YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 31

Perawatan Paliatif Penting Untuk Tumbuhkan Harapan Pasien Kanker

Posted on Mon, 07.05.2018

Semarang, 6 Mei 2018 – Seiring dengan meningkatnya insiden kanker di dunia, Yayasan Kanker Indonesia Pusat dan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Kota Semarang bersinergi dengan PT Garuda Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker di Rumah bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Rawat dilaksanakan di

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 31

    Perawatan Paliatif Penting Untuk Tumbuhkan Harapan Pasien Kanker

    Posted on Mon, 07.05.2018

    Semarang, 6 Mei 2018 – Seiring dengan meningkatnya insiden kanker di dunia, Yayasan Kanker Indonesia Pusat dan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Kota Semarang bersinergi dengan PT Garuda Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker di Rumah bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Rawat dilaksanakan di RSUP Dr. Kariadi, Semarang pada tanggal 6 – 8 Mei 2018.

    Paliatif merupakan jenis perawatan yang belum banyak dikenal di masyarakat. Paliatif berasal dari kata palliate yang berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya paliatif merupakan suatu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. Perawatan paliatif sekarang sudah menjadi bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien tidak menular seperti kanker. Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik sebagai kebutuhan manusiawi dan hak asasi bagi penderita penyakit yang sulit disembuhkan atau sudah berada pada stadium lanjut.

    Prof. Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP selaku Ketua Umum YKI menjelaskan, “Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien kanker penting untuk terus dilakukan bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Rawat, namun juga masyarakat. Perawatan Paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien, namun juga bagi keluarganya yang berhadapan langsung dengan penyakit tersebut, baik secara fisik, psikososial ataupun spiritual.”

    Menurut WHO jumlah pengidap kanker tiap tahun bertambah 7 juta orang, dan dua per tiga diantaranya berada di negara-negara yang sedang berkembang. Di Indonesia, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, ada 240.000 pengidap kanker baru setiap tahunnya.

    Kondisi yang ditemukan, hampir sebagian penyakit kanker ditemukan pada stadium lanjut, sehingga angka kesembuhan dan angka harapan hidup pasien kanker belum seperti yang diharapkan meskipun tata laksana kanker telah berkembang dengan pesat. Pasien dengan kondisi tersebut mengalami penderitaan yang memerlukan pendekatan terintegrasi berbagai disiplin ilmu agar pasien tersebut memiliki kualitas hidup yang baik dan pada akhir hayatnya meninggal secara bermartabat.

     

    Yayasan Kanker Indonesia telah mengadakan program perawatan paliatif di rumah sejak tahun 1995 yang berlokasi di Yayasan Kanker Indonesia Lebak Bulus, Jakarta. YKI memiliki potensi sumber daya manusia dan memiliki hubungan baik dengan organisasi profesi kesehatan lainnya untuk memberikan program pelatihan perawatan paliatif untuk pasien kanker perawatan di rumah.

    Terkait dengan hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia terus melakukan pengembangan program perawatan paliatif di YKI Cabang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2017, YKI telah melaksanakan kegiatan pelatihan di beberapa cabang YKI, yakni Kupang, Palembang, Makassar dan Bandung. Sedangkan di tahun 2018 YKI berencana melaksanakan kegiatan pelatihan di Semarang, Jakarta, Samarinda, Banjarmasin, Papua, Aceh, Bandung, Yogyakarta, Padang, Kepulauan Riau, Lampung dan Ende.

    Yayasan Kanker Indonesia Pusat dan Yayasan Kanker Indonesia Cabang Semarang bersinergi dengan PT Garuda Indonesia menyelenggarakan pelatihan perawatan pasien paliatif kanker di rumah untuk tenaga kesehatan dan tenaga pelaku rawat (caregiver) pada tanggal 6 – 8 Mei 2018 di Semarang, Jawa Tengah. Tim pengajar paliatif terdiri dari dokter, perawat, dan fisioterapis. Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta akan memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan pasien paliatif di rumah.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 28

    Champion Change at the 2018 World Cancer Congress in Kuala Lumpur

    Posted on Fri, 27.04.2018

     

    The World Cancer Congress in Kuala Lumpur (1-4 October 2018) will convene a multisectoral community of 3’500 foremost cancer and health experts, political and business leaders, scientists and public figures who share a real passion and engagement to reverse the course of cancer and other NCDs. The event aims to strengthen the action and impact of the cancer community on national, regional and international scales through its educational programme that spans the full spectrum of cancer - from prevention and treatment to palliative and supportive care. 
      
    There are many accounts of Congress delegates who took advantage of our educational symposium to further their career and personal development. The story of a paediatrician from South East Asia, expert in molecular genetics, who raised US$100,000 for paediatric cancer after putting into practice what he had learnt at a Master Course, is a great example of how a researcher stepped outside his comfort zone to succeed beyond his expectations. 
      
    This year’s programme includes about 90 multidisciplinary sessions that have been selected for their novel practices in cancer implementation science. Pertinent topics to the South East region such as obesity, tobacco control, HPV vaccination and screening programmes as well as complimentary medicines and economics of cancer care will feature prominently in the agenda. Discover the online programme and start building your own schedule. In addition, capacity building schemes, workshops, discussion cafés, big debates, inspiring plenary speakers and more will also contribute to increase participants’ abilities and skills to empower them to do a better job today. 

    As stated by 
    a past Congress participant, the Congress is more than a conference, it is a global movement and it is about action. So, if you want to showcase your achievements, learn from others’ experiences and meet an incredible range of experts from all backgrounds and countries, the Congress in Kuala Lumpur is the place to be. Register now at http://www.worldcancercongress.org/registration-fees

     

    For more info : https://www.youtube.com/watch?v=juwaYJRDyTI

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 26

    PADUAN SUARA SURVIVOR YKI

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Maret 2018, Paduan Suara Survivor YKI yang kembali diaktifkan sejak tahun 2016 untuk tampil dalam acara konser HyperLove pada tanggal 19 Desember 2016 di Taman Ismail Marzuki. 

    Pada akhir bulan Maret 2018 mengukir prestasi dengan mengikuti Lomba Vocal Group Lagu-Lagu Daerah Indonesia 2018 dengan tema "Senandung Lagu Nusantara" yang diadakan oleh Rumah Cinta Indonesia bertempat di Museum Bank Indonesia.  

    Pada lomba ini, VG Survivor YKI lolos seleksi awal dari 35 peserta masuk ke dalam 20 kelompok VG yang berhasil lolos ke semifinal dan kemudian masuk ke dalam 10 besar finalis. Dibandingkan dengan para finalis lain yang berusia masih muda, bahkan remaja, anggota VG Survivor YKI berusia antara 52-72 tahun.

    Semoga Paduan Suara Survivor YKI dapat semakin kompak dan berprestasi sehingga memberi semangat kepada pasien dan survivor kanker lain untuk terus berkarya dan berprestasi.

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 24

    HUT 41 Tahun Yayasan Kanker Indonesia “Waspada Bahaya Kanker Mengintai Masyarakat”

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Jakarta, 17 April 2018 –  Bahaya kanker semakin gencar  mengintai masyarakat, khususnya yang terus menjalankan gaya hidup tak sehat.  Dalam  Hari Ulang Tahun Yayasan Kanker Indonesia (YKI) ke-41 tahun, YKI mengingatkan masyarakat untuk mewujudkan hidup sehat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kanker.

    Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR.Dr.Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, FINASIM, mengatakan, “Pada HUT YKI ke-41 tahun, YKI mengucapkan terima kasih kepada segenap pengurus YKI, para donator, volunteer, serta seluruh unsur masyarakat yang telah mendukung penanggulangan kanker, dan terus mengingatkan masyarakat untuk merubah pola hidup tak sehat dengan meningkatkan pengetahuan akan bahaya penyakit kanker,  melakukan pemeriksaan deteksi dini kanker, serta memahami faktor-faktor  pencetus kanker yang berhubungan dengan perilaku dan lingkungan, hal ini karena kanker terus mengintai kita semua.”

    Kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko, seperti tidak merokok atau terpolusi asap rokok, tidak mengkonsumsi alkohol, melindungi kulit dari paparan sinar ultra violet, menghindari obesitas dengan diet seimbang dan aktivitas fisik, serta mencegah infeksi  yang  berhubungan dengan kanker.  Deteksi atau skrining akan membantu seseorang untuk dapat terdiagnosa lebih dini sehingga memungkinkan pengobatan dengan hasil yang baik.

    Kematian akibat Kanker

    Urutan penyakit kanker yang menyebabkan kematian pada perempuan adalah kanker payudara, kanker serviks dan kanker kolorektal, sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru-paru, kanker kolorektal dan kanker prostat.  Prevalensi kanker kolorektal di Indonesia meningkat srcara signifikan akibat pola konsumsi makanan yang berubah selama 25 tahun belakangan ini.

    Atas dasar tersebut, dalam usianya yang ke 41 tahun, YKI akan meningkatkan fokus pada penanggulangan kanker kolorektal yang juga dikenal dengan kanker usus besar dengan mendorong keterlibatan seluruh unsur masyarakat.

    Tentang Yayasan Kanker Indonesia

    Masalah utama dalam penanggulangan kanker adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kanker dan kesadaran masyarakat untuk melakukan perilaku hidup sehat untuk mengurangi risiko kanker serta melakukan deteksi dini kanker. Akibatnya sebagian besar kanker ditemukan pada stadium lanjut dan sulit ditanggulangi, sehingga memberikan beban yang besar bagi pasien kanker dan keluarganya.

    Berdasarkan kepedulian dan keprihatinan terhadap semakin banyaknya penderita kanker, rendahnya pengetahuan masyarakat akan penyakit ini serta tingginya angka kematian penderita akibat datang berobat pada stadium lanjut, 17 tokoh masyarakat dan pemerhati kesehatan terpanggil untuk mendirikan Yayasan Lembaga Kanker Indonesia (YLKI) pada tanggal 17 April 1977 sebagai organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 23

    Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Jakarta, 3 April 2018 – Masih dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Kolorektal yang jatuh pada Maret 2018 lalu, Merck sebagai perusahaan sains dan teknologi, bersama-sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar sesi diskusi dengan tema “Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat”. Kegiatan ini diadakan sebagai upaya dalam mengedukasi masyarakat tentang kanker kolorektal dan pentingnya deteksi dini untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, serta memberikan dukungan kepada para penderita dan keluarga.

    Kanker kolorektal adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia baik bagi pria maupun perempuan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kanker kolorektal merupakan penyebab kematian kedua terbesar untuk pria dan penyebab kematian ketiga terbesar untuk perempuan. Data GLOBOCAN 2012 menunjukkan, insiden kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan tingkat kematian 9,5% dari seluruh kanker. Bahkan, secara keseluruhan risiko terkena kanker kolorektal adalah 1 dari 20 orang (5%).

    Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD- KHOM, FACP, FINASIM, Ketua Umum YKI menjelaskan, “Prevalensi kanker kolorektal di Indonesia yang meningkat tajam menjadi perhatian khusus bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk mengajak masyarakat agar lebih waspada dan tidak mengabaikan tanda-tanda penyakit ini dengan melakukan deteksi dini –mengingat gejala kanker kolorektal tidak terlihat jelas. Untuk itu, kami mengapresiasi kerjasama dengan Merck dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker kolorektal.”

    Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa kanker kolorektal erat kaitannya dengan kanker keturunan atau kanker yang terjadi pada usia lanjut, padahal kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Faktanya, 30% dari penderita kanker kolorektal adalah pasien di usia produktif, yaitu di usia 40 tahun atau bahkan lebih muda lagi. Kanker kolorektal yang ditemukan di Indonesia juga sebagian besar bersifat sporadis dan hanya sebagian kecil bersifat herediter.

    Faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kasus kanker ini di Indonesia, seperti penyakit radang usus besar yang tidak diobati, kebiasaan banyak makan daging merah, makanan berlemak dan alkohol, kurang konsumsi buah-buahan serta sayuran dan juga ikan, kurang beraktivitas fisik, berat badan yang berlebihan, serta kebiasaan merokok.

    dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM menjelaskan, “Sekitar 25% pasien kanker kolorektal terdiagnosa pada stadium lanjut, sehingga kanker telah menyebar ke organ lain. Pada kondisi ini, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan tingkat keberhasilan juga menurun. Studi juga menunjukkan hanya 10-12% dari pasien ini hidup lebih dari 5 tahun. Maka dari itu, pemeriksaan dini atau skrining usus dan pentingnya menghindari faktor risiko dengan melakukan perilaku hidup sehat sangat disarankan untuk mencegah kemungkinan kanker sejak dini.  Sementara itu, saat ini pengobatan kanker kolorektal di Indonesia juga sangat berkembang, didukung oleh ahli, tekhnologi dan obat yang tersedia.” 

    Yayasan Kanker Indonesia berharap angka kematian karena kanker kolorektal dapat terus berkurang sejalan dengan kemajuan penanganan kanker ini di Indonesia, khususnya dengan tersedianya terapi target dan pemeriksaan status penanda tumor RAS, yang akan membantu pasien kanker kolorektal mendapatkan obat yang tepat (personalized treatment).  Personalized treatment memungkinkan pemakaian obat yang tepat sehingga pasien akan terhindar dari efek samping dan biaya yang tidak perlu.

    Namun demikian, pada kasus dimana sebagian pasien kanker kolorektal menjalani pembedahan di tubuhnya untuk membuat lubang yang dibuat melalui operasi pengangkatan laring, saluran cerna (usus besar), atau saluran kemih, mereka atau disebut ostomate, membutuhkan pemasangan kantong stoma sebagai fasilitas sederhana agar dapat menjalani hidup normal.

    Keberadaan ostomate membutuhkan pendampingan perawat yang mempunyai keahlian untuk merawat luka, stoma dan inkontinensia (WOCM - Wound, Ostomate and Continence Nurses). YKI mendukung para perawat WOCN dalam hal pelatihan dan membantu mereka hingga akhirnya dapat mendirikan sekolah WOCN di Indonesia. 

    Dr. Aditya G. Parengkuan, M.Biomed, Koordinator Indonesian Ostomy Association YKI, mengatakan, “Salah satu kegiatan Indonesian Ostomate Association (InOA) YKI adalah mendistribusikan bantuan kantong-kantong stoma kepada para ostomate yang membutuhkan, mengingat kantong stoma tidak murah sementara merupakan kebutuhan vital. Namun demikian, InOA YKI masih mengalami kesulitan memasukkan sumbangan kantong stoma yang masih dianggap sebagai barang mewah dengan biaya pajak yang tinggi, yang membuat harga kantong stoma menjadi mahal.”

    Dengan kondisi penanganan pasien kanker kolorektal, hingga sebagian menjadi ostomate, maka dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri saat pra dan pasca operasi.

    Ditemui pada kesempatan yang sama, Medical Director PT Merck Tbk, dr. Risa Anwar, menambahkan, “Sebagai perusahaan yang bergerak dalam sektor kesehatan, Merck memiliki komitmen untuk ikut serta meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia dengan melakukan edukasi pada pekerja kesehatan dan masyarakat.  Untuk itu kami meluncurkan inisiatif terbaru kami, yaitu “Gut Strength” yang ingin mengajak masyarakat agar lebih terbuka dan memberikan dukungannnya kepada para penderita kanker, khususnya kanker kolorektal. Gerakan ini berfokus pada tiga elemen yaitu kebersamaan (together), kekuatan (strength), dan dukungan (support).“

    “Merck mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam terhadap penyakit ini dan mengambil upaya pencegahan serta memberikan dukungannya kepada para penderita untuk menghadapi penyakit ini. Untuk kemudian juga menginspirasi yang lainnya dalam membagikan informasi edukasi penting seputar kanker kolorektal sembari saling belajar dan memberikan dukungan satu sama lain,”  tutup dr. Risa.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 19

    YKI – UICC Jajaki Kerjasama Penanggulangan Kanker Pertukaran Informasi & Metoda Perawatan Paliatif

    Posted on Wed, 21.03.2018

    Jakarta, 19 Maret 2018 Dalam rangka menanggulangi kanker di dunia, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) dan Union for International Cancer Control (UICC) hari ini di Jakarta saling menjajaki kerjasama penganggulangan kanker di dunia melalui pertukaran informasi dan metoda perawatan paliatif guna mendapatkan best practices yang akan digunakan untuk memaksimalkan kualitas hidup dan perawatan paliatif kanker.

    Pada kesempatan tersebut, Ketua Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, mengatakan, “Yayasan Kanker Indonesia merupakan anggota UICC sejak 1981, dan kami membuka peluang kerjasama dengan UICC dengan memberikan modul dan metoda pelatihan perawatan paliatif kanker yang telah sukses dilakukan di beberapa wilayah di Indonesia untuk dapat dibagi pengalamannya kepada negara lain di dunia melalui UICC.  Penjajakan kerjasama ini juga untuk mendapatkan sertifikasi global bagi tenaga perawatan paliatif dari Indonesia.”

    Sementara itu, Dr. Julie Torode, Deputi CEO dan Direktur Advokasi & Jaringan UICC mengatakan, “Kami sangat senang dapat bermitra dengan Yayasan Kanker Indonesia untuk membangun sebuah jaringan yang terdiri atas komunitas tenaga relawan berkualifikasi dari seluruh Indonesia dalam perawatan paliatif kanker yang dilakukan di rumah, yang merupakan tahap kritis dan sangat penting dalam mendukung perawatan pasien-pasien kanker dan keluarganya, pada waktu yang sangat dibutuhkan.”

    Perawatan paliatif merupakan bagian integral dari pendekatan terapetik terhadap pasien penyakit tidak menular seperti kanker, yang tidak hanya menekankan pada gejala fisik, namun juga pada meningkatkan kualitas hidup seorang pasien secara psikososial dan spiritual.   Perawatan paliatif dapat meningkatkan kualitas hidup pasien maupun bagi keluarganya yang berhadapan langsung dengan pasien penyakit yang mematikan tersebut.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 20

    Hair to Share: Berbagi Rambut untuk Pasien Kemoterapi Kanker

    Posted on Tue, 20.03.2018

    Jakarta, 21 Maret 2018 – Dukungan atau motivasi dari lingkungan sekitar merupakan salah satu "obat" penting bagi penderita kanker, khususnya bagi pasien kanker yang mengalami kebotakan usai menjalankan kemoterapi. Bersamaan dengan kegiatan Fun Run, SMP Pangudi Luhur bekerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menyelenggarakan aksi Hair to Share atau berbagi rambut sebagai bentuk kepedulian kepada penderita kanker, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 18 Maret 2018 di SMP Pangudi Luhur, Jakarta.

    Dari kegiatan "Berbagi Rambut" itu, terkumpul 15 ikat rambut sepanjang 25 cm yang akan dibuat menjadi rambut palsu (wig) untuk disumbangkan kepada pasien kanker melalui YKI.

    Menariknya, peserta yang mengikuti aksi Hair to Share tidak hanya datang dari para siswa siswi SMP Pangudi Luhur, melainkan juga dari  ahli penyakit dalam Siloam TB Simatupang, dr. Eva Carolina Sitompul, SpPD beserta donatur umum lainnya.

    Caca, Siswi SMP Pangudi Luhur, pendonor termuda yang berusia 12 tahun mengatakan, "Aku ikut berpartisipasi supaya bisa bantu orang yang tidak ada rambutnya, dan senang sudah bisa bantu pasien kanker yang menjalani kemoterapi, aku juga berharap mereka bisa senang punya wig sebagai rambutnya.”

    dr. Eva Carolina Sitompul, SpPD, ahli penyakit dalam Siloam TB Simatupang rela menyumbangkan rambut demi memotivasi orang tua yang terkena penyakit kanker paru menyampaikan, "Kedua orang tua saya, ayah dan ayah mertua saya menyandang kanker paru stadium 4 dan mereka saat ini sedang menjalankan kemoterapi, mereka berdua sama-sama rontok rambutnya, dan fase depresi kehilangan semangat. Menurut saya, kalau saya bisa berbagi tentang kegiatan saya ini, dimana saya rela menyumbangkan rambut saya ini yang selama ini saya rawat, saya pelihara, saya pertahankan panjang, namun kali ini saya rela sumbangkan rambut saya untuk mereka, dan saya berharap bisa menjadi penyemangat bagi mereka.”

    Marsyana Retno, perempuan berusia 50 tahun, keluarga dari peserta Fun Run, menuturkan, "Saya tak pernah berpikir bahwa rambut saya ini dapat berguna untuk orang lain, ternyata menjadi berkat ya, semoga teman-teman tetap semangat. Ayo yakin pasti bisa, dan saya bahagia sekali dan bersyukur bisa menjadi berkat bagi orang lain.”

    Kegiatan Hair to Share bukan dinilai dari berapa banyak yang kita berikan, akan tetapi seberapa besar cinta yang kita berikan. Mungkin ungkapan tersebut tepat untuk menggambarkan kepeduliaan para pendonor yang telah rela membagikan rambutnya.  Para pendonor juga memiliki harapan yang sama bahwa penderita kanker harus tetap semangat dan yakin pada diri sendiri untuk sembuh.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 12

    Hidup Sehat dan Deteksi Dini Kanker Selamatkan Jiwa

    Posted on Mon, 19.03.2018

    KJRI Hong Kong kembali mengadakan klinik kesehatan gratis untuk wanita yang meliputi deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara. Acara kerjasama YKI Pusat dengan Indonesian Club HongKong ini berlangsung selama tiga hari, dari tanggal 23-25 Februari 2018 dan didukung tujuh tenaga paramedis.

    Dalam kegiatan tersebut, 300 peserta yang hadir dapat secara bebas berkonsultasi dengan tim dokter dan bidan YKI. Selain itu, mereka juga mendapat kesempatan untuk melakukan test IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) untuk deteksi dini kanker servik dan perabaan deteksi dini kanker payudara. Konjen KJRI HongKong Tri Tharyat dalam sambutannya berharap bahwa kegiatan ini dapat terus rutin dilangsungkan, supaya lebih banyak orang mendapat kesempatan pemeriksaan kanker dini.

    Selengkapnya >>