YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 52

Mengenal Kanker Pankreas dan Penyebabnya

Posted on Mon, 12.11.2018

Kanker pankreas dimulai saat sel abnormal kanker muncul di jaringan pankreas—organ yang terletak melintang di perut  bagian bawah. Pankreas berfungsi untuk memproduksi enzim pencernaan dan hormon untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh.

Penyakit kanker pankreas kerap menyerang mereka yang berusia 50 tahun atau lebih. Menurut data dari American Cancer…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 52

    Mengenal Kanker Pankreas dan Penyebabnya

    Posted on Mon, 12.11.2018

    Kanker pankreas dimulai saat sel abnormal kanker muncul di jaringan pankreas—organ yang terletak melintang di perut  bagian bawah. Pankreas berfungsi untuk memproduksi enzim pencernaan dan hormon untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh.

    Penyakit kanker pankreas kerap menyerang mereka yang berusia 50 tahun atau lebih. Menurut data dari American Cancer Society, prevalensi penyakit kanker pankreas di Amerika sendiri mencapai 55.400 orang dan menyumbang 7% dari seluruh kasus kematian akibat kanker.

    Meski penyakit ini kerap dialami orang yang telah berusia lanjut, mereka yang memiliki sejumlah faktor risiko berikut juga dapat terserang kanker pankreas di segala usia:

    • Memiliki kebiasaan merokok

    Risiko terserang kanker pankreas dua kali lebih besar jika Anda adalah seorang perokok. Menurut data American Cancer Society, 20-30% dari total kasus kanker pankreas disebabkan oleh kandungan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh perokok.

    • Obesitas atau kelebihan berat badan

    Kondisi kelebihan berat badan atau kondisi obesitas juga bisa memicu munculnya kanker pankreas. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Imperial College London dan University of Leeds, orang dengan BMI tinggi atau menderita obesitas memiliki risiko 70% lebih tinggi terhadap kanker pankreas.

    • Diabetes mellitus/penyakit gula yang tidak terkontrol dengan baik

    Diabetes merupakan penyakit yang semakin banyak diidap masyarakat Indonesia, juga menjadi faktor risiko penyebab kanker pankreas.

    Selain ketiga faktor tersebut, berikut adalah faktor risiko terserang kanker pankreas yang tidak dapat diubah:

    • Memiliki riwayat kanker pankreas di keluarga

    Faktor risiko berupa kondisi genetik, di mana terdapat riwayat keluarga yang juga pernah menderita kanker pankreas juga bisa memicu munculnya sel kanker di pankreas.

    • Usia

    Risiko terkena kanker pankreas semakin tinggi saat seseorang bertambah tua. Umumnya, penderita kanker pankreas adalah mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, sementara dua-pertiganya berusia 50 tahun.

    • Jenis kelamin pria

    Pria memiliki kecenderungan terserang kanker pankreas lebih tinggi dibanding wanita. Faktor ini dilihat dari kecenderuangan pria yang lebih sering merokok dibanding wanita.

    Gejala kanker pankreas seringkali tidak terdeteksi dan baru terasa saat stadium lanjut. Saat sel kanker sudah semakin membesar dan akhirnya menimbulkan gejala, sel kanker akan menginfeksi bagian tubuh lain.

    Gejala kanker pankreas:

    • Penyakit kuning. Sel kanker dalam pankreas menghambat saluran yang mengalirkan cairan empedu ke usus. Karenanya, cairan dalam saluran empedu berkumpul di darah. Kondisi ini akan menyebabkan kulit terlihat berwarna kuning.
    • Nyeri perut
    • Sakit punggung
    • Perut kembung
    • Mual & muntah
    • Nafsu makan berkurang dan berat badan turun

     Agar tidak sampai menderita kanker pankreas, Anda dapat melakukan pencegahan dengan cara menghindari kebiasaan merokok, menjaga berat badan dan menerapkan pola makan sehat dengan nutrisi seimbang. Bagi penderita diabetes,  sangat dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap terkontrol agar tidak memperparah risiko terserang kanker pankreas.

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 49

    Mewaspadai Penyebab Kanker Hati

    Posted on Wed, 17.10.2018

    Hingga kini penyakit kanker masih tercatat sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia. Menurut data WHO, terdapat lima jenis kanker yang menyebabkan 9,6 juta kasus kematian sepanjang tahun 2018, dengan kanker hati berada pada urutan keempat—sebanyak 782.000 kematian. (GLOBOCAN 2018)

     Melihat begitu banyaknya kasus kematian akibat kanker ini, sebenarnya bagaimanakah kanker hati berawal dan bagaimana cara mencegahnya?

    Penyebab kanker hati

    Kanker hati diawali oleh munculnya sel-sel abnormal kanker di jaringan hati manusia. Munculnya sel kanker ini bisa berawal dari organ hati saja (disebut sebagai kanker hati primer, hepatocellular carcinoma) atau dari organ tubuh lain yang kemudian menyebar ke hati (disebut dengan kanker hati sekunder, metastatic liver cancer). Kanker hati primer merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sebagai komplikasi penyakit Hepatitis yang juga menyerang organ hati manusia. Selain Hepatitis, faktor pemicu kanker hati adalah:

    • Cacat lahir
    • Kebiasaan merokok
    • Konsumsi alkohol berlebihan
    • Infeksi kronis hemochromatosis (penyakit turunan di mana ada terlalu banyak zat besi di hati)
    • Sirosis hati

     Selain faktor-faktor di atas, sejumlah hal juga dapat meningkatkan risiko Anda terserang kanker hati, yaitu:

    • Jenis kelamin laki-laki lebih rentan alami kanker hati daripada perempuan.
    • Berat badan berlebih atau obesitas bisa meningkatkan risiko kanker hati.
    • Ras Asia-Amerika lebih rentan terhadap risiko kanker hati.
    • Penggunaan steroid anabolik pada atlet bisa meningkatkan risiko terserang kanker hati.
    • Memiliki riwayat diabetes atau penyakit kencing manis.
    • Adanya gangguan metabolisme.

    Jenis kanker hati sekunder atau metastatic liver cancer muncul akibat sel kanker yang berasal dari organ lain seperti pankreas, usus, lambung, payudara atau paru-paru. Penderita kanker jenis ini umunya akan ditangani dengan pengangkatan tumor di organ utama tempat sel kanker berasal.

    Mencegah risiko kanker hati

    Karena salah satu pemicu penyakit kanker hati primer adalah virus menular Hepatitis, baik Hepatitis B maupun Hepatitis C, maka hal yang perlu dilakukan demi mencegah risiko kanker hati adalah dengan menghindari faktor pemicu penyakit Hepatitis. Virus Hepatitis B (HBV) maupun Hepatitis C (HVC) dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui penggunaan jarum suntik yang sama, hubungan seks tanpa kondom dan penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna obat-obatan terlarang (narkoba). Karenanya, hindari penggunaan satu jarum suntik yang sama saat melakukan donor atau transfusi darah, hindari berhubungan seksual secara bebas atau tanpa kondom, dan berikan vaksin hepatitis B kepada anak Anda sejak kecil untuk mencegahnya terjangkit hepatitis dan kanker hati saat dewasa. Yang tak kalah penting, jauhi lingkungan yang dapat menjerumuskan Anda pada penggunaan narkotika.

    Selain itu, cara yang dapat Anda lakukan untuk menghindari risiko terserang kanker hati adalah:

    1. Hindari kebiasaan minum minuman beralkohol
    2. Berhenti merokok
    3. Menjaga berat badan normal
    4. Menerapkan gaya hidup sehat (makan makanan  bergizi, olahraga dan tidur teratur)
    5. Melakukan pengobatan pada gangguan/penyakit hati yang diderita sejak dini

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 40

    Melawan Keganasan Kanker Prostat

    Posted on Tue, 25.09.2018

    Kanker prostat merupakan salah satu kanker mematikan di dunia. Di Indonesia sendiri, kanker ini menempati peringkat keenam sebagai jenis kanker paling mematikan setelah kanker payudara, kanker paru-paru, kanker usus besar, kanker mulut rahim, dan kanker hati.  Tidak hanya itu, kanker ini diketahui pula sebagai kanker ketiga yang paling sering diderita laki-laki di Indonesia, di mana satu di antara 10 orang pria terutama yang berusia lanjut menderita kanker ini. Di Australia, prevalensi penyakit kanker prostat lebih tinggi dibanding kanker payudara. Tercatat, ada lebih dari 3000 pria Australia yang meninggal setiap tahunnya akibat kanker ini. Angka tersebut menjadikan Australia sebagai negara dengan angka mortalitas akibat kanker prostat tertinggi di dunia.

    Mengingat begitu besarnya angka mortalitas yang disebabkan oleh kanker prostat, sebenarnya adakah cara untuk melawan keganasan kanker ini?

    Mengenal kanker prostat yang susah dideteksi

    Kanker prostat disebabkan oleh tumbuhnya sel abnormal di bagian kelenjar prostat pria, kelenjar pada sistem reproduksi yang terletak di bawah kantung kemih. Sel abnormal dapat berkembang dengan cepat dan tidak terkontrol sehingga menyebabkan tumor ganas dan bersifat kanker. Kanker prostat didefinisikan sebagai kanker mematikan karena penyakit ini seringnya muncul tak terdeteksi—tidak ada gejala yang dirasakan di awal kemunculan sel kanker namun baru dirasakan setelah stadium lanjut. Gejala-gejala yang dapat dirasakan pada penderita kanker prostat adalah:

    • Sering merasakan keinginan untuk buang air kecil secara tiba-tiba
    • Merasakan susah dan tidak nyaman saat buang air kecil
    • Terdapat darah dalam urin atau semen
    • Nyeri di belakang pinggang atau pangkal paha

    Karena gejala penyakit kanker prostat jarang dirasakan di stadium awal, maka pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan deteksi dini (dengan cara memeriksa kadar PSA—Prostate Specific Antigen bagi pria di atas 50 tahun) dan mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi munculnya kanker ini.

    Faktor pemicu kanker prostat:

    1. Faktor genetik

    Jika seorang pria memiliki gen keturunan dari keluarga yang pernah menderita kanker, hal tersebut dapat meningkatkan risikonya terserang kanker prostat di kemudian hari.

    2.    Riwayat keluarga

    Risiko kanker prostat meningkat jika seorang pria memiliki ayah atau saudara kandung yang pernah mengalami kanker prostat.

    3. Usia

    Risiko munculnya kanker prostat meningkat seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Di usia 75 tahun, peluang kanker meningkat sebanyak 1:7 pria.

    4. Pola makan

    Pola makan buruk seperti sering mengonsumsi daging olahan atau makanan dengan kandungan tinggi lemak dapat meningkatkan risiko terserang kanker prostat.

    5. Gaya hidup

    Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok atau jarang berolahraga juga menjadi faktor pemicu munculnya kanker prostat.

    Dengan mengetahui faktor-faktor pemicu kanker prostat, seseorang dapat mencegah munculnya kanker dengan menjaga kesehatan fisik sehingga pengaruh dari faktor genetik pun dapat dilawan. Jagalah kesehatan dengan rutin berolahraga, rajin mengonsumsi makanan bernutrisi dan menghindari konsumsi makanan berlemak, juga menghindari kebiasaan buruk merokok atau minum minuman beralkohol.

     

     

    Source:

    Christina Chun, MPH. 2017. Medical News Today: Prostate Cancer in Detail. https://www.medicalnewstoday.com/articles/150086.php

    Prostate Cancer Foundation of Australia. What You Need to Know about Prostate Cancer. http://www.prostate.org.au/awareness/general-information/what-you-need-to-know-about-prostate-cancer/

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 33

    Enyahkan Asap Rokok Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Kanker

    Posted on Mon, 23.07.2018

    Ayo bebaskan udara bumi kita dari asap rokok

    Setiap tanggal 31 Mei,  World Health Organization (WHO) menghimbau penduduk bumi untuk membuat dunia bebas dari tembakau (juga produk olahan tembakau seperti rokok, cerutu, sugi/suntil dll) selama satu hari itu. Apakah mungkin dan adakah manfaatnya?

    Perlu diketahui berbagai  kerusakan akibat  produk tembakau membutuhkan waktu yang panjang bahkan ada yang lebih dari 20 tahun baru terdeteksi. Kampanye satu hari bebas tembakau mungkin tidak akan dapat menurunkan secara langsung risiko kerusakan atau hal-hal negatif yang diakibatkannya. Namun, kampanye seperti ini perlu secara terus menerus dilakukan untuk membuktikan jika ada niat dan keinginan maka dunia bebas tembakau dapat terwujud karena “jika ternyata  sehari kita  bisa bebas dari asap rokok sebagai salah satu produk tembakau seharusnya setiap hari kita bebas dari asap rokok”. Terlebih, ada bukti lebih akurat yakni saat selama bulan Ramadhan, miliaran umat Islam yang perokok bisa bebas dari kebiasaannya mulai dari sahur hingga berbuka dengan hitungan rata-rata 12 jam. Secara medispun belum pernah ada laporan seorang perokok meninggal hanya karena tidak merokok.

    Mengapa asap rokok perlu diperangi?

    Dari sekian banyak produk tembakau maka rokok adalah yang paling nyata harus diperangi karena terbukti asap rokok tidak hanya merugikan bagi perokoknya (perokok aktif) tetapi juga bagi orang lain yang bukan perokok namun mendapat hadiah kebagian asap rokok tersebut (secondhand smoke = perokok pasif) dan bahkan orang lain terutama anak anak yang hanya kebagian menghirup partikel asap rokok yang menempel pada rambut, pakaian, sofa atau dinding rumah (thirdhand smoke).

    Mengapa asap rokok perlu diperangi?

    Asap rokok (tembakau) mengandung puluhan zat yang membahayakan kesehatan dan menjadi risiko untuk berbagai jenis penyakit (tobacco related diseases). Penyakit yang berkaitan dengan rokok antar lain kanker (paling tinggi kanker paru), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK=COPD),  penyakit jantung, stroke, asma brokial,dan lainnya. Selain itu, alasan mengapa rokok harus diperangi adalah:

    1. Penelitian di Indonesia melaporkan dampak ekonomi bahkan pada keluarga miskin karena rokok menjadi salah satu pengeluaran biaya rumah tangga yang   cukup besar setelah pengeluaran untuk pangan dan non-pangan. Padahal, rokok tidak berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia.
    2. Pada generasi muda merokok dapat menjadi pintu gerbang untuk menjadi pengguna NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya.

    Mengapa merokok/paparan asap rokok menjadi faktor risiko kanker  ?

    Karena asap rokok mengandung banyak bahan atau partikel yang dapat memicu terjadinya kanker (zat-zat karsinogen). Maka salah satu usaha untuk mencegah terjadinya kanker adalah dengan mengupayakan diri terbebas dari paparan asap rokok. Khusus untuk kanker paru, asap rokok memberikan dua hal yang menyebabkan terjadinya kanker: satu dari kandungan zat-zat karsinogen itu sendiri dan yang lain adalah iritasi asap rokok pada saluran napas yang terus-menerus memicu perubahan pertumbahan sel/jaringan yang tergerus oleh asap rokok. Penelitian membuktikan peningkatan risiko kanker paru pada perokok juga dipengaruhi ketebalan asap rokok (rokok kretek), frekuensi merokok, dan kedalaman isapan pada saat merokok.

    Apa peran nikotin pada perilaku perokok ?

    Kesadaran tentang dampak buruk asap rokok berbahan tembakau kian meningkat dan banyak alternatif usaha untuk dapat berhenti merokok. Sebagian dari kegagalan usaha berhenti merokok itu adalah akibat dari ketergantungan/adiksi yang disebabkan oleh nikotin yang ada dalam kandungan asap rokok. Kadar nikotin ini menjadi bahan dagang untuk berbagai merek rokok dengan mencantumkan bahwa “kadar nikotinnya lebih rendah."  Namun, hal tersebut merupakan "informasi yang tidak tepat dan bahkan membodohi” karena  justru hal itu menguntungkan secara bisnis. Perokok dengan tingkat ketergantungan tinggi akan mengkonsumsi rokok  lebih sering (dan membeli jumlah batang rokok lebih banyak) untuk memenuhi kadar nikotin yang rendah dalam sebatang rokok. Beberapa produk pengganti nikotin digunakan untuk terapi berhenti merokok (nicotine replacement therapy) dengan bentuk dan dosis yang bermacam-macam. Sayangnya, harganya lebih mahal dari rokok dan membutuhkan tenaga medis.

    Bagaimana dengan rokok non-tembakau, apakah sama bahayanya?

    Di Indonesia, rokok berbahan dasar utama tembakau dapat ditemukan dengan berbagai macam bentuk mulai dari yang tradisional rokok linting, rokok dengan pipa/cangklong, rokok kretek dan rokok putih (rokok yang menggunakan saos tembakau) dengan kemasan yang menarik. Namun seiring dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk terhindar dari berbagai penyakit akibat rokok dan dengan semakin gencarnya kampanye anti rokok yang ada justru dimanfaatkan pebisnis yang jeli dengan memunculkan berbagai alternatif. Berkaitan dengan keinginan untuk berhenti merokok dan padu padan dengan gaya hidup banyak perokok tembakau menggantikan produk mereka dengan e–cigarrete/VAPE dan shisha. 

    Vape atau Rokok elektrik atau E-ciggarete

    Vape menjadi salah satu alternatif pengganti yang dipilih oleh perokok tembakau. Tidak seperti rokok tembakau, Vape atau rokok elektrik memiliki berbagai pilihan rasa. Selain pemilihan rasa, produk tersebut juga menyediakan beragam  jenis alat pemanas untuk memanaskan cairan vape yang menggandung nikotin atau biasa dikenal dengan vaporizer (koil). Vaporizer ini tersedia dalam berbagai jenis, yaitu

    1. Berbentuk pen dengan bentuk terkecil dan bisa dibawa ke mana-mana. Vaporizer pen dapat menghasilkan uap dengan cara memanaskan cairan vape.
    2. Jenis portable dikenal dengan handheld vaporizer bentuknya lebih besar dibandingkan dengan vaporizer pen sehingga  bisa dibawa ke manapun, sama seperti vaporizer pen.
    3. Jenis dekstop bentuknya lebih besar dan tidak dapat dibawa ke mana-mana. Penggunaan rokok elekrik atau vape "sama berbahaya dan tidak lebih aman dari rokok tembakau"  karena sama-sama mengandung nikotin yang menyebabkan adiksi atau ketagihan. Penelitian menunjukkan meski kandungan zat berbahayanya tidak sama persis dengan rokok, namun terbukti bahwa Vape mempunyai kandungan berbahaya lain yang tidak ada pada rokok. Pengguna Vape dilaporkan berisiko terkena kanker sama seperti rokok. Analisa kandungan asap Vape ditemukan berbagai kadar benzene sebagai salah satu zat karsinogen pada Vape. Karena sama sama menhasilkan asap  yang menggandung nanoperatikel maka risiko yang sama untuk penyakit saluran napas seperti rokok biasa. Sama seperti asap rokok tembakau sebagian asap Vape menjadi jatah untuk bukan perokok yang ada di sekitar pengguna Vape.

    Shisha atau waterpipe smoking

    Secara tradisional masyarakat di berbagai wilayah asia timur seperti timur tengah telah menggunakan Shisha sejak lama, namun tampaknya mulai meluas ke belahan bumi lain termasuk Indonesia. Shisa dikenal dengan banyak nama seperti hookang, waterpipe smoking dan hubble smoking. Shisha terdiri dari water jar (kendi) tempat meletakan cairan yang dapat terdiri dari ekstrak tembakau dengan tambahan berbagai rasa buah seperti apel, mangga, dll. Untuk menghasilkan asap cairan itu dipanaskan atau dibakar dengan serbuk kayu, arang atau batu bara. Pemanasan cairan Shisha akan menghasilkan asap/uap. Asap akan dialirkan lewar pipa/tube yang dan pada ujung ada mouthpiece alar penghisap/alat sedot sehingga asap (yang dihasilkan bahan pembakar dan cairan) akan memenuhi mulut hinggu ke paru paru dan sebagian besar asap/uap menjadi bagian yang dihirup orang lain yang berada disekitar pengguna Shisha. Pada dasarnya Shisha sama seperti asap rokok juga mengandung nikotin, tar dan berbagai bahan toxic seperti yang ada pada asap rokok. Penelitian menunjukan Shisha juga menjadi faktor resiko kanker terutama kanker mulut dan kanker paru. 

     

    KESIMPULAN.

    Himbauan untuk perokok: Enyahkan asap rokok, menghisap/menghirup asap dari rokok tembakau, Vape (rokok elektrik) ataupun Shisha (waterpipe smoking) mempunyai risiko yang sama untuk terjadinya kanker. Adalah tidak benar Vape dan Shisha menjadi alternatif  yang aman sebagai pengganti rokok tembakau. Himbauan untuk bukan perokok: enyahkan asap rokok dengan berani melarang perokok menghembuskan asapnya di sekiitar kita untuk mengurangi resiko terkena kanker.

     

    Daftar bacaan

    http://www.lung.org/our-initiatives/tobacco/reports-resources/sotc/by-the-numbers/10-worst-diseases-smoking-causes.html

    Chriswardani S, Ratna K, Ki Hariyadi. Konsumsi rokok rumah tangga miskin di Indonesia dan penyusunan agenda kebijakkannya. http://kebijakankesehatanindonesia.net/sites/default/files/makasar/Forum kebijakan Kes - Chris FKM UNDIP.pdf

    Pankow JF, Kim K, McWhirter KJ, Luo W, , Escobedo JO, Strongin RM, et al. Benzene formation in electronic cigarettes.PLoS One. 2017 Mar 8;12(3):e0173055.

    Canistro D, Vivarelli F, Cirillo S, Babot Marquillas C, Buschini A, Lazzaretti M, et al. E-cigarettes induce toxicological effects that can raise the cancer risk. Sci Rep. 2017 May 17;7(1):2028.

    Mahboub B, Mohammad AB, Nahlé A, Vats M, Al Assaf O, Al-Zarooni H..Determination of Nicotine and Tar Levels in Various Dokha and Shisha Tobacco Products. J Anal Toxicol. 2018 May 10. doi: 10.1093/jat/bky029.

    Alharbi F, Quadri MFA. Individual and Integrated Effects of Potential Risk Factors for Oral Squamous Cell Carcinoma: A Hospital-Based Case-Control Study in Jazan, Saudi Arabia. Asian Pac J Cancer Prev. 2018 Mar 27;19(3):791-6.

    Awan KH, Siddiqi K, Patil Sh, Hussain QA. Assessing the Effect of Waterpipe Smoking on Cancer Outcome - a Systematic Review of Current Evidence. Asian Pac J Cancer Prev. 2017 Feb 1;18(2):495-502.

    Jacob P 3rd, Abu Raddaha AH, Dempsey D, Havel C, Peng M, Yu L, Benowitz NL.Comparison of nicotine and carcinogen exposure with water pipe and cigarette smoking. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. 2013 May;22(5):765-72

    Kozlowski LT.Origins in the USA in the 1980s of the warning that smokeless tobacco is not a safe alternative to cigarettes: a historical, documents-based assessment with implications for comparative warnings on less harmful tobacco/nicotine products. Harm Reduct J. 2018 Apr 16;15(1):21

     

    Sumber Artikel :

    dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P (K) 

    * Pengurus Pusat Yayasan kanker Indonesia       

    * Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- Rumah Sakit Persahabatan Rujukan Nasional Repirasi

     

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 35

    Perjuangan Lita Perdita Melawan Kanker Seviks

    Posted on Wed, 18.07.2018

    Rasa sayang seorang ibu kepada anaknya jauh lebih besar dari rasa sayangnya ke diri sendiri. Hal itulah yang tersimpul dalam benak saya kala mewawancarai survivor kanker ini.

    Lita Perdita merupakan seorang wanita karir dan juga orangtua tunggal bagi ketiga anaknya saat ia didiagnosa kanker. Wanita kelahiran Jakarta, Desember 1957 ini memang tak pernah merasakan gejala atau tanda-tanda apapun yang membuatnya curiga akan adanya kanker di tubuhnya, kecuali bahwa ia memiliki siklus menstruasi yang mulai tidak teratur.

    Awalnya, Lita menganggap kondisi menstruasinya yang tidak teratur tersebut sebagai tanda-tanda  menopause. Hingga pada suatu hari di bulan puasa tahun 2005, ia mengalami pendarahan hebat tanpa sakit perut atau gejala menstruasi apapun. Dokter yang dirujuk Lita akhirnya mendiagnosa bahwa Lita menderita kanker serviks atau kanker leher rahim stadium 1B.

    Lita yang kala itu berusia 48 tahun sangat mengkhawatirkan kondisi ketiga anak-anaknya jika ia menjalani operasi, terlebih saat itu anak-anaknya masih berusia belia. “Saya kasihan jika anak-anak saya harus berbuka puasa di rumah sakit dan melihat saya terbaring sakit,” jelasnya. Rasa takut meninggalkan anak-anak itulah yang membuat Lita memutuskan untuk menunda operasi. Ia meminta agar dokter mengizinkan pengangkatan kanker sepanjang dua cm di leher rahimnya ditunda hingga bulan puasa usai. Meski sempat tidak disetujui karena khawatir sel kanker akan menyebar dengan cepat, Lita akhirnya baru melakukan operasi beberapa minggu setelah diagnosanya.

    Pengalamannya melawan kanker di usia produktif tersebut membuat Lita semakin sadar akan mahalnya kesehatan. Ia mengingatkan bahwa kanker serviks tidak hanya dapat menyerang di usia menopause seperti yang ia alami 13 tahun silam. Kanker serviks juga dapat menyerang di usia muda, sehingga penting bagi setiap perempuan untuk lebih aware dan melakukan pemeriksaan rutin dalam mencegah munculnya kanker. Selain itu, ia juga berpesan agar para penderita kanker sebaiknya hanya ditangani dengan prosedur medis sepeti operasi dan kemoterapi bukannya pengobatan alternatif. “Pengobatan jalur alternative tidak bisa menyembuhkan kanker. Percayalah pada dokter dan penanganan medis yang semakin canggih,” ucapnya mengakhiri percakapan kami siang itu.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 34

    Berthie Sompie, Melawan Kanker dengan Keceriaan

    Posted on Tue, 17.07.2018

    Mungkin tak akan ada yang mengira bahwa pria dengan rambut yang sudah memutih ini pernah menderita dua jenis kanker sekaligus. Albert Charles Sompie adalah seorang survivor kanker dan aktif tergabung dalam support group Yayasan Kanker Indonesia selama lebih dari 12 tahun.

    Sifatnya yang ceria, penuh canda dan enerjik ini membuat siapa saja yang berada di sekitar Berthie, sapaan akrabnya, turut merasakan energi positif dan penuh semangat. Tak terlihat bahwa ia pernah mengalami masa-masa pahit akibat kanker yang membuatnya kehilangan sebelah paru-paru dan juga ususnya.

    Mantan kapten tim softball nasional tahun 1980-1990 ini pertama kali mengetahui dirinya terserang kanker paru-paru pada Desember 2005. Kala itu, dokter yang mendiagnosanya menjelaskan bahwa ia menderita kanker paru-paru stadium 3B dan memiliki harapan hidup sekitar enam bulan saja. Berthie yang saat itu berusia 47 tahun dan masih aktif bermain softball sempat memungkiri bahwa dirinya menderita kanker. Ia masih terus bermain softball dan merokok –kebiasaan yang ia yakini menjadi penyebab kankernya  muncul.

    Beberapa bulan berselang setelah operasi pengangkatan kanker paru-parunya, pria yang lahir di Surabaya 60 tahun silam ini kembali didiagnosa mengidap kanker. Kali ini, sel kanker menyerang bagian ususnya.

    Kondisi tersebut sempat membuat Berthie patah asa. Ia mengaku pernah berdoa agar diberikan kematian saja daripada harus menderita sakit. Beruntung, Berthie memiliki keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Dukungan dari merekalah yang membuatnya kembali bangkit. “Dulu saya sering meminta Tuhan untuk mati. Namun karena tidak dikabulkan, doa saya ubah. Saya minta untuk terus hidup, supaya bisa melihat anak-anak saya tumbuh besar dan berkeluarga.” Menurutnya, keluarga memang menjadi sumber semangat yang sangat berarti dalam kesembuhannya. “Saya tidak bisa berada di sini sekarang jika bukan karena istri dan anak-anak saya,” kenang Berthie.

    Tak hanya dukungan dari keluarga dan kerabat dekat, Berthie juga bercerita bahwa kunci untuk sembuh dari kanker adalah justru dengan menerima kondisi tersebut dengan lapang dada namun tetap menjalani proses penyembuhan seperti kemoterapi secara rutin. Meski terasa berat, proses kemoterapi yang ia jalani sebanyak 16 kali hingga Desember 2006 berhasil membantunya terbebas dari sel kanker. Sejak saat itu, Berthie diperbolehkan oleh dokter untuk kembali aktif berkegiatan, khususnya untuk bersepeda, bermain tenis, renang, dan tentunya bermain softball bersama teman-temannya.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 32

    Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Otak!

    Posted on Mon, 21.05.2018

    Kanker otak merupakan kondisi yang disebabkan oleh tumor ganas yang tumbuh dalam otak. Tumor otak sendiri disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal pada jaringan, sel saraf, selaput pelindung otak atau saraf tulang belakang.

    Tumor ganas penyebab kanker otak dapat menyebar secara tidak terkendali ke bagian tubuh dekat otak dengan mengambil tempat, darah dan juga nutrisi yang ada di jaringan tersebut. Bahkan, tidak jarang sel kanker ganas ini menyebar ke bagian tubuh lain yang lebih jauh melalui aliran darah.

    Kanker otak dibedakan menjadi dua, yakni kanker otak utama dan kanker otak sekunder (metastasis). Kanker otak utama disebabkan oleh munculnya salah satu sel dalam otak yang tumbuh tidak wajar dan bertransformasi menjadi sel kanker. Sel yang bertransformasi ini kemudian berkembang sehingga menyebabkan tumor. Sementara itu, kanker otak sekunder atau metastasis merupakan kanker otak yang dipicu oleh tumbuhnya sel tumor di bagian tubuh lain yang menyebar ke bagian otak. Kanker jenis inilah yang tercatat menjadi penyebab kasus kanker otak terbanyak di dunia.

    Penyebab tumor dan kanker otak

    Penyebab terjadinya  kanker otak memang masih belum dapat diketahui. Meski begitu, ada beberapa faktor yang dapat memicu risiko kanker otak pada seseorang, contohnya faktor genetik, racun dari lingkungan berbahaya, radiasi di bagian kepala, infeksi HIV, dan juga kebiasaan buruk merokok.

    Gejala kanker otak

    Awalnya, gejala kanker otak akan sama dengan gejala penyakit-penyakit lainnya yaitu pusing atau sakit kepala, kelelahan, sering merasa bingung, kesulitan berjalan hingga kejang. Pada beberapa kasus, penderita kanker otak juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, susah mengingat, mual, muntah, dan mengalami masalah penglihatan.

    Jika Anda terus menerus merasakan gejala yang telah disebutkan di atas, satu-satunya cara untuk mendeteksi adanya kanker otak adalah dengan melakukan CT Scan atau pemindaian otak. Dengan CT scan atau MRI, dokter atau ahli medis dapat mengetahui apakah penyebab gejala yang dirasakan adalah adanya tumor yang menekan bagian dalam otak atau karena adanya pembengkakan akibat peradangan dari tumor. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 29

    Mengenal Kanker Otak

    Posted on Fri, 04.05.2018

    Otak adalah salah satu organ terpenting dalam mengatur organ lain agar dapat berfungsi secara sinergis. Bagaikan ‘Bos’ diantara organ penting lainnya. Bisa dibayangkan jika terjadi masalah pada otak maka sistem pengaturan dan koordinasi akan menjadi kacau. Fungsi luhur seperti berbicara, melihat, berpikir, bergerak, dan lainnya bisa saja terganggu tergantung lokasi kelainnya.

    Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel otak yang tidak terkendali. Tumor otak bisa bersifat jinak ataupun ganas. Tumor ganas pada otak itulah yang kita sebut sebagai kanker otak. Menurut asalnya, tumor otak dikelompokan menjadi tumor primer dan sekunder. Disebut primer jika tumor berasal dari sel otak itu sendiri, sedangkan tumor otak sekunder berasal dari kanker organ lain misalnya akibat penyebaran kanker paru, kanker payudara, maupun kanker lain. Kebanyakan kanker otak merupakan tumor sekunder. Dari seluruh tumor primer otak, astrositoma anaplastik dan glioblastoma multiforme (GBM) meliputi sekitar 38% dari jumlah keseluruhan tumor primer, diikuti oleh meningioma dan tumor mesenkim lainnya sebanyak 27%.

    Kanker otak masih menjadi perhatian dunia, kerena berbagai kemajuan penelitian dan teknologi belum dapat memaksimalkan hasil pengobatan kanker otak. Di Indonesia kanker otak merupakan salah satu kanker terbanyak pada anak. Meskipun demikian, tumor ini dapat terjadi pada umur berapapun. Berdasarkan penelitian, tumor otak sering terjadi pada anak-anak 3-12 tahun dan orang dewasa 40-70 tahun. Risiko kanker otak meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

    Penyebab kanker otak belum sepenuhnya dipahami. Beberapa ahli berpendapat bahwa orang dengan faktor risiko tertentu mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami kanker otak. Orang yang bekerja di kilang minyak, industri kimia atau karet mempunyai risiko lebih besar mengalami kanker otak. Faktor lain yang dikaitkan kanker otak adalah riwayat keluarga mengalami kanker otak, merokok, infeksi virus (HIV), dan paparan radiasi.

    Berhubungan dengan penyebab ataupun faktor risiko kanker otak, kita perlu mengkritisi berbagai isu atau rumor mengenai penyebab kanker otak. Disebutkan bahwa radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker otak. Hal tersebut telah direspon oleh American Cancer Society dan National Cancer Institute yang menyatakan bahwa frekuensi radio ponsel terlalu rendah untuk dapat menyebabkan kanker otak. Selain itu, isu aspartame (pemanis buatan) yang dikatakan dapat menyebabkan kanker otak juga tidak terbukti kebenarannya.

    Gejala tumor otak sangat beragam, tergantung pada ukuran dan bagian otak yang terlibat. Tumor atau benjolan didalam tulang tengkorak ini bisa menyebabkan fungsi otak terganggu. Penekanan jaringan otak sekitar dapat menyebabkan sakit kepala hebat bahkan kejang-kejang. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah mudah lelah dan cenderung mengantuk, atau gangguan pada penglihatan, pendengaran, berbicara, melihat, dan koordinasi gerak. Peningkatan tekanan didalam otak juga dapat meyebabkan penderita muntah-muntah. Selain itu, perubahan kepribadian yang tidak seperti karakter biasanya juga bisa disebabkan oleh kanker ini.

    Perlu diingat bahwa tidak semua gejala sakit kepala ataupun keluhan yang disebutkan diatas merupakan gejala khas untuk kanker otak. Beberapa orang mempunyai keluhan yang tidak spesifik atau bahkan tidak bergejala. Konsultasikan dengan dokter Anda jika mengalami keluahan diatas, diperlukan pemeriksaan lanjut untuk dapat mendiagnosis kanker otak seperti CT-Scan ataupun MRI otak. Pengobatan kanker otak bervariasi, tergantung dari stadium saat ditemukan. Jika masih memungkinakan, kanker otak primer bisa diobati dengan tindakan pembedahan untuk mengangkat sel-sel kanker. Setelah itu, dilanjutkan dengan radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya. Pada stadium lanjut atau kanker otak sekunder, pengobatan berfokus pada pelayanan paliatif. Perawatan ini diutamakan untuk meringankan gejala agar penderita marasa nyaman dan mempunyai hidup yang berkualitas. 

    Dukungan keluarga dan kerabat sangat diperlukan untuk mendampingi penderita dalam mengambil keputusan pengobatan. Konsultasikan kepada ahli Onkologi untuk mendapatkan saran manfaat dari setiap pilihan pengobatan dan memperkirakan efek sampingnya. Pemahaman pasien dan keluarga akan membantu dalam pemilihan pengobatan yang tepat. Pendampingan juga diperlukan selama pengobatan agar panderita tidak merasa tertekan atau depresi terhadap kondisi yang dialami. Pengobatan dan pemulihan untuk penyakit kanker memerlukan waktu cukup lama, maka lakukan dukungan pada orang yang Anda kenal secara terus-menerus dalam menghadapi seluruh perjalanan kankernya. 

     

    ***

    Artikel oleh :

    dr. Fujiyanto

    Sahabat YKI Cabang Kalimantan Barat

    Dokter Umum RSUD dr Soedarso Pontianak

     

     

    Selengkapnya >>