YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 51

YKI Terapkan Empat Pilar Utama Penanggulanan Kanker di Indonesia

Posted on Fri, 02.11.2018

Jakarta, 31 Oktober 2018 – Pada tanggal 1 sampai 4 Oktober 2018 telah berlangsung World Cancer Congress 2018 (WCC) di Kuala Lumpur, Malaysia, yang menghasilkan resolusi bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk menerapkan empat pilar utama penanggulangan kanker di Indonesia.

WCC merupakan konperensi tingkat…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 51

    YKI Terapkan Empat Pilar Utama Penanggulanan Kanker di Indonesia

    Posted on Fri, 02.11.2018

    Jakarta, 31 Oktober 2018 – Pada tanggal 1 sampai 4 Oktober 2018 telah berlangsung World Cancer Congress 2018 (WCC) di Kuala Lumpur, Malaysia, yang menghasilkan resolusi bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk menerapkan empat pilar utama penanggulangan kanker di Indonesia.

    WCC merupakan konperensi tingkat internasional yang diakui dan mendorong adanya pertukaran pengetahuan secara efektif dan praktik-praktik terbaik diantara 3.500 pakar kesehatan dan pakar pengendalian kanker dunia. Tujuan dari WCC adalah untuk memperkuat aksi dan dampak komunitas kanker pada skala nasional, regional dan internasional melalui program edukasi yang mencakup seluruh hal terkait kanker, mulai dari pencegahan hingga perawatan paliatif.

    Penanggulangan kanker menjadi sangat penting di Indonesia. Menurut WHO jumlah pengidap kanker tiap tahun bertambah 7 juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang. Di Indonesia, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Menurut data GLOBOCAN 2018, dengan populasi Indonesia yang lebih dari 260 juta, terdapat hampir 350.000 kasus kanker baru dan lebih dari 207.000 kematian.  Sementara jumlah prevalensi selama 5 tahun adalah sebesar 775.000+ kasus. Adapun menurut WHO (2003) di negara-negara berkembang kasus kanker meningkat secara tajam yaitu lebih dari 50%, dari 10 juta kasus pada tahun 2000 menjadi 16 juta pada tahun 2020.

    Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP selaku Ketua Umum YKI menjelaskan, “Meningkatnya kasus kanker secara drastis patut menjadi perhatian segenap masyarakat. Yayasan Kanker Indonesia mempunyai visi untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap penyakit kanker, dan menjalankan misi untuk melakukan segala upaya peningkatan pemahaman publik melalui program sosialisasi tentang pentingnya pencegahan kanker, dan melakukan kegiatan pendukung yang menekankan pada pentingnya deteksi dini kanker mengingat kanker dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini.”

    Sementara perawatan terhadap pasien kanker harus terus diperhatikan dari sisi kualitas dan aksesibilitas, perawatan paliatif-pun merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. Perawatan paliatif sekarang sudah menjadi bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien tidak menular seperti kanker.

    Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik sebagai kebutuhan manusiawi dan hak asasi bagi penderita penyakit yang sulit disembuhkan atau sudah berada pada stadium lanjut.

    “Sebagai anggota aktif dari The Union for International Cancer Control atau UICC dalam World Cancer Congress 2018, Yayasan Kanker Indonesia mencatat empat pilar penanggulangan kanker yang pelaksanaannya perlu didukung oleh kebijakan-kebijakan yang dapat mempercepat terciptanya Perawatan Bagi Semua Orang atau Treatment for All,” ujar Prof. Aru Sudoyo.

    Keempat pilar penanggulangan kanker adalah: (1) data kanker yang lebih akurat untuk kebutuhan kesehatan publik; (2) akses terhadap deteksi dini dan diagnosa; (3) perawatan tepat waktu dan akurat; (4) perawatan suportif dan paliatif.

    Pilar pertama perlu didukung kemampuan dan kesungguhan dalam melaksanakan riset yang mendalam secara konsisten. Pilar kedua menjadi penting mengingat kondisi yang ditemukan adalah bahwa hampir sebagian penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti yang diharapkan meskipun tata laksana kanker telah berkembang dengan pesat.  

    “Catatan yang perlu mendapat perhatian pada pilar ketiga dan keempat yaitu peran nutrisi. Nutrisi merupakan faktor esensial dalam pengobatan pasien kanker. Peran nutrisi dalam melindungi pasien kanker sangat menentukan efektif atau tidaknya terapi kemo atau radiasi secara maksimal, mengingat keberhasilan terapi sangat berhubungan dengan kondisi imunitas pasien yang erat kaitannya dengan peran nutrisi. Strategi “Cancer Starvation” melalui diet menghindari gula, daging merah dan produk-produk yang mengandung susu, perlu diterapkan dan menggantinya dengan berbagai produk yang mengandung selenium , zinc, magnesium, vitamin-vitamin dan antioksidan,” jelas Prof. Aru Sudoyo.

    Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia perlu memberikan dukungan terhadap perawatan paliatif agar pasien kanker memiliki kualitas hidup yang lebih baik, khususnya dengan melibatkan pemerintah untuk menerapkan ‘Kebijakan Perawatan Paliatif Nasional’, termasuk melengkapi Program Paliatif Andalan dengan Terapi Nutrisi; membangun koalisi advokasi untuk mendukung peningkatan perawatan suportif dan paliatif kanker; dan meningkatkan pemahaman masyarakat dan praktisi kesehatan akan tanda-tanda dan gejala-gejala kanker untuk melakukan deteksi dini dan rujukan yang tepat waktu, sehingga dapat mengurangi permintaan terhadap perawatan paliatif di Indonesia.

    Yayasan Kanker Indonesia telah mengadakan program perawatan paliatif di rumah sejak tahun 1995 yang berlokasi di Yayasan Kanker Indonesia Lebak Bulus, Jakarta. YKI memiliki potensi sumber daya manusia dan memiliki hubungan baik dengan organisasi profesi kesehatan lainnya untuk memberikan program pelatihan perawatan paliatif untuk pasien kanker perawatan di rumah.

    Terkait dengan hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia terus melakukan pengembangan program perawatan paliatif di YKI Cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2017, YKI telah melaksanakan kegiatan pelatihan di beberapa cabang YKI, yakni Kupang, Palembang, Makassar dan Bandung. Sedangkan di tahun 2018 YKI berencana melaksanakan kegiatan pelatihan di Semarang, Jakarta, Tanjung Pinang – Kepulauan Riau, dan Lampung.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 50

    Penyerahan Donasi Program Peduli Kanker Indomaret

    Posted on Thu, 01.11.2018

    Yayasan Kanker Indonesia mengucapkan terima kasih kepada Indomaret yang sudah melakukan pengumpulan donasi dalam Program Peduli Kanker dan telah melakukan proses penyerahan hasil donasi sebesar Rp. 4.309.973.129 pada 30 oktober 2018 kepada Yayasan Kanker Indonesia. Bantuan dana tersebut akan disalurkan untuk pembangunan rumah singgah bagi penderita kanker di Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada -Jakarta, dan pengadaan mobil khusus untuk operasional dan antar jemput pasien kanker di Bandung.

    Salam sejahtera dari kami selaku penerima donasi untuk seluruh pelanggan Indomaret yang sudah berpartisipasi dalam program ini.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 48

    Pentingnya Menjaga Kualitas Hidup Pasien dan Modalitas Terapi Kanker Tiroid

    Posted on Wed, 10.10.2018

    JAKARTA, 10 Oktober 2018 – Yayasan Kanker Indonesia  (YKI) pada hari Selasa, 9 Oktober 2018 menggelar diskusi ilmiah bertajuk “Pentingnya Peningkatan Kualitas Hidup” dan “Perlunya penangangan yang tepat dengan berbagai modalitas Terapi Kanker Tiroid” berlangsung di Sasana Marsudi Husada, YKI Lebak Bulus.

    Diskusi ilmiah bertema Kanker Tiroid menghadirkan Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP yang membawakan makalah mengenai “Terapi Sistemik pada Pasien Kanker Tiroid”; Dr. Hapsari Indrawati, SpKN dengan topik “Ablasi pada Pasien Kanker Tiroid dan Bagaimana mengatasi gejala Hipotiroid” dan DR. dr. Sonar S. Panigoro dengan topik “Peran Pembedahan pada Kanker Tiroid”, dengan lebih dari 100 penyintas kanker tiroid sebagai peserta.

    Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP menyampaikan, “Gaya hidup sehat merupakan kunci terhadap pencegahan terkena kanker tiroid yang lebih banyak menyerang gender wanita, mereka yang terkena pajanan terhadap radiasi berkekuatan tinggi, dan sindrom genetika yang diturunkan. Jika kanker tiroid ditemukan, pengobatan yang tersedia meliputi pembedahan, yodium radioaktif, hormon tiroid, radioterapi luar, kemoterapi atau dengan terapi target atau sasaran khusus.”

    Saat seseorang terkena kanker tiroid, maka akan mengganggu hormon tiroid dan menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kadar hormon tiroksin di dalam tubuh sangat tinggi.  Hal ini menyebabkan hiperaktifitas atau hiperiritasi, penderita menjadi tidak tahan udara panas, jantung berdetak cepat, lekas lelah dan lemah, turunnya berat badan meski nafsu makan naik, diare, poliuria atau meningkatnya buang air kecil secara berlebih, menstruasi tidak teratur, dan hilangnya libido.

    Sementara itu, hipotiroidisme adalah kondisi dimana kelenjar tiroid tidak membuat hormon tiroid dengan cukup. Tanda-tandanya tubuh lekas lelah dan lemah, kulit kering, merasa kedinginan terus, rambut rontok, sulit konsentrasi dan daya ingat berkurang, konstipasi, berat badan bertambah meski nafsu makan berkurang, suara serak, menstruasi tidak teratur, sensasi abnormal berupa kesemutan, tertusuk, atau terbakar pada kulit, gangguan pendengaran, muka sembab, turunnya refleks urat, jari tangan mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri, denyut jantung dibawah 60 per menit, dan efusi pleura -penumpukan cairan diantara dua lapisan pleura yang membungkus paru-paru. 

    Lebih lanjut Prof. Aru menerangkan tentang sejumlah faktor makanan yang memicu dan dapat meningkatkan risiko kanker seperti alkohol yang dapat mempengaruhi kesehatan mulut, tekak, pangkal tenggorokan saluran kerongkongan, hati, payudara, usus besar dan dubur; sementara garam yang berlebih berpengaruh terhadap kesehatan lambung; gula yang berlebih terhadap usus besar dan dubur; daging yang dipanggang dengan arang berkemungkinan berpengaruh terhadap usus besar dan dubur; lemak total dan lemak jenuh berpengaruh terhadap kesehatan paru-paru, usus besar, dubur, payudara dan prostat.

    Adapun faktor makanan yang berhubungan dengan pengurangan risiko kanker meliputi makanan berserat yang bermanfaat bagi kesehatan kolorektal, pankreas dan payudara; asam folik untuk kesehatan serviks dan kolorektal; Vitamin D dan kalsium untuk kolorektal dan payudara; antioksidan baik yang bersifat nutrisi dan non-nutrisi dari makanan baik untuk kesehatan kolorektal, paru-paru, payudara, serviks, prostat, kerongkongan dan lambung; vitamin C yang bersumber dari makanan untuk kesehatan mulut, kerongkongan, paru-paru, lambung, pankreas dan serviks; the (flavonoids) baik untuk kesehatan paru-paru dan kolorektal; dan zat Alpha-tocopherol baik untuk paru-paru; serta isoflavon kedelai untuk kesehatan payudara. Sedangkan penyebab kanker lainnya termasuk rokok (160.000 dari 514.000 kematian karena kanker disebabkan oleh rokok); kurang berolah raga; dan obesitas.

    Sementara itu DR. dr. Sonar S. Panigoro yang membawakan topik “Peran Pembedahan pada Kanker Tiroid” mengatakan, “Penanganan tumor padat diawali dari penemuan klinis, biopsi dan imajing untuk diagnosis kanker, dilanjutkan dengan penentuan stadium, penentuan jenis pengobatan apakah dilanjutkan dengan bedah, radiasi, atau hormonal kemoterapi.  Namun berdasarkan pengalaman, sebagian besar benjolan tiroid bersifat jinak, dan hanya 10%-15% yang ganas sehingga perlu tindakan pembedahan.”

    DR. Sonar menjelaskan bahwa benjolan tiroid yang tidak ditangani pada pasien dengan riwayat radiasi leher dengan usia muda atau lanjut, benjolan dapat bertambah besar, terjadi pembesaran kelenjar getah bening leher, suara serak, dan mengalami kesulitan makan dan minum.

    Dalam pemaparan bertajuk “Ablasi pada Pasien Kanker Tiroid dan bagaimana mengatasi gejala Hipotiroid”, Dr. Hapsari Indrawati, SpKN menjelaskan bahwa menurut data American Cancer Society 2007, terdapat 33,550 kasus baru dalam kanker tiroid yang menyebabkan 1,530 kematian. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker tiroid terus meningkat, meski jumlah kematian akibat kanker tiroid relatif stabil.”

    Dr. Hapsari berfokus pada penjelasan mengenai terapi Radioiodine (I-131) yang sudah umum digunakan untuk menghancurkan sisa jaringan tiroid di lapang operasi pasca pembedahan tiroid total atau near-total, dimana tujuannya adalah untuk menurunkan kemungkinan kekambuhan lokal dan memperbaiki kondisi pasien dengan metastasis (penyebaran).

    Dr. Hapsari menekankan pentingnya untuk terus mengkonsumsi hormon tiroid sepanjang hidup pasien agar tidak terkena gejala hipotiroid yang dapat menyebabkan pasien lemah, bertambah berat badan, produktifitas kerja berkurang, kenaikan tingkat TSH (Thyroid Stimulating Hormone).

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 36

    Perawatan Paliatif untuk Penderita Kanker

    Posted on Mon, 10.09.2018

    Prevalensi penyakit kanker khususnya di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dari 240 juta penduduk Indonesia, ada sekitar 240.000 penderita kanker baru tiap tahunnya. Meski pengobatan penyakit kanker sudah berkembang dengan baik, kebanyakan kasus kanker baru ditemukan setelah mencapai stadium akhir. Selain itu, para penderita kanker selalu dibayangi ketakutan bahwa kanker akan berujung pada penderitaan dan kematian. Padahal, ada harapan bagi setiap penderita kanker untuk bertahan dan menghindari sakit akibat kanker.

    Untuk menindaklanjuti hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia bekerjasama dengan ROICAM (The Role of Internist in Cancer Management) menyelenggarakan suatu talkshow bertema: Doctor-Patients Communication in Palliative Cancer Care, Jumat 24 Agustus 2018 di Hotel Borobudur, Jakarta. Perawatan paliatif merupakan salah satu cara merawat penderita kanker yang belum banyak dikenal masyarakat. Berasal dari kata palliate yang artinya mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, perawatan paliatif ini diberikan pada penderita kanker untuk membantu meringankan penderitaan mereka akibat kanker yang diderita.

    Pelaksanaan perawatan paliatif berbeda dari perawatan kanker lain pada umumnya. Perawatan paliatif bukanlah suatu pengobatan untuk menyembuhkan namun meringankan penderitaan pasien kanker sebelum, saat dan setelah terapi.  Dalam perawatan ini, pasien kanker tidak lagi merasakan nyeri dan diupayakan tidak ada lagi tindakan invasif yang dapat menyakiti pasien.

    Menurut Penanggungjawab Program Paliatif Yayasan Kanker Indonesia Pusat dr. Siti Anissa Nuhonni, SpKFR(K), komunikasi merupakan kunci dari perawatan kanker ini, di mana penderita kanker akan ditangani melalui metode pendekatan terapeutik. Ini karena psikologis para penderita kanker –khususnya yang sudah mencapai stadium terminal- cenderung berubah negatif. Selain itu, ketiadaan support atau dukungan moril juga menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan psikologis penderita kanker.

    Perawatan ini pula, menurut Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof.DR.Dr. Aru Wicaksono Sudoyo, Sp.PD,KHOM,FINASM,FACP, dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga yang berhadapan langsung dengan penyakit tersebut, baik secara fisik, psikososial maupun spiritual. Dengan begitu, diharapkan angka kesembuhan dan harapan hidup pasien kanker dapat lebih baik.

    Yayasan Kanker Indonesia telah mengadakan perawatan paliatif di rumah sejak tahun 1995 yang berlokasi di Yayasan Kanker Indonesia Lebak Bulus, Jakarta. Di sana, YKI memiliki potensi sumber daya manusia dan memiliki hubungan baik dengan organisasi profesi kesehatan untuk memberikan program pelatihan perawatan paliatif kepada pasien kanker perawatan di rumah. Pengembangan program pun terus dilakukan, sehingga sepanjang tahun 2017-2018, YKI telah melaksanakan kegiatan pelatihan di beberapa cabang YKI di kota Kupang, Palembang, Makassar, Bandung dan Jakarta.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 31

    Perawatan Paliatif Penting Untuk Tumbuhkan Harapan Pasien Kanker

    Posted on Mon, 07.05.2018

    Semarang, 6 Mei 2018 – Seiring dengan meningkatnya insiden kanker di dunia, Yayasan Kanker Indonesia Pusat dan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Kota Semarang bersinergi dengan PT Garuda Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker di Rumah bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Rawat dilaksanakan di RSUP Dr. Kariadi, Semarang pada tanggal 6 – 8 Mei 2018.

    Paliatif merupakan jenis perawatan yang belum banyak dikenal di masyarakat. Paliatif berasal dari kata palliate yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya paliatif merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. Perawatan paliatif sekarang sudah menjadi bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien tidak menular seperti kanker. Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik sebagai kebutuhan manusiawi dan hak asasi bagi penderita penyakit yang sulit disembuhkan atau sudah berada pada stadium lanjut.

    Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP selaku Ketua Umum YKI menjelaskan, “Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien kanker penting untuk terus dilakukan bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Rawat, namun juga masyarakat. Perawatan Paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, namun juga bagi keluarganya yang berhadapan langsung dengan penyakit tersebut, baik secara fisik, psikososial ataupun spiritual.”

    Menurut WHO jumlah pengidap kanker tiap tahun bertambah 7 juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang. Di Indonesia, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, ada 240.000 pengidap kanker baru setiap tahunnya.

    Kondisi yang ditemukan, hampir sebagian penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti yang diharapkan meskipun tata laksana kanker telah berkembang dengan pesat. Pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang memerlukan pendekatan terintegrasi berbagai disiplin ilmu agar pasien tersebut memiliki kualitas hidup yang baik dan pada akhir hayatnya meninggal secara bermartabat.

     

    Yayasan Kanker Indonesia telah mengadakan program perawatan paliatif di rumah sejak tahun 1995 yang berlokasi di Yayasan Kanker Indonesia Lebak Bulus, Jakarta. YKI memiliki potensi sumber daya manusia dan memiliki hubungan baik dengan organisasi profesi kesehatan lainnya untuk memberikan program pelatihan perawatan paliatif untuk pasien kanker perawatan di rumah.

    Terkait dengan hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia terus melakukan pengembangan program perawatan paliatif di YKI Cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2017, YKI telah melaksanakan kegiatan pelatihan di beberapa cabang YKI, yakni Kupang, Palembang, Makassar dan Bandung. Sedangkan di tahun 2018 YKI berencana melaksanakan kegiatan pelatihan di Semarang, Jakarta, Samarinda, Banjarmasin, Papua, Aceh, Bandung, Yogyakarta, Padang, Kepulauan Riau, Lampung dan Ende.

    Yayasan Kanker Indonesia Pusat dan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Semarang bersinergi dengan PT Garuda Indonesia menyelenggarakan pelatihan perawatan pasien paliatif kanker di rumah untuk tenaga kesehatan dan tenaga pelaku rawat (caregiver) pada tanggal 6 – 8 Mei 2018 di Semarang, Jawa Tengah. Tim pengajar paliatif terdiri dari dokter, perawat, dan fisioterapis. Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta akan memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan pasien paliatif di rumah.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 28

    Champion Change at the 2018 World Cancer Congress in Kuala Lumpur

    Posted on Fri, 27.04.2018

     

    The World Cancer Congress in Kuala Lumpur (1-4 October 2018) will convene a multisectoral community of 3’500 foremost cancer and health experts, political and business leaders, scientists and public figures who share a real passion and engagement to reverse the course of cancer and other NCDs. The event aims to strengthen the action and impact of the cancer community on national, regional and international scales through its educational programme that spans the full spectrum of cancer - from prevention and treatment to palliative and supportive care. 
      
    There are many accounts of Congress delegates who took advantage of our educational symposium to further their career and personal development. The story of a paediatrician from South East Asia, expert in molecular genetics, who raised US$100,000 for paediatric cancer after putting into practice what he had learnt at a Master Course, is a great example of how a researcher stepped outside his comfort zone to succeed beyond his expectations. 
      
    This year’s programme includes about 90 multidisciplinary sessions that have been selected for their novel practices in cancer implementation science. Pertinent topics to the South East region such as obesity, tobacco control, HPV vaccination and screening programmes as well as complimentary medicines and economics of cancer care will feature prominently in the agenda. Discover the online programme and start building your own schedule. In addition, capacity building schemes, workshops, discussion cafés, big debates, inspiring plenary speakers and more will also contribute to increase participants’ abilities and skills to empower them to do a better job today. 

    As stated by 
    a past Congress participant, the Congress is more than a conference, it is a global movement and it is about action. So, if you want to showcase your achievements, learn from others’ experiences and meet an incredible range of experts from all backgrounds and countries, the Congress in Kuala Lumpur is the place to be. Register now at http://www.worldcancercongress.org/registration-fees

     

    For more info : https://www.youtube.com/watch?v=juwaYJRDyTI

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 26

    PADUAN SUARA SURVIVOR YKI

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Maret 2018, Paduan Suara Survivor YKI yang kembali diaktifkan sejak tahun 2016 untuk tampil dalam acara konser HyperLove pada tanggal 19 Desember 2016 di Taman Ismail Marzuki. 

    Pada akhir bulan Maret 2018 mengukir prestasi dengan mengikuti Lomba Vocal Group Lagu-Lagu Daerah Indonesia 2018 dengan tema "Senandung Lagu Nusantara" yang diadakan oleh Rumah Cinta Indonesia bertempat di Museum Bank Indonesia.  

    Pada lomba ini, VG Survivor YKI lolos seleksi awal dari 35 peserta masuk ke dalam 20 kelompok VG yang berhasil lolos ke semifinal dan kemudian masuk ke dalam 10 besar finalis. Dibandingkan dengan para finalis lain yang berusia masih muda, bahkan remaja, anggota VG Survivor YKI berusia antara 52-72 tahun.

    Semoga Paduan Suara Survivor YKI dapat semakin kompak dan berprestasi sehingga memberi semangat kepada pasien dan survivor kanker lain untuk terus berkarya dan berprestasi.

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 24

    HUT 41 Tahun Yayasan Kanker Indonesia “Waspada Bahaya Kanker Mengintai Masyarakat”

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Jakarta, 17 April 2018 –  Bahaya kanker semakin gencar  mengintai masyarakat, khususnya yang terus menjalankan gaya hidup tak sehat.  Dalam  Hari Ulang Tahun Yayasan Kanker Indonesia (YKI) ke-41 tahun, YKI mengingatkan masyarakat untuk mewujudkan hidup sehat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker.

    Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR.Dr.Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, FINASIM, mengatakan, “Pada HUT YKI ke-41 tahun, YKI mengucapkan terima kasih kepada segenap pengurus YKI, para donator, volunteer, serta seluruh unsur masyarakat yang telah mendukung penanggulangan kanker, dan terus mengingatkan masyarakat untuk merubah pola hidup tak sehat dengan meningkatkan pengetahuan akan bahaya penyakit kanker,  melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker, serta memahami faktor-faktor  pencetus kanker yang berhubungan dengan perilaku dan lingkungan, hal ini karena kanker terus mengintai kita semua.”

    Kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko, seperti tidak merokok atau terpolusi asap rokok, tidak mengkonsumsi alkohol, melindungi kulit dari paparan sinar ultra violet, menghindari obesitas dengan diet seimbang dan aktivitas fisik, serta mencegah infeksi  yang  berhubungan dengan kanker.  Deteksi atau skrining akan membantu seseorang untuk dapat terdiagnosa lebih dini sehingga memungkinkan pengobatan dengan hasil yang baik.

    Kematian akibat Kanker

    Urutan penyakit kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan adalah kanker payudara, kanker serviks dan kanker kolorektal, sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru-paru, kanker kolorektal dan kanker prostat.  Prevalensi kanker kolorektal di Indonesia meningkat srcara signifikan akibat pola konsumsi makanan yang berubah selama 25 tahun belakangan ini.

    Atas dasar tersebut, dalam usianya yang ke 41 tahun, YKI akan meningkatkan fokus pada penanggulangan kanker kolorektal yang juga dikenal dengan kanker usus besar dengan mendorong keterlibatan seluruh unsur masyarakat.

    Tentang Yayasan Kanker Indonesia

    Masalah utama dalam penanggulangan kanker adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kanker dan kesadaran masyarakat untuk melakukan perilaku hidup sehat untuk mengurangi risiko kanker serta melakukan deteksi dini kanker. Akibatnya sebagian besar kanker ditemukan pada stadium lanjut dan sulit ditanggulangi, sehingga memberikan beban yang besar bagi pasien kanker dan keluarganya.

    Berdasarkan kepedulian dan keprihatinan terhadap semakin banyaknya penderita kanker, rendahnya pengetahuan masyarakat akan penyakit ini serta tingginya angka kematian penderita akibat datang berobat pada stadium lanjut, 17 tokoh masyarakat dan pemerhati kesehatan terpanggil untuk mendirikan Yayasan Lembaga Kanker Indonesia (YLKI) pada tanggal 17 April 1977 sebagai organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker.

    Selengkapnya >>