YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta

Hotline Teledonasi: (021) 3152603 | Apotek : (021) 3920568 | Sekretariat: (021) 3152603

Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 63

Bisakah Mencegah Risiko Kanker Otak?

Posted on Fri, 12.07.2019

Kanker otak disebabkan oleh pertumbuhan abnormal sel di bagian otak yang merusak jaringan otak tempatnya berada. Kondisi pertumbuhan sel yang abnormal tersebut awalnya menyebabkan tumor otak. Namun, tidak semua tumor bersifat kanker dan berujung pada kanker otak.

Lalu, apa sebenarnya yang dapat memicu pertumbuhan abnormal sel pada…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 63

    Bisakah Mencegah Risiko Kanker Otak?

    Posted on Fri, 12.07.2019

    Kanker otak disebabkan oleh pertumbuhan abnormal sel di bagian otak yang merusak jaringan otak tempatnya berada. Kondisi pertumbuhan sel yang abnormal tersebut awalnya menyebabkan tumor otak. Namun, tidak semua tumor bersifat kanker dan berujung pada kanker otak.

    Lalu, apa sebenarnya yang dapat memicu pertumbuhan abnormal sel pada otak sehingga menyebabkan tumor atau kanker otak?

    Faktor pemicu tumbuhnya tumor atau kanker otak

    Penyebab pasti mengapa tumor dan segala jenis kanker—termasuk tumor dan kanker yang tumbuh di otak— masih belum dapat diketahui secara pasti. Meski begitu, ada sejumlah faktor yang memengaruhi munculnya tumor atau kanker otak pada seseorang, yakni faktor genetik atau keturunan, adanya paparan zat beracun dari lingkungan sekitar, radiasi yang menyerang kepala (otak), mengidap HIV dan memiliki kebiasaan buruk merokok.

    Jenis tumor dan kanker otak

    Kanker otak terbagi menjadi dua berdasarkan asal mula pertumbuhan sel kanker.

    • Kanker otak utama, disebabkan oleh munculnya salah satu sel dalam otak yang tumbuh tidak wajar, membentuk tumor ganas lalu bertransformasi menjadi sel kanker. Sel kanker ini yang kemudian merusak jaringan, sel saraf, selaput pelindung otak atau saraf tulang belakang.
    • Kanker otak metastasis, atau kanker otak sekunder, merupakan kanker otak yang disebabkan oleh tumbuhnya sel tumor atau sel kanker dari bagian lain dalam tubuh yang menyebar ke otak (melalui proses yang disebut metastasis). Sel-sel kanker tersebut bisa berasal dari bagian payudara (kanker payudara), usus (kanker kolorektal), ginjal (kanker ginjal), paru-paru (kanker paru) atau kulit (kanker melanoma). Penyebaran sel kanker inilah yang kebanyakan menjadi penyebab kanker otak.

    Ciri dan gejala tumor/kanker otak

    Tumor dan kanker otak ditandai dengan gejala yang berbeda-beda, bergantung pada ukuran, letak dan kecepatan tumbuh sel kanker itu sendiri. Biasanya, gejala awal yang dapat dirasakan adalah munculnya rasa sakit kepala yang kian lama semakin bertambah sering dan bertambah parah, timbul rasa mual dan muntah dengan tiba-tiba, tubuh menjadi lemas dan tidak seimbang, muncul kejang, sering hilang fokus, susah berkonsentrasi, hingga muncul masalah pada penglihatan.

    Jika terus menerus merasakan gejala yang telah disebutkan di atas, periksakan kondisi ke dokter untuk mengetahui ada tidaknya risiko kanker. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan tindakan CT Scan atau pemindaian otak.

    Bisakah menekan risiko terserang kanker otak?

    Umumnya, pencegahan terhadap penyakit kanker dapat dilakukan dengan cara mengubah gaya hidup seperti menjaga berat badan normal atau berhenti merokok. Namun, belum diketahui perubahan gaya hidup seperti apa yang bisa mencegah atau menekan risiko seseorang terhadap tumor/kanker otak, kecuali:

    • Menghindari paparan terhadap pestisida dan insektida
    • Menghindari paparan zat kimia berbahaya yang bersifat karsinogen (pemicu kanker)
    •  <!--[endif]-->Menghindari paparan radiasi terutama pada bagian kepala

    Untuk mencegah munculnya risiko kanker lain yang bisa menyebar dan memicu timbulnya kanker otak, hindari pula kebiasaan merokok atau terpapar asap rokok.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 62

    Apa Gejala Kanker Tulang?

    Posted on Thu, 13.06.2019

    Kanker tulang bermula dari munculnya sel kanker yang merusak jaringan tulang dalam tubuh. Meski diketahui sebagai jenis kanker yang langka bila dibandingkan dengan jenis kanker lainnya (yakni hanya 1%), kanker tulang merupakan kanker yang paling banyak menyerang anak-anak dan remaja usia 10-19 tahun.

    Kanker tulang dapat menyerang jaringan tulang mana saja di seluruh tubuh, contohnya pada tulang padat, tulang rawan (kartilago), jaringan serat dan jaringan dalam sumsum tulang. Berdasarkan munculnya sel kanker, kanker tulang terbagi menjadi empat jenis yaitu:

    • Osteosarcoma

    Sel kanker jenis ini berawal dari jaringan osteoid pada tulang, sering terjadi pada lutut dan lengan atas. Anak-anak dan remaja usia 10 dan 19 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker tulang jenis ini.

    • Chondrosarcoma

    Sel kanker jenis ini berasal dari jaringan tulang rawan dan sering terjadi di bagian panggul, paha atas dan bahu. Kanker tulang Chondrosarcoma umumnya menyerang orang dewasa di atas 40 tahun.

    • Ewing Sarkoma

    Sel kanker terdapat dalam jaringan lunak (otot, lemak, jaringan fibrosa, pembuluh darah atau jaringan pendukung lainnya). Sarkoma ewing ini paling sering terjadi di bagian tulang punggung, panggul, tulang kaki dan lengan. Sel tumor atau kanker ini kerap menyebar ke bagian lain tubuh, termasuk paru-paru.

    • Chordoma

    Chordoma merupakan jenis kanker tulang yang langka, biasanya muncul di tulang punggung. Kanker tulang jenis ini biasanya menyerang orang dewasa di bagian sacrum (tulang punggung), di pangkal tengkorak,

    Gejala bila terserang kanker tulang

    Umumnya, kanker tulang menimbulkan gejala awal berupa nyeri di bagian tulang. Selain itu, muncul pembengkakan di bagian kulit lengan, dada atau pinggul disertai dengan demam. Kondisi tersebut juga bisa memicu risiko patah tulang dan penurunan berat badan yang mendadak.

    Bila Anda mendapati anak atau anggota keluarga yang mengalami keluhan di atas, periksakan segera kondisinya ke dokter. Tindakan yang dapat diberikan untuk memeriksa apakah seseorang benar atau tidak menderita kanker tulang biasanya beragam, bergantung pada gejala klinis yang dirasakan. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 61

    Hati-Hati Ancaman Kanker Kolorektal di Indonesia

    Posted on Thu, 13.06.2019

    Kanker kolorektal atau yang lebih dikenal sebagai kanker usus besar merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak ditemui di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO tahun 2014, prevalensi penyakit kanker kolorektal di Indonesia mencapai urutan kedua terbanyak pada laki-laki setelah kanker paru-paru. Mengingat begitu tingginya prevalensi kanker kolorektal di negara ini, apa saja sih, yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker tersebut?

    Mengenal penyebab kanker usus besar (kolorektal)

    Kanker kolorektal merupakan kanker yang menyerang bagian usus besar (colon) atau dubur (rectal), yaitu bagian akhir dari sistem pencernaan. Kanker ini biasanya menyerang orang dewasa  dan lanjut usia, namun tidak berarti kanker ini tidak bisa dialami mereka yang masih muda.

    Kanker kolorektal bisa dipicu oleh faktor genetik atau keturunan yang menyebabkan pertumbuhan tidak normal pada sel-sel tubuh (mutasi sel). Sel yang bermutasi tersebut kemudian membentuk tumor dan merusak jaringan di sekitarnya. Sel kanker juga dapat berpindah dan menyerang bagian tubuh lainnya (metastasis).

    Selain faktor genetik, penyebab kanker kolorektal juga dapat berasal dari faktor luar. Menurut Prof. Dr. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP, kanker kolorektal merupakan kanker yang paling dipengaruhi oleh faktor lingkungan, termasuk di antaranya pola makan dan gaya hidup. Zat-zat penyebab kanker atau karsinogen masuk ke dalam saluran cerna hingga usus besar bersamaan dengan makanan yang kita konsumsi setiap harinya. Begitu pula jika kita memiliki kebiasaan atau gaya hidup yang buruk.

    Ada beberapa faktor risiko terkait pola makan dan gaya hidup yang dapat memicu munculnya kanker kolorektal, yaitu:

    • Makan secara berlebihan hingga menyebabkan obesitas – Berat badan berlebih atau obesitas meningkatkan risiko kanker kolorektal karena tersimpannya lemak berlebih.

    • Jarang mengonsumsi makanan tinggi serat – Diet atau pola makan rendah serat membuat makanan jadi tersimpan lebih lama di dalam tubuh. Zat karsinogen dalam makanan bisa memicu sel-sel di sekitar usus dan memicu kanker.

    • Kerap mengonsumsi daging olahan – Konsumsi daging olahan (yang dimasak melalui proses pengawetan, fermentasi, pengasapan atau proses lain dengan tujuan untuk memperpanjang daya tahan) seperti sosis, kornet, daging ham secara berlebihan turut memicu risiko kanker kolorektal pada seseorang. Bahkan, WHO memperingatkan bahwa daging yang dimasak dengan temperatur atau panas terlalu tinggi dapat memunculkan senyawa berbahaya yang karsinogenik.

    • Memiliki kebiasaan buruk merokok dan minum minuman beralkohol.

    • Memiliki gaya hidup sedentari atau malas bergerak.

    Mencegah risiko kanker kolorektal

    Untuk mencegah terjadinya kanker kolorektal, terapkan gaya hidup sehat dengan membiasakan diri berolahraga, mengonsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayuran, juga hindari konsumsi makanan berlemak dan stop kebiasaan merokok. Selain itu, Anda juga bisa melakukan deteksi dini untuk mengetahui risiko kanker, juga untuk menghindari kemungkinan kanker bertambah parah hingga stadium lanjut. Deteksi dini kanker kolorektal bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu pemeriksaan rektal dengan jari, pemeriksaan darah atau DNA dalam tinja, endoskopi, pemeriksaan rontgen, atau CT scan.

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 55

    Yuk Sumbangkan Rambut Kamu untuk Penderita Kanker!

    Posted on Tue, 19.03.2019

    Obat-obatan dan operasi bukan satu-satunya cara untuk membantu menyembuhkan pasien kanker. Dukungan dan motivasi dari lingkungan sekitar pun turut berperan penting dalam proses penyembuhan kanker, khususnya bagi mereka yang mengalami kebotakan setelah menjalani beragam pengobatan.

    Bersama Yayasan Kanker Indonesia, mari turut serta dalam gerakan Hair to Share dengan cara menyumbangkan rambut kamu. Rambut yang kamu donasikan nantinya akan dikumpulkan dan dikirim ke pembuat wig, untuk kemudian disumbangkan ke para pasien tidak mampu yang mengalami kebotakan akibat pengobatan kanker.

     

    Syarat dan ketentuan:

    • Rambut sehat dan tidak dicat.
    • Rambut dalam kondisi bersih dan kering.
    • Rambut diikat karet dengan ketat supaya tidak lepas.
    • Pisah menjadi dua ekor kuda.
    • Gunting di atas ikatan karet dengan hasil guntingan bagian terpendek mencapai minimal 25 cm.
    • Guntingan rambut dimasukkan ke dalam kantong plastik zip lock dan dikirim ke Yayasan Kanker Indonesia, Jalan Dr. GSSJ Ratulangi No.35, RT.2/RW.3, Gondangdia, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta
    • Cantumkan nama dan nomor HP. Kamu akan menerima sertifikat ucapan terima kasih dari Yayasan Kanker Indonesia setelah potongan rambut diterima.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 52

    Mengenal Kanker Pankreas dan Penyebabnya

    Posted on Mon, 12.11.2018

    Kanker pankreas dimulai saat sel abnormal kanker muncul di jaringan pankreas—organ yang terletak melintang di perut  bagian bawah. Pankreas berfungsi untuk memproduksi enzim pencernaan dan hormon untuk mengatur kadar gula darah dalam tubuh.

    Penyakit kanker pankreas kerap menyerang mereka yang berusia 50 tahun atau lebih. Menurut data dari American Cancer Society, prevalensi penyakit kanker pankreas di Amerika sendiri mencapai 55.400 orang dan menyumbang 7% dari seluruh kasus kematian akibat kanker.

    Meski penyakit ini kerap dialami orang yang telah berusia lanjut, mereka yang memiliki sejumlah faktor risiko berikut juga dapat terserang kanker pankreas di segala usia:

    • Memiliki kebiasaan merokok

    Risiko terserang kanker pankreas dua kali lebih besar jika Anda adalah seorang perokok. Menurut data American Cancer Society, 20-30% dari total kasus kanker pankreas disebabkan oleh kandungan berbahaya yang masuk ke dalam tubuh perokok.

    • Obesitas atau kelebihan berat badan

    Kondisi kelebihan berat badan atau kondisi obesitas juga bisa memicu munculnya kanker pankreas. Menurut hasil studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Imperial College London dan University of Leeds, orang dengan BMI tinggi atau menderita obesitas memiliki risiko 70% lebih tinggi terhadap kanker pankreas.

    • Diabetes mellitus/penyakit gula yang tidak terkontrol dengan baik

    Diabetes merupakan penyakit yang semakin banyak diidap masyarakat Indonesia, juga menjadi faktor risiko penyebab kanker pankreas.

    Selain ketiga faktor tersebut, berikut adalah faktor risiko terserang kanker pankreas yang tidak dapat diubah:

    • Memiliki riwayat kanker pankreas di keluarga

    Faktor risiko berupa kondisi genetik, di mana terdapat riwayat keluarga yang juga pernah menderita kanker pankreas juga bisa memicu munculnya sel kanker di pankreas.

    • Usia

    Risiko terkena kanker pankreas semakin tinggi saat seseorang bertambah tua. Umumnya, penderita kanker pankreas adalah mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, sementara dua-pertiganya berusia 50 tahun.

    • Jenis kelamin pria

    Pria memiliki kecenderungan terserang kanker pankreas lebih tinggi dibanding wanita. Faktor ini dilihat dari kecenderuangan pria yang lebih sering merokok dibanding wanita.

    Gejala kanker pankreas seringkali tidak terdeteksi dan baru terasa saat stadium lanjut. Saat sel kanker sudah semakin membesar dan akhirnya menimbulkan gejala, sel kanker akan menginfeksi bagian tubuh lain.

    Gejala kanker pankreas:

    • Penyakit kuning. Sel kanker dalam pankreas menghambat saluran yang mengalirkan cairan empedu ke usus. Karenanya, cairan dalam saluran empedu berkumpul di darah. Kondisi ini akan menyebabkan kulit terlihat berwarna kuning.
    • Nyeri perut
    • Sakit punggung
    • Perut kembung
    • Mual & muntah
    • Nafsu makan berkurang dan berat badan turun

     Agar tidak sampai menderita kanker pankreas, Anda dapat melakukan pencegahan dengan cara menghindari kebiasaan merokok, menjaga berat badan dan menerapkan pola makan sehat dengan nutrisi seimbang. Bagi penderita diabetes,  sangat dianjurkan untuk menjaga kadar gula darah tetap terkontrol agar tidak memperparah risiko terserang kanker pankreas.

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 49

    Mewaspadai Penyebab Kanker Hati

    Posted on Wed, 17.10.2018

    Hingga kini penyakit kanker masih tercatat sebagai salah satu penyebab kematian terbanyak di seluruh dunia. Menurut data WHO, terdapat lima jenis kanker yang menyebabkan 9,6 juta kasus kematian sepanjang tahun 2018, dengan kanker hati berada pada urutan keempat—sebanyak 782.000 kematian. (GLOBOCAN 2018)

     Melihat begitu banyaknya kasus kematian akibat kanker ini, sebenarnya bagaimanakah kanker hati berawal dan bagaimana cara mencegahnya?

    Penyebab kanker hati

    Kanker hati diawali oleh munculnya sel-sel abnormal kanker di jaringan hati manusia. Munculnya sel kanker ini bisa berawal dari organ hati saja (disebut sebagai kanker hati primer, hepatocellular carcinoma) atau dari organ tubuh lain yang kemudian menyebar ke hati (disebut dengan kanker hati sekunder, metastatic liver cancer). Kanker hati primer merupakan jenis kanker yang paling sering ditemukan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sebagai komplikasi penyakit Hepatitis yang juga menyerang organ hati manusia. Selain Hepatitis, faktor pemicu kanker hati adalah:

    • Cacat lahir
    • Kebiasaan merokok
    • Konsumsi alkohol berlebihan
    • Infeksi kronis hemochromatosis (penyakit turunan di mana ada terlalu banyak zat besi di hati)
    • Sirosis hati

     Selain faktor-faktor di atas, sejumlah hal juga dapat meningkatkan risiko Anda terserang kanker hati, yaitu:

    • Jenis kelamin laki-laki lebih rentan alami kanker hati daripada perempuan.
    • Berat badan berlebih atau obesitas bisa meningkatkan risiko kanker hati.
    • Ras Asia-Amerika lebih rentan terhadap risiko kanker hati.
    • Penggunaan steroid anabolik pada atlet bisa meningkatkan risiko terserang kanker hati.
    • Memiliki riwayat diabetes atau penyakit kencing manis.
    • Adanya gangguan metabolisme.

    Jenis kanker hati sekunder atau metastatic liver cancer muncul akibat sel kanker yang berasal dari organ lain seperti pankreas, usus, lambung, payudara atau paru-paru. Penderita kanker jenis ini umunya akan ditangani dengan pengangkatan tumor di organ utama tempat sel kanker berasal.

    Mencegah risiko kanker hati

    Karena salah satu pemicu penyakit kanker hati primer adalah virus menular Hepatitis, baik Hepatitis B maupun Hepatitis C, maka hal yang perlu dilakukan demi mencegah risiko kanker hati adalah dengan menghindari faktor pemicu penyakit Hepatitis. Virus Hepatitis B (HBV) maupun Hepatitis C (HVC) dapat berpindah dari satu orang ke orang lain melalui penggunaan jarum suntik yang sama, hubungan seks tanpa kondom dan penggunaan jarum suntik di kalangan pengguna obat-obatan terlarang (narkoba). Karenanya, hindari penggunaan satu jarum suntik yang sama saat melakukan donor atau transfusi darah, hindari berhubungan seksual secara bebas atau tanpa kondom, dan berikan vaksin hepatitis B kepada anak Anda sejak kecil untuk mencegahnya terjangkit hepatitis dan kanker hati saat dewasa. Yang tak kalah penting, jauhi lingkungan yang dapat menjerumuskan Anda pada penggunaan narkotika.

    Selain itu, cara yang dapat Anda lakukan untuk menghindari risiko terserang kanker hati adalah:

    1. Hindari kebiasaan minum minuman beralkohol
    2. Berhenti merokok
    3. Menjaga berat badan normal
    4. Menerapkan gaya hidup sehat (makan makanan  bergizi, olahraga dan tidur teratur)
    5. Melakukan pengobatan pada gangguan/penyakit hati yang diderita sejak dini

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 40

    Melawan Keganasan Kanker Prostat

    Posted on Tue, 25.09.2018

    Kanker prostat merupakan salah satu kanker mematikan di dunia. Di Indonesia sendiri, kanker ini menempati peringkat keenam sebagai jenis kanker paling mematikan setelah kanker payudara, kanker paru-paru, kanker usus besar, kanker mulut rahim, dan kanker hati.  Tidak hanya itu, kanker ini diketahui pula sebagai kanker ketiga yang paling sering diderita laki-laki di Indonesia, di mana satu di antara 10 orang pria terutama yang berusia lanjut menderita kanker ini. Di Australia, prevalensi penyakit kanker prostat lebih tinggi dibanding kanker payudara. Tercatat, ada lebih dari 3000 pria Australia yang meninggal setiap tahunnya akibat kanker ini. Angka tersebut menjadikan Australia sebagai negara dengan angka mortalitas akibat kanker prostat tertinggi di dunia.

    Mengingat begitu besarnya angka mortalitas yang disebabkan oleh kanker prostat, sebenarnya adakah cara untuk melawan keganasan kanker ini?

    Mengenal kanker prostat yang susah dideteksi

    Kanker prostat disebabkan oleh tumbuhnya sel abnormal di bagian kelenjar prostat pria, kelenjar pada sistem reproduksi yang terletak di bawah kantung kemih. Sel abnormal dapat berkembang dengan cepat dan tidak terkontrol sehingga menyebabkan tumor ganas dan bersifat kanker. Kanker prostat didefinisikan sebagai kanker mematikan karena penyakit ini seringnya muncul tak terdeteksi—tidak ada gejala yang dirasakan di awal kemunculan sel kanker namun baru dirasakan setelah stadium lanjut. Gejala-gejala yang dapat dirasakan pada penderita kanker prostat adalah:

    • Sering merasakan keinginan untuk buang air kecil secara tiba-tiba
    • Merasakan susah dan tidak nyaman saat buang air kecil
    • Terdapat darah dalam urin atau semen
    • Nyeri di belakang pinggang atau pangkal paha

    Karena gejala penyakit kanker prostat jarang dirasakan di stadium awal, maka pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan deteksi dini (dengan cara memeriksa kadar PSA—Prostate Specific Antigen bagi pria di atas 50 tahun) dan mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi munculnya kanker ini.

    Faktor pemicu kanker prostat:

    1. Faktor genetik

    Jika seorang pria memiliki gen keturunan dari keluarga yang pernah menderita kanker, hal tersebut dapat meningkatkan risikonya terserang kanker prostat di kemudian hari.

    2.    Riwayat keluarga

    Risiko kanker prostat meningkat jika seorang pria memiliki ayah atau saudara kandung yang pernah mengalami kanker prostat.

    3. Usia

    Risiko munculnya kanker prostat meningkat seiring dengan bertambahnya usia seseorang. Di usia 75 tahun, peluang kanker meningkat sebanyak 1:7 pria.

    4. Pola makan

    Pola makan buruk seperti sering mengonsumsi daging olahan atau makanan dengan kandungan tinggi lemak dapat meningkatkan risiko terserang kanker prostat.

    5. Gaya hidup

    Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok atau jarang berolahraga juga menjadi faktor pemicu munculnya kanker prostat.

    Dengan mengetahui faktor-faktor pemicu kanker prostat, seseorang dapat mencegah munculnya kanker dengan menjaga kesehatan fisik sehingga pengaruh dari faktor genetik pun dapat dilawan. Jagalah kesehatan dengan rutin berolahraga, rajin mengonsumsi makanan bernutrisi dan menghindari konsumsi makanan berlemak, juga menghindari kebiasaan buruk merokok atau minum minuman beralkohol.

     

     

    Source:

    Christina Chun, MPH. 2017. Medical News Today: Prostate Cancer in Detail. https://www.medicalnewstoday.com/articles/150086.php

    Prostate Cancer Foundation of Australia. What You Need to Know about Prostate Cancer. http://www.prostate.org.au/awareness/general-information/what-you-need-to-know-about-prostate-cancer/

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 33

    Enyahkan Asap Rokok Sebagai Salah Satu Upaya Pencegahan Kanker

    Posted on Mon, 23.07.2018

    Ayo bebaskan udara bumi kita dari asap rokok

    Setiap tanggal 31 Mei,  World Health Organization (WHO) menghimbau penduduk bumi untuk membuat dunia bebas dari tembakau (juga produk olahan tembakau seperti rokok, cerutu, sugi/suntil dll) selama satu hari itu. Apakah mungkin dan adakah manfaatnya?

    Perlu diketahui berbagai  kerusakan akibat  produk tembakau membutuhkan waktu yang panjang bahkan ada yang lebih dari 20 tahun baru terdeteksi. Kampanye satu hari bebas tembakau mungkin tidak akan dapat menurunkan secara langsung risiko kerusakan atau hal-hal negatif yang diakibatkannya. Namun, kampanye seperti ini perlu secara terus menerus dilakukan untuk membuktikan jika ada niat dan keinginan maka dunia bebas tembakau dapat terwujud karena “jika ternyata  sehari kita  bisa bebas dari asap rokok sebagai salah satu produk tembakau seharusnya setiap hari kita bebas dari asap rokok”. Terlebih, ada bukti lebih akurat yakni saat selama bulan Ramadhan, miliaran umat Islam yang perokok bisa bebas dari kebiasaannya mulai dari sahur hingga berbuka dengan hitungan rata-rata 12 jam. Secara medispun belum pernah ada laporan seorang perokok meninggal hanya karena tidak merokok.

    Mengapa asap rokok perlu diperangi?

    Dari sekian banyak produk tembakau maka rokok adalah yang paling nyata harus diperangi karena terbukti asap rokok tidak hanya merugikan bagi perokoknya (perokok aktif) tetapi juga bagi orang lain yang bukan perokok namun mendapat hadiah kebagian asap rokok tersebut (secondhand smoke = perokok pasif) dan bahkan orang lain terutama anak anak yang hanya kebagian menghirup partikel asap rokok yang menempel pada rambut, pakaian, sofa atau dinding rumah (thirdhand smoke).

    Mengapa asap rokok perlu diperangi?

    Asap rokok (tembakau) mengandung puluhan zat yang membahayakan kesehatan dan menjadi risiko untuk berbagai jenis penyakit (tobacco related diseases). Penyakit yang berkaitan dengan rokok antar lain kanker (paling tinggi kanker paru), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK=COPD),  penyakit jantung, stroke, asma brokial,dan lainnya. Selain itu, alasan mengapa rokok harus diperangi adalah:

    1. Penelitian di Indonesia melaporkan dampak ekonomi bahkan pada keluarga miskin karena rokok menjadi salah satu pengeluaran biaya rumah tangga yang   cukup besar setelah pengeluaran untuk pangan dan non-pangan. Padahal, rokok tidak berkaitan dengan kebutuhan dasar manusia.
    2. Pada generasi muda merokok dapat menjadi pintu gerbang untuk menjadi pengguna NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya.

    Mengapa merokok/paparan asap rokok menjadi faktor risiko kanker  ?

    Karena asap rokok mengandung banyak bahan atau partikel yang dapat memicu terjadinya kanker (zat-zat karsinogen). Maka salah satu usaha untuk mencegah terjadinya kanker adalah dengan mengupayakan diri terbebas dari paparan asap rokok. Khusus untuk kanker paru, asap rokok memberikan dua hal yang menyebabkan terjadinya kanker: satu dari kandungan zat-zat karsinogen itu sendiri dan yang lain adalah iritasi asap rokok pada saluran napas yang terus-menerus memicu perubahan pertumbahan sel/jaringan yang tergerus oleh asap rokok. Penelitian membuktikan peningkatan risiko kanker paru pada perokok juga dipengaruhi ketebalan asap rokok (rokok kretek), frekuensi merokok, dan kedalaman isapan pada saat merokok.

    Apa peran nikotin pada perilaku perokok ?

    Kesadaran tentang dampak buruk asap rokok berbahan tembakau kian meningkat dan banyak alternatif usaha untuk dapat berhenti merokok. Sebagian dari kegagalan usaha berhenti merokok itu adalah akibat dari ketergantungan/adiksi yang disebabkan oleh nikotin yang ada dalam kandungan asap rokok. Kadar nikotin ini menjadi bahan dagang untuk berbagai merek rokok dengan mencantumkan bahwa “kadar nikotinnya lebih rendah."  Namun, hal tersebut merupakan "informasi yang tidak tepat dan bahkan membodohi” karena  justru hal itu menguntungkan secara bisnis. Perokok dengan tingkat ketergantungan tinggi akan mengkonsumsi rokok  lebih sering (dan membeli jumlah batang rokok lebih banyak) untuk memenuhi kadar nikotin yang rendah dalam sebatang rokok. Beberapa produk pengganti nikotin digunakan untuk terapi berhenti merokok (nicotine replacement therapy) dengan bentuk dan dosis yang bermacam-macam. Sayangnya, harganya lebih mahal dari rokok dan membutuhkan tenaga medis.

    Bagaimana dengan rokok non-tembakau, apakah sama bahayanya?

    Di Indonesia, rokok berbahan dasar utama tembakau dapat ditemukan dengan berbagai macam bentuk mulai dari yang tradisional rokok linting, rokok dengan pipa/cangklong, rokok kretek dan rokok putih (rokok yang menggunakan saos tembakau) dengan kemasan yang menarik. Namun seiring dengan meningkatnya keinginan masyarakat untuk terhindar dari berbagai penyakit akibat rokok dan dengan semakin gencarnya kampanye anti rokok yang ada justru dimanfaatkan pebisnis yang jeli dengan memunculkan berbagai alternatif. Berkaitan dengan keinginan untuk berhenti merokok dan padu padan dengan gaya hidup banyak perokok tembakau menggantikan produk mereka dengan e–cigarrete/VAPE dan shisha. 

    Vape atau Rokok elektrik atau E-ciggarete

    Vape menjadi salah satu alternatif pengganti yang dipilih oleh perokok tembakau. Tidak seperti rokok tembakau, Vape atau rokok elektrik memiliki berbagai pilihan rasa. Selain pemilihan rasa, produk tersebut juga menyediakan beragam  jenis alat pemanas untuk memanaskan cairan vape yang menggandung nikotin atau biasa dikenal dengan vaporizer (koil). Vaporizer ini tersedia dalam berbagai jenis, yaitu

    1. Berbentuk pen dengan bentuk terkecil dan bisa dibawa ke mana-mana. Vaporizer pen dapat menghasilkan uap dengan cara memanaskan cairan vape.
    2. Jenis portable dikenal dengan handheld vaporizer bentuknya lebih besar dibandingkan dengan vaporizer pen sehingga  bisa dibawa ke manapun, sama seperti vaporizer pen.
    3. Jenis dekstop bentuknya lebih besar dan tidak dapat dibawa ke mana-mana. Penggunaan rokok elekrik atau vape "sama berbahaya dan tidak lebih aman dari rokok tembakau"  karena sama-sama mengandung nikotin yang menyebabkan adiksi atau ketagihan. Penelitian menunjukkan meski kandungan zat berbahayanya tidak sama persis dengan rokok, namun terbukti bahwa Vape mempunyai kandungan berbahaya lain yang tidak ada pada rokok. Pengguna Vape dilaporkan berisiko terkena kanker sama seperti rokok. Analisa kandungan asap Vape ditemukan berbagai kadar benzene sebagai salah satu zat karsinogen pada Vape. Karena sama sama menhasilkan asap  yang menggandung nanoperatikel maka risiko yang sama untuk penyakit saluran napas seperti rokok biasa. Sama seperti asap rokok tembakau sebagian asap Vape menjadi jatah untuk bukan perokok yang ada di sekitar pengguna Vape.

    Shisha atau waterpipe smoking

    Secara tradisional masyarakat di berbagai wilayah asia timur seperti timur tengah telah menggunakan Shisha sejak lama, namun tampaknya mulai meluas ke belahan bumi lain termasuk Indonesia. Shisa dikenal dengan banyak nama seperti hookang, waterpipe smoking dan hubble smoking. Shisha terdiri dari water jar (kendi) tempat meletakan cairan yang dapat terdiri dari ekstrak tembakau dengan tambahan berbagai rasa buah seperti apel, mangga, dll. Untuk menghasilkan asap cairan itu dipanaskan atau dibakar dengan serbuk kayu, arang atau batu bara. Pemanasan cairan Shisha akan menghasilkan asap/uap. Asap akan dialirkan lewar pipa/tube yang dan pada ujung ada mouthpiece alar penghisap/alat sedot sehingga asap (yang dihasilkan bahan pembakar dan cairan) akan memenuhi mulut hinggu ke paru paru dan sebagian besar asap/uap menjadi bagian yang dihirup orang lain yang berada disekitar pengguna Shisha. Pada dasarnya Shisha sama seperti asap rokok juga mengandung nikotin, tar dan berbagai bahan toxic seperti yang ada pada asap rokok. Penelitian menunjukan Shisha juga menjadi faktor resiko kanker terutama kanker mulut dan kanker paru. 

     

    KESIMPULAN.

    Himbauan untuk perokok: Enyahkan asap rokok, menghisap/menghirup asap dari rokok tembakau, Vape (rokok elektrik) ataupun Shisha (waterpipe smoking) mempunyai risiko yang sama untuk terjadinya kanker. Adalah tidak benar Vape dan Shisha menjadi alternatif  yang aman sebagai pengganti rokok tembakau. Himbauan untuk bukan perokok: enyahkan asap rokok dengan berani melarang perokok menghembuskan asapnya di sekiitar kita untuk mengurangi resiko terkena kanker.

     

    Daftar bacaan

    http://www.lung.org/our-initiatives/tobacco/reports-resources/sotc/by-the-numbers/10-worst-diseases-smoking-causes.html

    Chriswardani S, Ratna K, Ki Hariyadi. Konsumsi rokok rumah tangga miskin di Indonesia dan penyusunan agenda kebijakkannya. http://kebijakankesehatanindonesia.net/sites/default/files/makasar/Forum kebijakan Kes - Chris FKM UNDIP.pdf

    Pankow JF, Kim K, McWhirter KJ, Luo W, , Escobedo JO, Strongin RM, et al. Benzene formation in electronic cigarettes.PLoS One. 2017 Mar 8;12(3):e0173055.

    Canistro D, Vivarelli F, Cirillo S, Babot Marquillas C, Buschini A, Lazzaretti M, et al. E-cigarettes induce toxicological effects that can raise the cancer risk. Sci Rep. 2017 May 17;7(1):2028.

    Mahboub B, Mohammad AB, Nahlé A, Vats M, Al Assaf O, Al-Zarooni H..Determination of Nicotine and Tar Levels in Various Dokha and Shisha Tobacco Products. J Anal Toxicol. 2018 May 10. doi: 10.1093/jat/bky029.

    Alharbi F, Quadri MFA. Individual and Integrated Effects of Potential Risk Factors for Oral Squamous Cell Carcinoma: A Hospital-Based Case-Control Study in Jazan, Saudi Arabia. Asian Pac J Cancer Prev. 2018 Mar 27;19(3):791-6.

    Awan KH, Siddiqi K, Patil Sh, Hussain QA. Assessing the Effect of Waterpipe Smoking on Cancer Outcome - a Systematic Review of Current Evidence. Asian Pac J Cancer Prev. 2017 Feb 1;18(2):495-502.

    Jacob P 3rd, Abu Raddaha AH, Dempsey D, Havel C, Peng M, Yu L, Benowitz NL.Comparison of nicotine and carcinogen exposure with water pipe and cigarette smoking. Cancer Epidemiol Biomarkers Prev. 2013 May;22(5):765-72

    Kozlowski LT.Origins in the USA in the 1980s of the warning that smokeless tobacco is not a safe alternative to cigarettes: a historical, documents-based assessment with implications for comparative warnings on less harmful tobacco/nicotine products. Harm Reduct J. 2018 Apr 16;15(1):21

     

    Sumber Artikel :

    dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P (K) 

    * Pengurus Pusat Yayasan kanker Indonesia       

    * Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia- Rumah Sakit Persahabatan Rujukan Nasional Repirasi

     

     

     

    Selengkapnya >>