angka, M.Biomed.

    Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pembelahan sel abnormal yang tidak terkendali pada bagian tubuh tertentu. Kulit merupakan lapisan tubuh terluar yang mempunyai tiga lapisan. Setiap lapisan terdiri atas beberapa sel yang masing-masing dapat menjadi kanker kulit apabila terdapat faktor genetik dan faktor lingkungan yang berinteraksi.  Faktor lingkungan yang terkenal menyebabkan kanker kulit adalah sinar matahari (sinar ultraviolet), namun juga zat kimia, virus, trauma dan lain-lain. Adapun faktor genetik adalah gen-gen yang terdapat dalam badan kita yang dapat diturunkan.

    DR. Dr. Aida SD Hoemardani, SpKK(K), dari RS Kanker Dharmais menjelaskan tentang cara mencegah agar kulit kita tidak terkena kanker kulit yang meliputi pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer adalah menghindari sinar matahari dengan jalan berlindung pada saat matahari bersinar yaitu antara jam 09.00-16.00, misalnya dengan memakai payung atau topi, mengenakan baju tertutup dan menggunakan sunscreen (tabir surya). Untuk menghindari faktor trauma pada telapak kaki dianjurkan penggunaan alas kaki misalnya sandal atau sepatu.

     

    Pencegahan sekunder dilakukan dengan mengangkat kelainan kulit yang diduga dapat berkembang menjadi kanker. Untuk mengetahui apakah ada kelainan kulit dilakukan pemeriksaan kulit sendiri atau SAKURI ke seluruh tubuh mulai dari kulit kepala sampai ke telapak kaki.

    “Melalui pencegahan primer dan sekunder, kelainan kulit yang dapat dilihat adalah bercak atau benjolan yang makin lama makin membesar; benjolan yang mudah berdarah; benjolan dengan luka yang tidak sembuh-sembuh, dan kelainan kulit dengan gejala ABCDE untuk kanker kulit melanoma,” jelas DR.  Aida.

    Gejala ABCDE adalah kepanjangan dari kelainan kulit yang (A) Asimetris; (B) Border atau tepi tidak teratur; (C) Color atau warna bermacam-macam; (D)  Diameter lebih dari 6  mm atau difference (berbeda dari kelainan kulit yang lain); dan (E)  Elevation yaitu meninggi atau evolving (berkembang).

    Sesudah ditemukan kelainan kulit yang mencurigakan maka kelainan tersebut dapat dikonfirmasi kepada dokter kulit yang akan memeriksa dengan pemeriksaan dermoskopi.

    “Pemeriksaan dermoskopi diperlukan untuk menentukan kelainan tersebut apakah jinak, potensial menyebabkan kanker kulit ataupun ganas. Bila diperkirakan potensial berkembang menjadi kanker kulit maka kelainan tersebut dapat diobati misalnya dengan obat-obatan topikal atau mengangkat dengan bedah listrik, bedah beku maupun bedah pisau ataupun laser, dan bila ganas, maka kelainan tersebut akan ditangani sebagai kanker kulit,” jelas DR. Aida.

    Dalam penutupan seminar YKI bertajuk Peduli Kanker Kulit tersebut, para pembicara kembali mengingatkan pentingnya pencegahan kanker kulit dengan melakukan deteksi dini, baik dengan melakukan pencegahan primer dan pencegahan sekunder. “Masyarakat perlu selalu menyadari bahwa mencegah lebih dari dari mengobati,” tutup Dr. Rebecca Angka, M.Biomed.

    Selengkapnya >>