YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 52

Mengenal Kanker Pankreas dan Penyebabnya

Posted on Mon, 12.11.2018

Kanker pankreas dimulai saat sel abnormal kanker muncul di jaringan pankreas—organ yang terletak melintang di perut  bagian bawah. Pankreas berfungsi untuk memproduksi enzim pencernaan dan hormon untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh.

Penyakit kanker pankreas kerap menyerang mereka yang berusia 50 tahun atau lebih. Menurut data dari American Cancer…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 52

    Mengenal Kanker Pankreas dan Penyebabnya

    Posted on Mon, 12.11.2018

    Kanker pankreas dimulai saat sel abnormal kanker muncul di jaringan pankreas—organ yang terletak melintang di perut  bagian bawah. Pankreas berfungsi untuk memproduksi enzim pencernaan dan hormon untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh.

    Penyakit kanker pankreas kerap menyerang mereka yang berusia 50 tahun atau lebih. Menurut data dari American Cancer Society, prevalensi penyakit kanker pankreas di Amerika sendiri mencapai 55.400 orang dan menyumbang 7% dari seluruh kasus kematian akibat kanker.

    Meski penyakit ini kerap dialami orang yang telah berusia lanjut, mereka yang memiliki sejumlah faktor risiko berikut juga dapat terserang kanker pankreas di segala usia:

    • Memiliki kebiasaan merokok

    Risiko terserang kanker pankreas dua kali lebih besar jika Anda adalah seorang perokok. Menurut data American Cancer Society, 20-30% dari total kasus kanker pankreas disebabkan oleh kandungan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh perokok.

    • Obesitas atau kelebihan berat badan

    Kondisi kelebihan berat badan atau kondisi obesitas juga bisa memicu munculnya kanker pankreas. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Imperial College London dan University of Leeds, orang dengan BMI tinggi atau menderita obesitas memiliki risiko 70% lebih tinggi terhadap kanker pankreas.

    • Diabetes mellitus/penyakit gula yang tidak terkontrol dengan baik

    Diabetes merupakan penyakit yang semakin banyak diidap masyarakat Indonesia, juga menjadi faktor risiko penyebab kanker pankreas.

    Selain ketiga faktor tersebut, berikut adalah faktor risiko terserang kanker pankreas yang tidak dapat diubah:

    • Memiliki riwayat kanker pankreas di keluarga

    Faktor risiko berupa kondisi genetik, di mana terdapat riwayat keluarga yang juga pernah menderita kanker pankreas juga bisa memicu munculnya sel kanker di pankreas.

    • Usia

    Risiko terkena kanker pankreas semakin tinggi saat seseorang bertambah tua. Umumnya, penderita kanker pankreas adalah mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, sementara dua-pertiganya berusia 50 tahun.

    • Jenis kelamin pria

    Pria memiliki kecenderungan terserang kanker pankreas lebih tinggi dibanding wanita. Faktor ini dilihat dari kecenderuangan pria yang lebih sering merokok dibanding wanita.

    Gejala kanker pankreas seringkali tidak terdeteksi dan baru terasa saat stadium lanjut. Saat sel kanker sudah semakin membesar dan akhirnya menimbulkan gejala, sel kanker akan menginfeksi bagian tubuh lain.

    Gejala kanker pankreas:

    • Penyakit kuning. Sel kanker dalam pankreas menghambat saluran yang mengalirkan cairan empedu ke usus. Karenanya, cairan dalam saluran empedu berkumpul di darah. Kondisi ini akan menyebabkan kulit terlihat berwarna kuning.
    • Nyeri perut
    • Sakit punggung
    • Perut kembung
    • Mual & muntah
    • Nafsu makan berkurang dan berat badan turun

     Agar tidak sampai menderita kanker pankreas, Anda dapat melakukan pencegahan dengan cara menghindari kebiasaan merokok, menjaga berat badan dan menerapkan pola makan sehat dengan nutrisi seimbang. Bagi penderita diabetes,  sangat dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap terkontrol agar tidak memperparah risiko terserang kanker pankreas.

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 51

    YKI Terapkan Empat Pilar Utama Penanggulanan Kanker di Indonesia

    Posted on Fri, 02.11.2018

    Jakarta, 31 Oktober 2018 – Pada tanggal 1 sampai 4 Oktober 2018 telah berlangsung World Cancer Congress 2018 (WCC) di Kuala Lumpur, Malaysia, yang menghasilkan resolusi bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk menerapkan empat pilar utama penanggulangan kanker di Indonesia.

    WCC merupakan konperensi tingkat internasional yang diakui dan mendorong adanya pertukaran pengetahuan secara efektif dan praktik-praktik terbaik diantara 3.500 pakar kesehatan dan pakar pengendalian kanker dunia. Tujuan dari WCC adalah untuk memperkuat aksi dan dampak komunitas kanker pada skala nasional, regional dan internasional melalui program edukasi yang mencakup seluruh hal terkait kanker, mulai dari pencegahan hingga perawatan paliatif.

    Penanggulangan kanker menjadi sangat penting di Indonesia. Menurut WHO jumlah pengidap kanker tiap tahun bertambah 7 juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang. Di Indonesia, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Menurut data GLOBOCAN 2018, dengan populasi Indonesia yang lebih dari 260 juta, terdapat hampir 350.000 kasus kanker baru dan lebih dari 207.000 kematian.  Sementara jumlah prevalensi selama 5 tahun adalah sebesar 775.000+ kasus. Adapun menurut WHO (2003) di negara-negara berkembang kasus kanker meningkat secara tajam yaitu lebih dari 50%, dari 10 juta kasus pada tahun 2000 menjadi 16 juta pada tahun 2020.

    Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP selaku Ketua Umum YKI menjelaskan, “Meningkatnya kasus kanker secara drastis patut menjadi perhatian segenap masyarakat. Yayasan Kanker Indonesia mempunyai visi untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap penyakit kanker, dan menjalankan misi untuk melakukan segala upaya peningkatan pemahaman publik melalui program sosialisasi tentang pentingnya pencegahan kanker, dan melakukan kegiatan pendukung yang menekankan pada pentingnya deteksi dini kanker mengingat kanker dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini.”

    Sementara perawatan terhadap pasien kanker harus terus diperhatikan dari sisi kualitas dan aksesibilitas, perawatan paliatif-pun merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. Perawatan paliatif sekarang sudah menjadi bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien tidak menular seperti kanker.

    Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik sebagai kebutuhan manusiawi dan hak asasi bagi penderita penyakit yang sulit disembuhkan atau sudah berada pada stadium lanjut.

    “Sebagai anggota aktif dari The Union for International Cancer Control atau UICC dalam World Cancer Congress 2018, Yayasan Kanker Indonesia mencatat empat pilar penanggulangan kanker yang pelaksanaannya perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan yang dapat mempercepat terciptanya Perawatan Bagi Semua Orang atau Treatment for All,” ujar Prof. Aru Sudoyo.

    Keempat pilar penanggulangan kanker adalah: (1) data kanker yang lebih akurat untuk kebutuhan kesehatan publik; (2) akses terhadap deteksi dini dan diagnosa; (3) perawatan tepat waktu dan akurat; (4) perawatan suportif dan paliatif.

    Pilar pertama perlu didukung kemampuan dan kesungguhan dalam melaksanakan riset yang mendalam secara konsisten. Pilar kedua menjadi penting mengingat kondisi yang ditemukan adalah bahwa hampir sebagian penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti yang diharapkan meskipun tata laksana kanker telah berkembang dengan pesat.  

    “Catatan yang perlu mendapat perhatian pada pilar ketiga dan keempat yaitu peran nutrisi. Nutrisi merupakan faktor esensial dalam pengobatan pasien kanker. Peran nutrisi dalam melindungi pasien kanker sangat menentukan efektif atau tidaknya terapi kemo atau radiasi secara maksimal, mengingat keberhasilan terapi sangat berhubungan dengan kondisi imunitas pasien yang erat kaitannya dengan peran nutrisi. Strategi “Cancer Starvation” melalui diet menghindari gula, daging merah dan produk-produk yang mengandung susu, perlu diterapkan dan menggantinya dengan berbagai produk yang mengandung selenium , zinc, magnesium, vitamin-vitamin dan antioksidan,” jelas Prof. Aru Sudoyo.

    Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia perlu memberikan dukungan terhadap perawatan paliatif agar pasien kanker memiliki kualitas hidup yang lebih baik, khususnya dengan melibatkan pemerintah untuk menerapkan ‘Kebijakan Perawatan Paliatif Nasional’, termasuk melengkapi Program Paliatif Andalan dengan Terapi Nutrisi; membangun koalisi advokasi untuk mendukung peningkatan perawatan suportif dan paliatif kanker; dan meningkatkan pemahaman masyarakat dan praktisi kesehatan akan tanda-tanda dan gejala-gejala kanker untuk melakukan deteksi dini dan rujukan yang tepat waktu, sehingga dapat mengurangi permintaan terhadap perawatan paliatif di Indonesia.

    Yayasan Kanker Indonesia telah mengadakan program perawatan paliatif di rumah sejak tahun 1995 yang berlokasi di Yayasan Kanker Indonesia Lebak Bulus, Jakarta. YKI memiliki potensi sumber daya manusia dan memiliki hubungan baik dengan organisasi profesi kesehatan lainnya untuk memberikan program pelatihan perawatan paliatif untuk pasien kanker perawatan di rumah.

    Terkait dengan hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia terus melakukan pengembangan program perawatan paliatif di YKI Cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2017, YKI telah melaksanakan kegiatan pelatihan di beberapa cabang YKI, yakni Kupang, Palembang, Makassar dan Bandung. Sedangkan di tahun 2018 YKI berencana melaksanakan kegiatan pelatihan di Semarang, Jakarta, Tanjung Pinang – Kepulauan Riau, dan Lampung.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 50

    Penyerahan Donasi Program Peduli Kanker Indomaret

    Posted on Thu, 01.11.2018

    Yayasan Kanker Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Indomaret yang sudah melakukan pengumpulan donasi dalam Program Peduli Kanker dan telah melakukan proses penyerahan hasil donasi sebesar Rp. 4.309.973.129 pada 30 oktober 2018 kepada Yayasan Kanker Indonesia. Bantuan dana tersebut akan disalurkan untuk pembangunan rumah singgah bagi penderita kanker di Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada -Jakarta, dan pengadaan mobil khusus untuk operasional dan antar jemput pasien kanker di Bandung.

    Salam sejahtera dari kami selaku penerima donasi untuk seluruh pelanggan Indomaret yang sudah berpartisipasi dalam program ini.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 49

    Mewaspadai Penyebab Kanker Hati

    Posted on Wed, 17.10.2018

    Hingga kini penyakit kanker masih tercatat sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia. Menurut data WHO, terdapat lima jenis kanker yang menyebabkan 9,6 juta kasus kematian sepanjang tahun 2018, dengan kanker hati berada pada urutan keempat—sebanyak 782.000 kematian. (GLOBOCAN 2018)

     Melihat begitu banyaknya kasus kematian akibat kanker ini, sebenarnya bagaimanakah kanker hati berawal dan bagaimana cara mencegahnya?

    Penyebab kanker hati

    Kanker hati diawali oleh munculnya sel-sel abnormal kanker di jaringan hati manusia. Munculnya sel kanker ini bisa berawal dari organ hati saja (disebut sebagai kanker hati primer, hepatocellular carcinoma) atau dari organ tubuh lain yang kemudian menyebar ke hati (disebut dengan kanker hati sekunder, metastatic liver cancer). Kanker hati primer merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sebagai komplikasi penyakit Hepatitis yang juga menyerang organ hati manusia. Selain Hepatitis, faktor pemicu kanker hati adalah:

    • Cacat lahir
    • Kebiasaan merokok
    • Konsumsi alkohol berlebihan
    • Infeksi kronis hemochromatosis (penyakit turunan di mana ada terlalu banyak zat besi di hati)
    • Sirosis hati

     Selain faktor-faktor di atas, sejumlah hal juga dapat meningkatkan risiko Anda terserang kanker hati, yaitu:

    • Jenis kelamin laki-laki lebih rentan alami kanker hati daripada perempuan.
    • Berat badan berlebih atau obesitas bisa meningkatkan risiko kanker hati.
    • Ras Asia-Amerika lebih rentan terhadap risiko kanker hati.
    • Penggunaan steroid anabolik pada atlet bisa meningkatkan risiko terserang kanker hati.
    • Memiliki riwayat diabetes atau penyakit kencing manis.
    • Adanya gangguan metabolisme.

    Jenis kanker hati sekunder atau metastatic liver cancer muncul akibat sel kanker yang berasal dari organ lain seperti pankreas, usus, lambung, payudara atau paru-paru. Penderita kanker jenis ini umunya akan ditangani dengan pengangkatan tumor di organ utama tempat sel kanker berasal.

    Mencegah risiko kanker hati

    Karena salah satu pemicu penyakit kanker hati primer adalah virus menular Hepatitis, baik Hepatitis B maupun Hepatitis C, maka hal yang perlu dilakukan demi mencegah risiko kanker hati adalah dengan menghindari faktor pemicu penyakit Hepatitis. Virus Hepatitis B (HBV) maupun Hepatitis C (HVC) dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui penggunaan jarum suntik yang sama, hubungan seks tanpa kondom dan penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna obat-obatan terlarang (narkoba). Karenanya, hindari penggunaan satu jarum suntik yang sama saat melakukan donor atau transfusi darah, hindari berhubungan seksual secara bebas atau tanpa kondom, dan berikan vaksin hepatitis B kepada anak Anda sejak kecil untuk mencegahnya terjangkit hepatitis dan kanker hati saat dewasa. Yang tak kalah penting, jauhi lingkungan yang dapat menjerumuskan Anda pada penggunaan narkotika.

    Selain itu, cara yang dapat Anda lakukan untuk menghindari risiko terserang kanker hati adalah:

    1. Hindari kebiasaan minum minuman beralkohol
    2. Berhenti merokok
    3. Menjaga berat badan normal
    4. Menerapkan gaya hidup sehat (makan makanan  bergizi, olahraga dan tidur teratur)
    5. Melakukan pengobatan pada gangguan/penyakit hati yang diderita sejak dini

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 48

    Pentingnya Menjaga Kualitas Hidup Pasien dan Modalitas Terapi Kanker Tiroid

    Posted on Wed, 10.10.2018

    JAKARTA, 10 Oktober 2018 – Yayasan Kanker Indonesia  (YKI) pada hari Selasa, 9 Oktober 2018 menggelar diskusi ilmiah bertajuk “Pentingnya Peningkatan Kualitas Hidup” dan “Perlunya penangangan yang tepat dengan berbagai modalitas Terapi Kanker Tiroid” berlangsung di Sasana Marsudi Husada, YKI Lebak Bulus.

    Diskusi ilmiah bertema Kanker Tiroid menghadirkan Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP yang membawakan makalah mengenai “Terapi Sistemik pada Pasien Kanker Tiroid”; Dr. Hapsari Indrawati, SpKN dengan topik “Ablasi pada Pasien Kanker Tiroid dan Bagaimana mengatasi gejala Hipotiroid” dan DR. dr. Sonar S. Panigoro dengan topik “Peran Pembedahan pada Kanker Tiroid”, dengan lebih dari 100 penyintas kanker tiroid sebagai peserta.

    Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP menyampaikan, “Gaya hidup sehat merupakan kunci terhadap pencegahan terkena kanker tiroid yang lebih banyak menyerang gender wanita, mereka yang terkena pajanan terhadap radiasi berkekuatan tinggi, dan sindrom genetika yang diturunkan. Jika kanker tiroid ditemukan, pengobatan yang tersedia meliputi pembedahan, yodium radioaktif, hormon tiroid, radioterapi luar, kemoterapi atau dengan terapi target atau sasaran khusus.”

    Saat seseorang terkena kanker tiroid, maka akan mengganggu hormon tiroid dan menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kadar hormon tiroksin di dalam tubuh sangat tinggi.  Hal ini menyebabkan hiperaktifitas atau hiperiritasi, penderita menjadi tidak tahan udara panas, jantung berdetak cepat, lekas lelah dan lemah, turunnya berat badan meski nafsu makan naik, diare, poliuria atau meningkatnya buang air kecil secara berlebih, menstruasi tidak teratur, dan hilangnya libido.

    Sementara itu, hipotiroidisme adalah kondisi dimana kelenjar tiroid tidak membuat hormon tiroid dengan cukup. Tanda-tandanya tubuh lekas lelah dan lemah, kulit kering, merasa kedinginan terus, rambut rontok, sulit konsentrasi dan daya ingat berkurang, konstipasi, berat badan bertambah meski nafsu makan berkurang, suara serak, menstruasi tidak teratur, sensasi abnormal berupa kesemutan, tertusuk, atau terbakar pada kulit, gangguan pendengaran, muka sembab, turunnya refleks urat, jari tangan mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri, denyut jantung dibawah 60 per menit, dan efusi pleura -penumpukan cairan diantara dua lapisan pleura yang membungkus paru-paru. 

    Lebih lanjut Prof. Aru menerangkan tentang sejumlah faktor makanan yang memicu dan dapat meningkatkan risiko kanker seperti alkohol yang dapat mempengaruhi kesehatan mulut, tekak, pangkal tenggorokan saluran kerongkongan, hati, payudara, usus besar dan dubur; sementara garam yang berlebih berpengaruh terhadap kesehatan lambung; gula yang berlebih terhadap usus besar dan dubur; daging yang dipanggang dengan arang berkemungkinan berpengaruh terhadap usus besar dan dubur; lemak total dan lemak jenuh berpengaruh terhadap kesehatan paru-paru, usus besar, dubur, payudara dan prostat.

    Adapun faktor makanan yang berhubungan dengan pengurangan risiko kanker meliputi makanan berserat yang bermanfaat bagi kesehatan kolorektal, pankreas dan payudara; asam folik untuk kesehatan serviks dan kolorektal; Vitamin D dan kalsium untuk kolorektal dan payudara; antioksidan baik yang bersifat nutrisi dan non-nutrisi dari makanan baik untuk kesehatan kolorektal, paru-paru, payudara, serviks, prostat, kerongkongan dan lambung; vitamin C yang bersumber dari makanan untuk kesehatan mulut, kerongkongan, paru-paru, lambung, pankreas dan serviks; the (flavonoids) baik untuk kesehatan paru-paru dan kolorektal; dan zat Alpha-tocopherol baik untuk paru-paru; serta isoflavon kedelai untuk kesehatan payudara. Sedangkan penyebab kanker lainnya termasuk rokok (160.000 dari 514.000 kematian karena kanker disebabkan oleh rokok); kurang berolah raga; dan obesitas.

    Sementara itu DR. dr. Sonar S. Panigoro yang membawakan topik “Peran Pembedahan pada Kanker Tiroid” mengatakan, “Penanganan tumor padat diawali dari penemuan klinis, biopsi dan imajing untuk diagnosis kanker, dilanjutkan dengan penentuan stadium, penentuan jenis pengobatan apakah dilanjutkan dengan bedah, radiasi, atau hormonal kemoterapi.  Namun berdasarkan pengalaman, sebagian besar benjolan tiroid bersifat jinak, dan hanya 10%-15% yang ganas sehingga perlu tindakan pembedahan.”

    DR. Sonar menjelaskan bahwa benjolan tiroid yang tidak ditangani pada pasien dengan riwayat radiasi leher dengan usia muda atau lanjut, benjolan dapat bertambah besar, terjadi pembesaran kelenjar getah bening leher, suara serak, dan mengalami kesulitan makan dan minum.

    Dalam pemaparan bertajuk “Ablasi pada Pasien Kanker Tiroid dan bagaimana mengatasi gejala Hipotiroid”, Dr. Hapsari Indrawati, SpKN menjelaskan bahwa menurut data American Cancer Society 2007, terdapat 33,550 kasus baru dalam kanker tiroid yang menyebabkan 1,530 kematian. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker tiroid terus meningkat, meski jumlah kematian akibat kanker tiroid relatif stabil.”

    Dr. Hapsari berfokus pada penjelasan mengenai terapi Radioiodine (I-131) yang sudah umum digunakan untuk menghancurkan sisa jaringan tiroid di lapang operasi pasca pembedahan tiroid total atau near-total, dimana tujuannya adalah untuk menurunkan kemungkinan kekambuhan lokal dan memperbaiki kondisi pasien dengan metastasis (penyebaran).

    Dr. Hapsari menekankan pentingnya untuk terus mengkonsumsi hormon tiroid sepanjang hidup pasien agar tidak terkena gejala hipotiroid yang dapat menyebabkan pasien lemah, bertambah berat badan, produktifitas kerja berkurang, kenaikan tingkat TSH (Thyroid Stimulating Hormone).

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 47

    Treatment for All

    Posted on Mon, 08.10.2018

    UICC’s Treatment for All advocacy campaign calls for the translation of global commitments into national action through the concerted efforts of its membership and the wider cancer community. This film presents Treatment for All on the global stage, with participation from its first Country Champions in Indonesia, Mexico and Uganda.

     

    Learn more at uicc.org/TreatmentforAll. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 46

    Media Indonesia : Meringankan Beban Pasien Kanker dengan Rumah Singgah

    Posted on Mon, 08.10.2018

     

    Tidak sedikit penderita penyakit kanker dari luar Jakarta yang harus menjalani pengobatan di Jakarta, karena belum lengkapnya fasilitas pengobatan yang tersedia di daerahnya. Namun begitu sampai di ibukota, muncul kendala yang dialami penderita karena biaya hidup yang tinggi serta tempat tinggal/penginapan selama menjalani pengobatan. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) mencoba membantu meringankan beban penderita kanker dengan menyediakan Sasana Marsudi Husada (SMH) sebagai Rumah Singgah Pasien Kanker yang berlokasi di kawasan Lebak Bulus Tengah, Cilandak, Jakarta Selatan.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 41

    Peresmian Rumah Singgah YKI untuk Para Penderita Kanker

    Posted on Fri, 28.09.2018

    Pasien penyakit kanker membutuhkan perawatan khusus yang mumpuni. Namun seringkali, mereka yang menderita kanker tinggal di daerah-daerah dengan beragam keterbatasan, termasuk fasiltasitas kesehatan yang belum memadai untuk mengobati kanker yang diderita.

    Berdasarkan hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia  (YKI) pada Sabtu, 8 September 2018 membangun dan meresmikan sebuah Rumah Singgah untuk penderita kanker yang terletak di Jalan Lebak Bulus Tengah, Cilandak Jakarta Selatan. 

    Peresmian rumah singgah yang diberi nama Sasana Marsudi Husada ini dilakukan oleh Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah dan disaksikan segenap pengurus YKI, serta perwakilan Kementerian Kesehatan RI, instansi pemerintah dan swasta terkait lainnya. Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP dalam sambutannya menyampaikan, “Kami sangat bahagia dengan diresmikannya rumah singgah Sasana Marsudi Husada YKI, yang baru saja selesai pemugarannya sejak berdiri 35 tahun lalu. Keberadaan rumah singgah Sasana Marsudi Husada sedari awal merupakan upaya mewujudkan misi Yayasan Kanker Indonesia sebagai tempat tinggal sementara bagi pasien kanker dari luar kota yang sedang menjalani pengobatan di Jakarta karena belum lengkapnya fasilitas pengobatan yang tersedia di daerahnya, sebagai tempat penginapan yang layak dan murah bagi pasien yang sebagian besar tidak mampu.”

    Sementara itu Ketua Tim Pembangunan Prof. dr. Abdul Muthalib, SpPD, KHOM mengatakan, “YKI berterima kasih kepada masyarakat dan segenap pihak yang telah ikhlas sebagai donatur pembangunan rumah singgah Sasana Marsudi Husada, sehingga lebih banyak pasien kanker yang dapat kita bantu bersama.”

    Rumah singgah Sasana Marsudi Husada terdiri dari 3 lantai.  Lantai pertama terdiri atas 10 kamar standard an 4 kamar VIP; lantai 2 terdiri atas 4 kamar untuk paliatif serta aula berkapasitas 100 orang yang dapat dibagi menjadi 3 ruang kelas untuk pendidikan dan pelatihan; dan lantai 3 berupa aula tempat pertemuan berkapasitas 100 orang sebagai ruang pertemuan dan pelatihan.

    Selain sebagai rumah singgah, Sasana Marsudi Husada YKI juga digunakan untuk melakukan upaya preventif promotif dan suportif penyakit kanker. “Harapan kami, gedung Sasana Marsudi Husada baru dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat khususnya pasien-pasien kanker yang membutuhkan dan dapat membantu pemerintah dalam upaya menanggulangi masalah kanker di Indonesia,” Prof. Aru Sudoyo menyimpulkan.

    Sekilas Perjalanan Pembangunan Kembali Sasana Marsudi Husada

    Rumah singgah Sasana Marsudi Husada (SMH) pertama diresmikan pada tanggal 12 Mei 1982 dengan 16 kamar berkapasitas 34 tempat tidur, dengan biaya Rp 30.000,-/orang/hari termasuk 3x makan, 2x snack dan transportasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pulang pergi dengan didampingi seorang perawat.

    Rata-rata seorang pasien tinggal di SMH selama 4-5 bulan sebelum akhirnya kembali ke daerahnya untuk melanjutnya pemeriksaan rutin.  Sebagian besar pasien berasal dari keluarga kurang bahkan tidak mampu sehingga tidak dapat membayar biaya penginapan. Tidak jarang YKI harus mencarikan donatur untuk biaya transportasi pasien dan pendampingnya kembali ke daerah asalnya.  YKI senantiasa berterima kasih kepada para donatur yang rutin membantu dengan ikhlas sejak SMH berdiri.

    Sejak berdiri hingga tahun 2012, tidak pernah ada pekerjaan perbaikan yang berarti, sehingga bangunan SMH semakin lapuk dimakan usia. Pada tanggal 2 Maret 2012 dibentuklah Tim Asistensi yang bertugas  membantu Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia mengelola Unit Pelaksana Teknis Yayasan Kanker  Indonesia yaitu Pusat Diagnostik Dini  yang sekarang bernama Klinik Utama Yayasan Kanker Indonesia dan Sasana Marsudi Husada.

    Sejak Pembentukan Tim Pembangunan Sasana Marsudi Husada pada tanggal 11 Desember 2016, kerja pembangunan dimulai dengan acara Peletakkan Batu Pertama pada tanggal 25 Februari 2017.  Berkat bantuan para donatur, YKI berani merubuhkan gedung lama untuk membangun gedung baru berlantai tiga, akhirnya pembangunan selesai dalam waktu 1 tahun 5 bulan dan diresmikan pada 8 September 2018. 

    Dengan diresmikannya Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada, Yayasan Kanker Indonesia ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada para donatur PT. Indomarco Prismatama, PT. Matahari Putra Prima, PT. Arkonin, PT. Arwana, PT. Surya Pertiwi, PT. Jotun Indonesia, PT. Indocement Indonesia, YKI cabang DKI Jakarta serta kepada Ir. Miming Kartawinata yang sudah membantu kami sejak perencanaan awal menggambar design gedung, serta pada donatur-donatur lainnya.

    Selengkapnya >>