YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 19

YKI – UICC Jajaki Kerjasama Penanggulangan Kanker Pertukaran Informasi & Metoda Perawatan Paliatif

Posted on Thu, 22.03.2018

Jakarta, 19 Maret 2018 Dalam rangka menanggulangi kanker di dunia, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Union for International Cancer Control (UICC) hari ini di Jakarta saling menjajaki kerjasama penganggulangan kanker di dunia melalui pertukaran informasi dan metoda perawatan paliatif guna mendapatkan best practices yang akan digunakan…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 19

    YKI – UICC Jajaki Kerjasama Penanggulangan Kanker Pertukaran Informasi & Metoda Perawatan Paliatif

    Posted on Thu, 22.03.2018

    Jakarta, 19 Maret 2018 Dalam rangka menanggulangi kanker di dunia, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Union for International Cancer Control (UICC) hari ini di Jakarta saling menjajaki kerjasama penganggulangan kanker di dunia melalui pertukaran informasi dan metoda perawatan paliatif guna mendapatkan best practices yang akan digunakan untuk memaksimalkan kualitas hidup dan perawatan paliatif kanker.

    Pada kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, mengatakan, “Yayasan Kanker Indonesia merupakan anggota UICC sejak 1981, dan kami membuka peluang kerjasama dengan UICC dengan memberikan modul dan metoda pelatihan perawatan paliatif kanker yang telah sukses dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia untuk dapat dibagi pengalamannya kepada negara lain di dunia melalui UICC.  Penjajakan kerjasama ini juga untuk mendapatkan sertifikasi global bagi tenaga perawatan paliatif dari Indonesia.”

    Sementara itu, Dr. Julie Torode, Deputi CEO dan Direktur Advokasi & Jaringan UICC mengatakan, “Kami sangat senang dapat bermitra dengan Yayasan Kanker Indonesia untuk membangun sebuah jaringan yang terdiri atas komunitas tenaga relawan berkualifikasi dari seluruh Indonesia dalam perawatan paliatif kanker yang dilakukan di rumah, yang merupakan tahap kritis dan sangat penting dalam mendukung perawatan pasien-pasien kanker dan keluarganya, pada waktu yang sangat dibutuhkan.”

    Perawatan paliatif merupakan bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien penyakit tidak menular seperti kanker, yang tidak hanya menekankan pada gejala fisik, namun juga pada meningkatkan kualitas hidup seorang pasien secara psikososial dan spiritual.   Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien maupun bagi keluarganya yang berhadapan langsung dengan pasien penyakit yang mematikan tersebut.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 20

    Hair to Share: Berbagi Rambut untuk Pasien Kemoterapi Kanker

    Posted on Wed, 21.03.2018

    Jakarta, 21 Maret 2018 – Dukungan atau motivasi dari lingkungan sekitar merupakan salah satu "obat" penting bagi penderita kanker, khususnya bagi pasien kanker yang mengalami kebotakan usai menjalankan kemoterapi. Bersamaan dengan kegiatan Fun Run, SMP Pangudi Luhur bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menyelenggarakan aksi Hair to Share atau berbagi rambut sebagai bentuk kepedulian kepada penderita kanker, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Maret 2018 di SMP Pangudi Luhur, Jakarta.

    Dari kegiatan "Berbagi Rambut" itu, terkumpul 15 ikat rambut sepanjang 25 cm yang akan dibuat menjadi rambut palsu (wig) untuk disumbangkan kepada pasien kanker melalui YKI.

    Menariknya, peserta yang mengikuti aksi Hair to Share tidak hanya datang dari para siswa siswi SMP Pangudi Luhur, melainkan juga dari  ahli penyakit dalam Siloam TB Simatupang, dr. Eva Carolina Sitompul, SpPD beserta donatur umum lainnya.

    Caca, Siswi SMP Pangudi Luhur, pendonor termuda yang berusia 12 tahun mengatakan, "Aku ikut berpartisipasi supaya bisa bantu orang yang tidak ada rambutnya, dan senang sudah bisa bantu pasien kanker yang menjalani kemoterapi, aku juga berharap mereka bisa senang punya wig sebagai rambutnya.”

    dr. Eva Carolina Sitompul, SpPD, ahli penyakit dalam Siloam TB Simatupang rela menyumbangkan rambut demi memotivasi orang tua yang terkena penyakit kanker paru menyampaikan, "Kedua orang tua saya, ayah dan ayah mertua saya menyandang kanker paru stadium 4 dan mereka saat ini sedang menjalankan kemoterapi, mereka berdua sama-sama rontok rambutnya, dan fase depresi kehilangan semangat. Menurut saya, kalau saya bisa berbagi tentang kegiatan saya ini, dimana saya rela menyumbangkan rambut saya ini yang selama ini saya rawat, saya pelihara, saya pertahankan panjang, namun kali ini saya rela sumbangkan rambut saya untuk mereka, dan saya berharap bisa menjadi penyemangat bagi mereka.”

    Marsyana Retno, perempuan berusia 50 tahun, keluarga dari peserta Fun Run, menuturkan, "Saya tak pernah berpikir bahwa rambut saya ini dapat berguna untuk orang lain, ternyata menjadi berkat ya, semoga teman-teman tetap semangat. Ayo yakin pasti bisa, dan saya bahagia sekali dan bersyukur bisa menjadi berkat bagi orang lain.”

    Kegiatan Hair to Share bukan dinilai dari berapa banyak yang kita berikan, akan tetapi seberapa besar cinta yang kita berikan. Mungkin ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan kepeduliaan para pendonor yang telah rela membagikan rambutnya.  Para pendonor juga memiliki harapan yang sama bahwa penderita kanker harus tetap semangat dan yakin pada diri sendiri untuk sembuh.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 12

    Hidup Sehat dan Deteksi Dini Kanker Selamatkan Jiwa

    Posted on Mon, 19.03.2018

    KJRI Hong Kong kembali mengadakan klinik kesehatan gratis untuk wanita yang meliputi deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara. Acara kerjasama YKI Pusat dengan Indonesian Club HongKong ini berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 23-25 Februari 2018 dan didukung tujuh tenaga paramedis.

    Dalam kegiatan tersebut, 300 peserta yang hadir dapat secara bebas berkonsultasi dengan tim dokter dan bidan YKI. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk melakukan test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) untuk deteksi dini kanker servik dan perabaan deteksi dini kanker payudara. Konjen KJRI HongKong Tri Tharyat dalam sambutannya berharap bahwa kegiatan ini dapat terus rutin dilangsungkan, supaya lebih banyak orang mendapat kesempatan pemeriksaan kanker dini.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 17

    Lembaga Kanker Dunia Serukan Kesetaraan Akses Kurangi Kematian Prematur Kanker

    Posted on Mon, 19.03.2018

    Minggu, 4 Februari 2018 – Hari Kanker Sedunia, SEMARANG, Indonesia:  Hari Kanker Sedunia 2018 yang jatuh pada 4 Februari meningkatkan kesadaran jutaan warga dunia yang menghadapi kesenjangan dalam akses terhadap deteksi dini, pengobatan dan layanan perawatan kanker. Bersama para tokoh, praktisi kesehatan dan pegiat kanker di seluruh dunia, mendorong aksi penting untuk mengurangi kematian premature akibat kanker, memprioritaskan kecepatan hasil diagnosa dan akses terhadap pengobatan kanker di seluruh dunia.  

    Target dunia adalah untuk mengurangi kematian premature akibat kanker dan penyakit tak menular hingga 25% pada tahun 2025. Namun, untuk mendapatkan komitmen di seluruh dunia, ketidak setaraan saat ini terjadi dalam hal eksposur terhadap faktor risiko, akses terhadap skrining, deteksi dini, serta pengobatan dan perawatan yang sesuai secara tepat waktu and care, juga harus menjadi perhatian.

    Professor Sanchia Aranda, Presiden UICC dan CEO Dewan Kanker Australia mengatakan, “Target Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 adalah untuk mengurangi penyakit tak menular sebesar 25% dalam 14 tahun baru mencapai separuh jalan. Kita dapat mencapai target tersebut, namun masih banyak aksi nyata yang harus diambil.  Ketidaksetaraan dalam akses terhadap pencegahan, diagnosa, pengobatan dan perawatan yang membuat pengurangan kematian prematur akibat kanker menjadi sulit.  Jika kita berkomitmen untuk mencapai tujuan ini, kita semua harus bertindak cepat dan tegas untuk membuat akses terhadap layanan kanker yang berkeadilan di seluruh penjuru dunia”.  

    Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, Ketua Yayasan Kanker Indonesia mengatakan, “Pengobatan yang optimal dan ketersediaan fasilitas terapi –khususnya untuk penyakit kanker, adalah hak setiap warga negara.  Angka kejadian kanker di Indonesia hanya dapat diturunkan melalui kepedulian serta kesadaran masyarakat akan kebiasaan hidup yang sehat dan melakukan deteksi dini.”

    Menurut Yayasan Kanker Indonesia, penyakit kanker merupakan permasalahan di Indonesia dengan prevalensi yang cukup tinggi, yaitu 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orangSalah satu tindakan pencegahan kanker adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, termasuk olahraga lari.  

    Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Kanker Sedunia 2018, Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Cabang Semarang, bekerjasama dengan Pemkot Semarang dan didukung oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat, serta organisasi pegiat kanker lainnya melakukan kampanye dengan kegiatan Fun Run berjudul “Run Against Cancer” sepanjang 5+1 km di kota Semarang pada 4 Februari 2018 pukul 05.30, dengan starting dan finish point di Balaikota Semarang.  Pada kegiatan Run Against Cancer tersebut, masyarakat diajak untuk mengikuti pola hidup “CERDIK” yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin olahraga, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.  Kegiatan ini tercantum sebagai salah satu agenda dunia Hari Kanker Sedunia, dan dapat dilihat di situs: www.worldcancerday.org.

    Hari Kanker Sedunia, diprakarsai oleh Union for International Cancer Control (UICC), setiap tahunnya menyuarakan upaya penanggulanan kanker, sehinga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengakui untuk pertama kalinya kanker sebagai penyebab kematian utama di dunia. 

    Saat ini, diperkirakan terdapat 8,8 juta kematian akibat kanker setiap tahuannya.  Namun, 70% dari insiden tersebut terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah sampai menengah, dimana peralatan perawatan kanker masih merupakan beban. Daerah terparah yang berkaitan dengan kanker anak-anak – yang merupakan kelompok spesifik yang digaris-bawahi oleh WHO dalam Resolusi Kanker 2017 – dengan tingkat ketahanan hidup diatas 80% dialami negara-negara berpenghasilan tinggi dan hanya 20% di negara-negara berpendapatan rendah.

    Ketidak-setaraan ini juga dialami di negara-negara berpendapatan menengah dan atas, namun terfokus pada populasi tertentu, seperti penduduk asli, imigran, pengungsi, masyarakat pedesaan dan berpenghasilan rendah.

    Professor Sanchia Aranda lebih lanjut mengatakan,  dalam tahun terkahir kampanye “Kita bisa. Aku Bisa.’ pada Hari Kanker Sedunia, kami berharap dapat menginspirasi langkah konkret dari pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi ketidak-setaraan pada penanganan, pengobatan dan perawatan kanker, dimana sangat disayangkan telah berdampak pada populasi yang rentan di setiap negara. Kesenjangan antara masyarakat kelompok sosio-ekonomi tinggi dan rendah semakin besar. Sehingga suara yang terpinggirkan harus diwakili dalam diskusi-diskusi Hari Kanker Sedunia.”

    Contoh konkret dari sebuah kesenjangan akses di dunia yang secara khusus berdampak pada pelayanan sub-standar terhadap masyarakat pra-sejahtera adalah akses terhadap radioterapi. Sebagai metoda utama perawatan kanker, radioterapi direkomendasikan untuk 52% dari pasien kanker. Disayangkan bahwa kesenjangan terbesar antara kebutuhan dan ketersediaan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah s/d menengah; 90% pasien kanker di negara-negara berpendapatan rendah s/d menengah memiliki akses terbatas pada radioterapi. Namun, isu mengenai akses perawatawan kritis ini berkurang di banyak negara. Di negara China, terdapat kekurangan fasilitas radioterapi, dengan akses yang berbeda pada setiap provinsi. Di Inggris, akses terhadap jenis perawatan  radioterapi canggih Intensity Modulated Radiotherapy tergantung dimana pasien tinggal dan dapat menghadapi situasi yang jauh berbeda– antara 20% sampai 70%.

    Menyikapi kesenjangan keseteraan di dunia dan pentingnya tanggapan di masing-masing negara, UICC hari ini meluncurkan sebuah inisiatif kampanye, Treatment for All (Perawatan untuk Semua). Hal tersebut menandai inisiatif baru kedua dari UICC dalam beberapa tahun terakhir untuk memobilisasi aksi nasional guna meningkatkan akses terhadap diagnosa dan perawatan kanker, dan hal ini telah diakui secara langsung bahwa beban yang diakibatkan oleh kanker tidak dapat diringankan secara serta merta melalui pencegahan pengurangan insiden kanker.

    Dr Cary Adams, Chief Executive Officer UICC mengatakan, “Tsunami atas kasus-kasus kanker yang perlu diantisipasi dalam beberapa dasawarsa ke depan memerlukan  tanggapan yang persuasif dan serius pada setiap tingkat, baik dunia dan nasional.  Inisiatif Perawatan untuk Semua, sejalan dengan inisiatif C/Can 2025: Kota Tantangan Kanker, yang mana akan dilakukan untuk mempercepat progres dengan menerjemahkan komitmen dunia menjadi aksi nasional yang nyata, aman dan berkualitas."

    Dengan memberdayakan masyarakat pada tingkat individu,  kota, negara, dan pemerintah untuk mendorong inisiatif Perawatan untuk Semua dengan empat pilar pengobatan dan perawatan kanker, kita dapat mencapai:

    • Peningkatan kualitas data kanker untuk kepentingan kesehatan masyarakat
    • Peningkatan jumlah masyarakat yang dapat mengakses deteksi dini dan diagnosa kanker yang akurat
    • Pelayanan yang lebih tepat waktu dan berkualitas untuk penyakit metastasis, khususnya pada tahap awal
    • Sekurang-kurangnya layanan perawatan supportif dasar dan perawatan paliatif bagi sebanyak 32,6 juta orang yang hidup dengan kanker. 

    Pada Hari Kanker Sedunia, kampanye “Kita Bisa. Aku Bisa.” mendorong upaya untuk mengurangi penyakit kanker dan kematian penyakit tak menular sebesar 25% di seluruh dunia pada tahun 2025.

    • Penyakit tak menular atau penyakit kronis adalah penyakit dengan durasi panjang dengan perkembangan yang biasanya lambat. Empat tipe utama penyakit tak menular adalah penyakit jantung, kanker, penyakit pernafasan kronis, dan diabetes.
    • Masyarakat dunia telah berkomitmen untuk mengurangi kematian prematur akibat kanker dan penyakit tak menular sebanyak 25% pada tahun 2025 dan hal ini ditetapkan pada Rencana Aksi Global untuk Pencegahan dan Kontrol terhadap Penyakit Tak Menular 
    • Harapan utama bagi penyembuhan kanker mencakup radioterapi, operasi, dan pengobatan termasuk kemoterapi
    • Kesenjangan pada layanan kanker dan hasil pengobatan pasien tergantung pada dimana seseorang tinggal, dan ini sering disebut dengan istilah Postcode Lottery

    Tentang Hari Kanker Sedunia 2018

    Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari merupakan satu-satunya inisiatif  dimana masyarakat dunia dapat bersatu untuk meningkatkan profil kanker melalui cara positif dan inspiratif.  Diorganisasikan oleh Union for International Cancer Control (UICC), Hari Kanker Sedunia dalam dua tahun terakhir menggunakan  tagline ‘Kita Bisa. Aku Bisa.’ Yang menjelajahi bagaimana setiap orang, baik secara kelompok ataupun individu, dapat mengambil peran masing-masing untuk mengurangi beban akibat kanker.  Sebagaimana kanker dapat berdampak pada seseorang dengan cara berbeda, setiap orang pun juga memiliki kekuatan untuk bertindak dalam rangka mengurangi dampak kanker. Hari Kanker Sedunia merupakan kesempatan untuk merefleksikan apa yang dapat Anda lakukan, buatlah janji dan lakukan aksi! 

     

    Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.worldcancerday.org

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 18

    Berbagi dalam Fun Run 5K

    Posted on Mon, 19.03.2018

    Penyakit kanker masih menjadi momok menakutkan bagi masyarakat dunia termasuk Indonesia. Kasus penderita kanker khususnya kanker serviks dan kanker payudara semakin meningkat dari tahun ke tahun. Menurut Ketua Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Wicaksono, prevalensi penyakit kanker di Indonesia pada tahun 2016 berjumlah 17,8 juta dan menjadi 21,7 juta jiwa di tahun 2017.

    Berangkat dari hal itulah, Yayasan Kanker Indonesia bersama dengan SMP Pangudi Luhur mengajak masyarakat umum terutama siswa SMP wanita untuk lebih peduli terhadap bahaya penyakit kanker dan mengajak mereka untuk melakukan kontribusi yang bermanfaat untuk para pengidap kanker di Indonesia.

    Dalam acara bertajuk Fun Run #5K Pangudi Luhur yang akan dilangsungkan 17 Maret 2018 mendatang, peserta tidak hanya diajak untuk berolahraga lari sepanjang 5 kilometer tapi juga diajak untuk aware dan peduli terhadap penyakit kanker dengan cara menyumbangkan rambut sepanjang minimal 25 cm. Rambut yang disumbangkan tersebut nantinya akan digunakan untuk pembuatan wig bagi anak-anak dan wanita pengidap kanker.

     

    Untuk dapat berpartisipasi dalam acara Fun Run 5K Pangudi Luhur ini, simak syarat dan ketentuannya:

    • Melakukan registrasi yang sudah dibuka mulai 7 Februari – 7 Maret 2018
    • Panjang rambut yang akan disumbangkan minimal 25 cm
    • Rambut tidak dalam keadaan dicat
    • Rambut tidak dalam keadaan rusak, kering atau pecah-pecah

    Cara pemotongan rambut:

     

    1. Kepang atau tarik rambut ke belakang dan ikat dengan karet tepat di bawah bagian rambut yang akan dipotong. Jika rambut dikepang, jangan lupa untuk mengikat kepang bagian bawah dan atas.
    2. Pegang rambut yang telah dikepang dengan erat dan potong menggunakan gunting tajam tepat di atas karet pengikat.
    3. Masukkan rambut hasil guntingan yang telah diikat dan dikeringkan ke dalam tas plastik lalu tutup/ikat tas plastik dengan rapat. Tempelkan identitas pendonor di plastik.
    4. YKI akan menyediakan dua tenaga hair dresser untuk membantu dalam kegiatan tersebut

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 3

    Ketika Kualitas Udara di Perkotaan Semakin Rendah

    Posted on Thu, 03.08.2017

    Kualitas udara merupakan faktor penentu dalam mendukung kesehatan seseorang. Udara yang kita hirup jika mengandung zat-zat polutan akan sangat membahayakan kesehatan, menempatkan tubuh pada risiko penyakit berbahaya seperti asma, stroke, hingga kanker.

    Kualitas udara yang buruk dengan tingginya zat polutan yang terkandung di dalamnya ini turut menyumbang dalam angka kematian dini di dunia. Menurut data dari WHO, sebanyak 88% dari total kasus kematian dini di negara dengan pendapatan rendah dan menengah di dunia terjadi akibat kualitas udara yang buruk. Di perkotaan khususnya pada negara berkembang, polusi udara kian meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti tingginya kegiatan industri, padatnya volume kendaraan bermotor, atau kurangnya ruang terbuka hijau (RTH).

    Di negara berkembang di mana kegiatan industri banyak dilakukan, contohnya di Indonesia sendiri, perlu dilakukan pemantauan aktivitas sektor industri dan transportasi yang efektif. Hal ini penting untuk menjaga kualitas udara agar tidak tercemar dengan emisi gas seperti CO dan ozon yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kandungan ozon di udara jika terhirup masuk ke tubuh akan menyebabkan iritasi pada mata dan hidung, batuk, sakit kepala, hingga rusaknya fungsi paru-paru. Sementara itu, karbon monoksida atau CO jika mencemari lingkungan dengan kadar tinggi dapat menaruh manusia pada risiko kematian. Pasalnya, gas CO mampu mengikat hemoglobin dalam darah sehingga mengganggu pengikatan oksigen. Jika dihirup, seseorang dapat merasakan sakit kepala, pusing, lemas dan mual.

    Tidak hanya disebabkan oleh pencemaran udara dari sektor transportasi dan industri, memburuknya kesehatan pernapasan juga bisa didapat dari tingginya indoor smoke di perkotaan. WHO menyebutkan, sebanyak tiga juta orang yang masak menggunakan bahan bakar biomassa dan batubara dalam dapur rumah mereka berisiko mengalami risiko kesehatan serius .

    Selengkapnya >>