YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta

Hotline Teledonasi: (021) 3152603 | Apotek : (021) 3920568 | Sekretariat: (021) 3152603

Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 56

Yayasan Kanker Indonesia Ajak Masyarakat Peduli dan Lakukan Deteksi Dini Kanker Kulit

Posted on Tue, 14.05.2019

Jakarta, 4 Mei 2019 – Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar Seminar bertajuk “Peduli Kanker Kulit” di Gedung Sasana Marsudi Husada, YKI, Jakarta Selatan dalam rangka memperingati Bulan Kanker Kulit.  Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengajak masyarakat meningkatkan pemahaman dan kepeduliannya dalam upaya pencegahan terhadap kanker kulit dengan…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 56

    Yayasan Kanker Indonesia Ajak Masyarakat Peduli dan Lakukan Deteksi Dini Kanker Kulit

    Posted on Tue, 14.05.2019

    Jakarta, 4 Mei 2019 – Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar Seminar bertajuk “Peduli Kanker Kulit” di Gedung Sasana Marsudi Husada, YKI, Jakarta Selatan dalam rangka memperingati Bulan Kanker Kulit.  Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengajak masyarakat meningkatkan pemahaman dan kepeduliannya dalam upaya pencegahan terhadap kanker kulit dengan menghadirkan DR. Dr. Aida SD Hoemardani, SpKK(K), Dr. Jeffery Beta Tenggara, SpPD-KHOM, dan DR. Dr. Fiastuti I. Witjaksono, SpGK dan Dr. Rebecca Angka, M. Biomed dari Yayasan Kanker Indonesia.

    Penanggung Jawab Klinik Utama dan Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada (SMH), Dr. Rebecca Angka, M.Biomed, menjelaskan, “Sangatlah penting bagi masyarakat Indonesia untuk peduli terhadap kanker kulit, karena penyakit ini dapat tumbuh pada bagian manapun di kulit tubuh, dan masyarakat cenderung mengabaikannya karena kerap diasosiasikan dengan penyakit kulit biasa, padahal penyakit ini dapat merenggut jiwa.”

    Menurut data Globocan 2018, terdapat 1392 kasus baru kanker kulit melanoma di Indonesia dengan 797 kematian. “Jumlah kasus baru kanker kulit melanoma maupun kematian yang diakibatkan tidaklah sedikit, sehingga sangatlah penting untuk melakukan deteksi dini kanker kulit dengan terus memperhatikan perubahan yang terjadi pada kulit, dan konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan pengobatan medis yang benar,” ujar Dr. Rebecca Angka, M.Biomed.

    Kanker adalah penyakit yang disebabkan oleh pembelahan sel abnormal yang tidak terkendali pada bagian tubuh tertentu. Kulit merupakan lapisan tubuh terluar yang mempunyai tiga lapisan. Setiap lapisan terdiri atas beberapa sel yang masing-masing dapat menjadi kanker kulit apabila terdapat faktor genetik dan faktor lingkungan yang berinteraksi.  Faktor lingkungan yang terkenal menyebabkan kanker kulit adalah sinar matahari (sinar ultraviolet), namun juga zat kimia, virus, trauma dan lain-lain. Adapun faktor genetik adalah gen-gen yang terdapat dalam badan kita yang dapat diturunkan.

    DR. Dr. Aida SD Hoemardani, SpKK(K), dari RS Kanker Dharmais menjelaskan tentang cara mencegah agar kulit kita tidak terkena kanker kulit yang meliputi pencegahan primer dan sekunder. Pencegahan primer adalah menghindari sinar matahari dengan jalan berlindung pada saat matahari bersinar yaitu antara jam 09.00-16.00, misalnya dengan memakai payung atau topi, mengenakan baju tertutup dan menggunakan sunscreen (tabir surya). Untuk menghindari faktor trauma pada telapak kaki dianjurkan penggunaan alas kaki misalnya sandal atau sepatu.

     

    Pencegahan sekunder dilakukan dengan mengangkat kelainan kulit yang diduga dapat berkembang menjadi kanker. Untuk mengetahui apakah ada kelainan kulit dilakukan pemeriksaan kulit sendiri atau SAKURI ke seluruh tubuh mulai dari kulit kepala sampai ke telapak kaki.

    “Melalui pencegahan primer dan sekunder, kelainan kulit yang dapat dilihat adalah bercak atau benjolan yang makin lama makin membesar; benjolan yang mudah berdarah; benjolan dengan luka yang tidak sembuh-sembuh, dan kelainan kulit dengan gejala ABCDE untuk kanker kulit melanoma,” jelas DR.  Aida.

    Gejala ABCDE adalah kepanjangan dari kelainan kulit yang (A) Asimetris; (B) Border atau tepi tidak teratur; (C) Color atau warna bermacam-macam; (D)  Diameter lebih dari 6  mm atau difference (berbeda dari kelainan kulit yang lain); dan (E)  Elevation yaitu meninggi atau evolving (berkembang).

    Sesudah ditemukan kelainan kulit yang mencurigakan maka kelainan tersebut dapat dikonfirmasi kepada dokter kulit yang akan memeriksa dengan pemeriksaan dermoskopi.

    “Pemeriksaan dermoskopi diperlukan untuk menentukan kelainan tersebut apakah jinak, potensial menyebabkan kanker kulit ataupun ganas. Bila diperkirakan potensial berkembang menjadi kanker kulit maka kelainan tersebut dapat diobati misalnya dengan obat-obatan topikal atau mengangkat dengan bedah listrik, bedah beku maupun bedah pisau ataupun laser, dan bila ganas, maka kelainan tersebut akan ditangani sebagai kanker kulit,” jelas DR. Aida.

    Dalam penutupan seminar YKI bertajuk Peduli Kanker Kulit tersebut, para pembicara kembali mengingatkan pentingnya pencegahan kanker kulit dengan melakukan deteksi dini, baik dengan melakukan pencegahan primer dan pencegahan sekunder. “Masyarakat perlu selalu menyadari bahwa mencegah lebih dari dari mengobati,” tutup Dr. Rebecca Angka, M.Biomed.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 41

    Peresmian Rumah Singgah YKI untuk Para Penderita Kanker

    Posted on Fri, 28.09.2018

    Pasien penyakit kanker membutuhkan perawatan khusus yang mumpuni. Namun seringkali, mereka yang menderita kanker tinggal di daerah-daerah dengan beragam keterbatasan, termasuk fasiltasitas kesehatan yang belum memadai untuk mengobati kanker yang diderita.

    Berdasarkan hal tersebut, Yayasan Kanker Indonesia  (YKI) pada Sabtu, 8 September 2018 membangun dan meresmikan sebuah Rumah Singgah untuk penderita kanker yang terletak di Jalan Lebak Bulus Tengah, Cilandak Jakarta Selatan. 

    Peresmian rumah singgah yang diberi nama Sasana Marsudi Husada ini dilakukan oleh Ibu Karlinah Umar Wirahadikusumah dan disaksikan segenap pengurus YKI, serta perwakilan Kementerian Kesehatan RI, instansi pemerintah dan swasta terkait lainnya. Ketua Umum YKI Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP dalam sambutannya menyampaikan, “Kami sangat bahagia dengan diresmikannya rumah singgah Sasana Marsudi Husada YKI, yang baru saja selesai pemugarannya sejak berdiri 35 tahun lalu. Keberadaan rumah singgah Sasana Marsudi Husada sedari awal merupakan upaya mewujudkan misi Yayasan Kanker Indonesia sebagai tempat tinggal sementara bagi pasien kanker dari luar kota yang sedang menjalani pengobatan di Jakarta karena belum lengkapnya fasilitas pengobatan yang tersedia di daerahnya, sebagai tempat penginapan yang layak dan murah bagi pasien yang sebagian besar tidak mampu.”

    Sementara itu Ketua Tim Pembangunan Prof. dr. Abdul Muthalib, SpPD, KHOM mengatakan, “YKI berterima kasih kepada masyarakat dan segenap pihak yang telah ikhlas sebagai donatur pembangunan rumah singgah Sasana Marsudi Husada, sehingga lebih banyak pasien kanker yang dapat kita bantu bersama.”

    Rumah singgah Sasana Marsudi Husada terdiri dari 3 lantai.  Lantai pertama terdiri atas 10 kamar standard an 4 kamar VIP; lantai 2 terdiri atas 4 kamar untuk paliatif serta aula berkapasitas 100 orang yang dapat dibagi menjadi 3 ruang kelas untuk pendidikan dan pelatihan; dan lantai 3 berupa aula tempat pertemuan berkapasitas 100 orang sebagai ruang pertemuan dan pelatihan.

    Selain sebagai rumah singgah, Sasana Marsudi Husada YKI juga digunakan untuk melakukan upaya preventif promotif dan suportif penyakit kanker. “Harapan kami, gedung Sasana Marsudi Husada baru dapat lebih bermanfaat bagi masyarakat khususnya pasien-pasien kanker yang membutuhkan dan dapat membantu pemerintah dalam upaya menanggulangi masalah kanker di Indonesia,” Prof. Aru Sudoyo menyimpulkan.

    Sekilas Perjalanan Pembangunan Kembali Sasana Marsudi Husada

    Rumah singgah Sasana Marsudi Husada (SMH) pertama diresmikan pada tanggal 12 Mei 1982 dengan 16 kamar berkapasitas 34 tempat tidur, dengan biaya Rp 30.000,-/orang/hari termasuk 3x makan, 2x snack dan transportasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pulang pergi dengan didampingi seorang perawat.

    Rata-rata seorang pasien tinggal di SMH selama 4-5 bulan sebelum akhirnya kembali ke daerahnya untuk melanjutnya pemeriksaan rutin.  Sebagian besar pasien berasal dari keluarga kurang bahkan tidak mampu sehingga tidak dapat membayar biaya penginapan. Tidak jarang YKI harus mencarikan donatur untuk biaya transportasi pasien dan pendampingnya kembali ke daerah asalnya.  YKI senantiasa berterima kasih kepada para donatur yang rutin membantu dengan ikhlas sejak SMH berdiri.

    Sejak berdiri hingga tahun 2012, tidak pernah ada pekerjaan perbaikan yang berarti, sehingga bangunan SMH semakin lapuk dimakan usia. Pada tanggal 2 Maret 2012 dibentuklah Tim Asistensi yang bertugas  membantu Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia mengelola Unit Pelaksana Teknis Yayasan Kanker  Indonesia yaitu Pusat Diagnostik Dini  yang sekarang bernama Klinik Utama Yayasan Kanker Indonesia dan Sasana Marsudi Husada.

    Sejak Pembentukan Tim Pembangunan Sasana Marsudi Husada pada tanggal 11 Desember 2016, kerja pembangunan dimulai dengan acara Peletakkan Batu Pertama pada tanggal 25 Februari 2017.  Berkat bantuan para donatur, YKI berani merubuhkan gedung lama untuk membangun gedung baru berlantai tiga, akhirnya pembangunan selesai dalam waktu 1 tahun 5 bulan dan diresmikan pada 8 September 2018. 

    Dengan diresmikannya Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada, Yayasan Kanker Indonesia ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada para donatur PT. Indomarco Prismatama, PT. Matahari Putra Prima, PT. Arkonin, PT. Arwana, PT. Surya Pertiwi, PT. Jotun Indonesia, PT. Indocement Indonesia, YKI cabang DKI Jakarta serta kepada Ir. Miming Kartawinata yang sudah membantu kami sejak perencanaan awal menggambar design gedung, serta pada donatur-donatur lainnya.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 6

    Gaya Hidup dan Risiko Kanker

    Posted on Tue, 27.03.2018

    Kanker masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Menurut data yang dilansir Kementerian Kesehatan, pada 2016 lalu jumlah kasus kanker di Indonesia merangkak naik menjadi 1,3 juta kasus dari yang sebelumnya masih 1,2 juta kasus di tahun 2015. Sebesar 30% dari kasus kematian akibat kanker pun diketahui disebabkan oleh kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, dan juga obesitas atau kondisi kelebihan berat badan. Pertanyaannya, mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko kanker bahkan hingga berkali-kali lipat?

    Berdasarkan hasil studi yang dilakukan tim ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 lalu, terungkap bahwa orang dewasa yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) yang tinggi atau mengalami obesitas bisa menggandakan risiko mereka terserang kanker saat beranjak tua. Studi ini khususnya merujuk pada kecenderungan wanita dengan BMI tinggi dan risiko kanker payudara yang dimilikinya. Tak hanya kanker payudara, wanita yang di usia mudanya mengalami obesitas atau memiliki berat badan berlebih juga memiliki risiko lebih besar untuk terserang kanker endometrium.

    Melina Arnold, ilmuwan WHO yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa seseorang dengan obesitas memiliki peningkatan risiko terserang kanker sebanyak tujuh persen tiap 10 tahun.

    Lemak berlebih dalam tubuh bisa sangat membahayakan. Lemak bisa memproduksi hormon dan sejumlah protein yang dilepas ke saluran darah dan tersebar ke seluruh tubuh. Protein dan hormon yang tersebar melalui sirkulasi darah ini bisa berdampak buruk bagi bagian-bagian tubuh tertentu, dan selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya beberapa jenis kanker yang berbeda. Meningkatnya produksi hormon reproduksi khususnya estrogen dan testosteron bisa menyebabkan tingginya resiko kanker rahima dan kanker payudara bagi wanita atau kanker prostat bagi pria.

    Menjaga berat badan agar tetap normal dan tidak obesitas sehingga mencegah datangnya kanker bisa dilakukan dengan melakukan gaya hidup sehat. Makanlah makanan bergizi dan sehat secara teratur, termasuk makanan berserat untuk mengontrol kadar kolestrol dan gula darah dalam tubuh. Tinggalkan kebiasaan merokok atau minum minuman beralkohol, dan rajinlah berolahraga untuk membakar kadar lemak berlebih atau lemak jahat yang tersisa di tubuh, sehingga sel kanker tak pernah tumbuh dan mengganggu kesehatan Anda.

    Selengkapnya >>