YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

  • Artikel Image 35

    Perjuangan Lita Perdita Melawan Kanker Seviks

    Posted on Wed, 18.07.2018

    Rasa sayang seorang ibu kepada anaknya jauh lebih besar dari rasa sayangnya ke diri sendiri. Hal itulah yang tersimpul dalam benak saya kala mewawancarai survivor kanker ini.

    Lita Perdita merupakan seorang wanita karir dan juga orangtua tunggal bagi ketiga anaknya saat ia didiagnosa kanker. Wanita kelahiran Jakarta, Desember 1957 ini memang tak pernah merasakan gejala atau tanda-tanda apapun yang membuatnya curiga akan adanya kanker di tubuhnya, kecuali bahwa ia memiliki siklus menstruasi yang mulai tidak teratur.

    Awalnya, Lita menganggap kondisi menstruasinya yang tidak teratur tersebut sebagai tanda-tanda  menopause. Hingga pada suatu hari di bulan puasa tahun 2005, ia mengalami pendarahan hebat tanpa sakit perut atau gejala menstruasi apapun. Dokter yang dirujuk Lita akhirnya mendiagnosa bahwa Lita menderita kanker serviks atau kanker leher rahim stadium 1B.

    Lita yang kala itu berusia 48 tahun sangat mengkhawatirkan kondisi ketiga anak-anaknya jika ia menjalani operasi, terlebih saat itu anak-anaknya masih berusia belia. “Saya kasihan jika anak-anak saya harus berbuka puasa di rumah sakit dan melihat saya terbaring sakit,” jelasnya. Rasa takut meninggalkan anak-anak itulah yang membuat Lita memutuskan untuk menunda operasi. Ia meminta agar dokter mengizinkan pengangkatan kanker sepanjang dua cm di leher rahimnya ditunda hingga bulan puasa usai. Meski sempat tidak disetujui karena khawatir sel kanker akan menyebar dengan cepat, Lita akhirnya baru melakukan operasi beberapa minggu setelah diagnosanya.

    Pengalamannya melawan kanker di usia produktif tersebut membuat Lita semakin sadar akan mahalnya kesehatan. Ia mengingatkan bahwa kanker serviks tidak hanya dapat menyerang di usia menopause seperti yang ia alami 13 tahun silam. Kanker serviks juga dapat menyerang di usia muda, sehingga penting bagi setiap perempuan untuk lebih aware dan melakukan pemeriksaan rutin dalam mencegah munculnya kanker. Selain itu, ia juga berpesan agar para penderita kanker sebaiknya hanya ditangani dengan prosedur medis sepeti operasi dan kemoterapi bukannya pengobatan alternatif. “Pengobatan jalur alternative tidak bisa menyembuhkan kanker. Percayalah pada dokter dan penanganan medis yang semakin canggih,” ucapnya mengakhiri percakapan kami siang itu.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 34

    Berthie Sompie, Melawan Kanker dengan Keceriaan

    Posted on Tue, 17.07.2018

    Mungkin tak akan ada yang mengira bahwa pria dengan rambut yang sudah memutih ini pernah menderita dua jenis kanker sekaligus. Albert Charles Sompie adalah seorang survivor kanker dan aktif tergabung dalam support group Yayasan Kanker Indonesia selama lebih dari 12 tahun.

    Sifatnya yang ceria, penuh canda dan enerjik ini membuat siapa saja yang berada di sekitar Berthie, sapaan akrabnya, turut merasakan energi positif dan penuh semangat. Tak terlihat bahwa ia pernah mengalami masa-masa pahit akibat kanker yang membuatnya kehilangan sebelah paru-paru dan juga ususnya.

    Mantan kapten tim softball nasional tahun 1980-1990 ini pertama kali mengetahui dirinya terserang kanker paru-paru pada Desember 2005. Kala itu, dokter yang mendiagnosanya menjelaskan bahwa ia menderita kanker paru-paru stadium 3B dan memiliki harapan hidup sekitar enam bulan saja. Berthie yang saat itu berusia 47 tahun dan masih aktif bermain softball sempat memungkiri bahwa dirinya menderita kanker. Ia masih terus bermain softball dan merokok –kebiasaan yang ia yakini menjadi penyebab kankernya  muncul.

    Beberapa bulan berselang setelah operasi pengangkatan kanker paru-parunya, pria yang lahir di Surabaya 60 tahun silam ini kembali didiagnosa mengidap kanker. Kali ini, sel kanker menyerang bagian ususnya.

    Kondisi tersebut sempat membuat Berthie patah asa. Ia mengaku pernah berdoa agar diberikan kematian saja daripada harus menderita sakit. Beruntung, Berthie memiliki keluarga dan teman-teman yang sangat menyayanginya. Dukungan dari merekalah yang membuatnya kembali bangkit. “Dulu saya sering meminta Tuhan untuk mati. Namun karena tidak dikabulkan, doa saya ubah. Saya minta untuk terus hidup, supaya bisa melihat anak-anak saya tumbuh besar dan berkeluarga.” Menurutnya, keluarga memang menjadi sumber semangat yang sangat berarti dalam kesembuhannya. “Saya tidak bisa berada di sini sekarang jika bukan karena istri dan anak-anak saya,” kenang Berthie.

    Tak hanya dukungan dari keluarga dan kerabat dekat, Berthie juga bercerita bahwa kunci untuk sembuh dari kanker adalah justru dengan menerima kondisi tersebut dengan lapang dada namun tetap menjalani proses penyembuhan seperti kemoterapi secara rutin. Meski terasa berat, proses kemoterapi yang ia jalani sebanyak 16 kali hingga Desember 2006 berhasil membantunya terbebas dari sel kanker. Sejak saat itu, Berthie diperbolehkan oleh dokter untuk kembali aktif berkegiatan, khususnya untuk bersepeda, bermain tenis, renang, dan tentunya bermain softball bersama teman-temannya.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 32

    Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Otak!

    Posted on Mon, 21.05.2018

    Kanker otak merupakan kondisi yang disebabkan oleh tumor ganas yang tumbuh dalam otak. Tumor otak sendiri disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal pada jaringan, sel saraf, selaput pelindung otak atau saraf tulang belakang.

    Tumor ganas penyebab kanker otak dapat menyebar secara tidak terkendali ke bagian tubuh dekat otak dengan mengambil tempat, darah dan juga nutrisi yang ada di jaringan tersebut. Bahkan, tidak jarang sel kanker ganas ini menyebar ke bagian tubuh lain yang lebih jauh melalui aliran darah.

    Kanker otak dibedakan menjadi dua, yakni kanker otak utama dan kanker otak sekunder (metastasis). Kanker otak utama disebabkan oleh munculnya salah satu sel dalam otak yang tumbuh tidak wajar dan bertransformasi menjadi sel kanker. Sel yang bertransformasi ini kemudian berkembang sehingga menyebabkan tumor. Sementara itu, kanker otak sekunder atau metastasis merupakan kanker otak yang dipicu oleh tumbuhnya sel tumor di bagian tubuh lain yang menyebar ke bagian otak. Kanker jenis inilah yang tercatat menjadi penyebab kasus kanker otak terbanyak di dunia.

    Penyebab tumor dan kanker otak

    Penyebab terjadinya  kanker otak memang masih belum dapat diketahui. Meski begitu, ada beberapa faktor yang dapat memicu risiko kanker otak pada seseorang, contohnya faktor genetik, racun dari lingkungan berbahaya, radiasi di bagian kepala, infeksi HIV, dan juga kebiasaan buruk merokok.

    Gejala kanker otak

    Awalnya, gejala kanker otak akan sama dengan gejala penyakit-penyakit lainnya yaitu pusing atau sakit kepala, kelelahan, sering merasa bingung, kesulitan berjalan hingga kejang. Pada beberapa kasus, penderita kanker otak juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, susah mengingat, mual, muntah, dan mengalami masalah penglihatan.

    Jika Anda terus menerus merasakan gejala yang telah disebutkan di atas, satu-satunya cara untuk mendeteksi adanya kanker otak adalah dengan melakukan CT Scan atau pemindaian otak. Dengan CT scan atau MRI, dokter atau ahli medis dapat mengetahui apakah penyebab gejala yang dirasakan adalah adanya tumor yang menekan bagian dalam otak atau karena adanya pembengkakan akibat peradangan dari tumor. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 29

    Mengenal Kanker Otak

    Posted on Fri, 04.05.2018

    Otak adalah salah satu organ terpenting dalam mengatur organ lain agar dapat berfungsi secara sinergis. Bagaikan ‘Bos’ diantara organ penting lainnya. Bisa dibayangkan jika terjadi masalah pada otak maka sistem pengaturan dan koordinasi akan menjadi kacau. Fungsi luhur seperti berbicara, melihat, berpikir, bergerak, dan lainnya bisa saja terganggu tergantung lokasi kelainnya.

    Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel otak yang tidak terkendali. Tumor otak bisa bersifat jinak ataupun ganas. Tumor ganas pada otak itulah yang kita sebut sebagai kanker otak. Menurut asalnya, tumor otak dikelompokan menjadi tumor primer dan sekunder. Disebut primer jika tumor berasal dari sel otak itu sendiri, sedangkan tumor otak sekunder berasal dari kanker organ lain misalnya akibat penyebaran kanker paru, kanker payudara, maupun kanker lain. Kebanyakan kanker otak merupakan tumor sekunder. Dari seluruh tumor primer otak, astrositoma anaplastik dan glioblastoma multiforme (GBM) meliputi sekitar 38% dari jumlah keseluruhan tumor primer, diikuti oleh meningioma dan tumor mesenkim lainnya sebanyak 27%.

    Kanker otak masih menjadi perhatian dunia, kerena berbagai kemajuan penelitian dan teknologi belum dapat memaksimalkan hasil pengobatan kanker otak. Di Indonesia kanker otak merupakan salah satu kanker terbanyak pada anak. Meskipun demikian, tumor ini dapat terjadi pada umur berapapun. Berdasarkan penelitian, tumor otak sering terjadi pada anak-anak 3-12 tahun dan orang dewasa 40-70 tahun. Risiko kanker otak meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

    Penyebab kanker otak belum sepenuhnya dipahami. Beberapa ahli berpendapat bahwa orang dengan faktor risiko tertentu mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami kanker otak. Orang yang bekerja di kilang minyak, industri kimia atau karet mempunyai risiko lebih besar mengalami kanker otak. Faktor lain yang dikaitkan kanker otak adalah riwayat keluarga mengalami kanker otak, merokok, infeksi virus (HIV), dan paparan radiasi.

    Berhubungan dengan penyebab ataupun faktor risiko kanker otak, kita perlu mengkritisi berbagai isu atau rumor mengenai penyebab kanker otak. Disebutkan bahwa radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker otak. Hal tersebut telah direspon oleh American Cancer Society dan National Cancer Institute yang menyatakan bahwa frekuensi radio ponsel terlalu rendah untuk dapat menyebabkan kanker otak. Selain itu, isu aspartame (pemanis buatan) yang dikatakan dapat menyebabkan kanker otak juga tidak terbukti kebenarannya.

    Gejala tumor otak sangat beragam, tergantung pada ukuran dan bagian otak yang terlibat. Tumor atau benjolan didalam tulang tengkorak ini bisa menyebabkan fungsi otak terganggu. Penekanan jaringan otak sekitar dapat menyebabkan sakit kepala hebat bahkan kejang-kejang. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah mudah lelah dan cenderung mengantuk, atau gangguan pada penglihatan, pendengaran, berbicara, melihat, dan koordinasi gerak. Peningkatan tekanan didalam otak juga dapat meyebabkan penderita muntah-muntah. Selain itu, perubahan kepribadian yang tidak seperti karakter biasanya juga bisa disebabkan oleh kanker ini.

    Perlu diingat bahwa tidak semua gejala sakit kepala ataupun keluhan yang disebutkan diatas merupakan gejala khas untuk kanker otak. Beberapa orang mempunyai keluhan yang tidak spesifik atau bahkan tidak bergejala. Konsultasikan dengan dokter Anda jika mengalami keluahan diatas, diperlukan pemeriksaan lanjut untuk dapat mendiagnosis kanker otak seperti CT-Scan ataupun MRI otak. Pengobatan kanker otak bervariasi, tergantung dari stadium saat ditemukan. Jika masih memungkinakan, kanker otak primer bisa diobati dengan tindakan pembedahan untuk mengangkat sel-sel kanker. Setelah itu, dilanjutkan dengan radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya. Pada stadium lanjut atau kanker otak sekunder, pengobatan berfokus pada pelayanan paliatif. Perawatan ini diutamakan untuk meringankan gejala agar penderita marasa nyaman dan mempunyai hidup yang berkualitas. 

    Dukungan keluarga dan kerabat sangat diperlukan untuk mendampingi penderita dalam mengambil keputusan pengobatan. Konsultasikan kepada ahli Onkologi untuk mendapatkan saran manfaat dari setiap pilihan pengobatan dan memperkirakan efek sampingnya. Pemahaman pasien dan keluarga akan membantu dalam pemilihan pengobatan yang tepat. Pendampingan juga diperlukan selama pengobatan agar panderita tidak merasa tertekan atau depresi terhadap kondisi yang dialami. Pengobatan dan pemulihan untuk penyakit kanker memerlukan waktu cukup lama, maka lakukan dukungan pada orang yang Anda kenal secara terus-menerus dalam menghadapi seluruh perjalanan kankernya. 

     

    ***

    Artikel oleh :

    dr. Fujiyanto

    Sahabat YKI Cabang Kalimantan Barat

    Dokter Umum RSUD dr Soedarso Pontianak

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 25

    Mewaspadai Bahaya Kanker Tulang

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Kanker tulang berawal dari tumor ganas pada tulang yang dapat menghancurkan jaringan tulang normal. Kanker ini merupakan salah satu dari enam kanker yang kerap menyerang anak-anak di Indonesia selain Leukimia (kanker darah), Retinoblastoma (kanker mata), Neuroblastoma (kanker sel saraf), Limfoma Malignum (kanker kelenjar getah bening) dan Karsinoma Nasofaring (kanker tenggorokan). Tercatat, prevalensi kanker tulang di Indonesia terutama pada anak terus meningkat sejak tahun 2010.

    Kanker tulang dapat menyerang jaringan tulang mana saja di seluruh tubuh, yaitu pada tulang padat, tulang rawan (kartilago), jaringan serat dan jaringan dalam sumsum tulang. Ada tiga jenis kanker tulang yang paling sering diderita berdasarkan tempat sel kankernya bermula, yaitu:

    Osteosarcoma

    Sel kanker jenis ini berawal dari jaringan osteoid pada tulang, sering terjadi pada lutut dan lengan atas.

    Chondrosarcoma

    Sel kanker jenis ini berasal dari jaringan tulang rawan dan sering terjadi di bagian panggul, kaki bagian atas dan bahu.

    Ewing Sarkoma

    Sel kanker terdapat dalam jaringan lunak (otot, lemak, jaringan fibrosa, pembuluh darah atau jaringan pendukung lainnya). Sarkoma ewing ini paling sering terjadi di bagian tulang punggung, panggul, tulang kaki dan lengan.

    Jenis kanker tulang chondrosarcoma dan ewing sarcoma sering terjadi pada remaja atau anak di atas usia 10 tahun. Mengingat tingginya prevalensi kanker tulang terutama pada anak tersebut, kita perlu memahami penyebab atau faktor pemicu kanker tulang agar angka kasus kanker dapat ditekan. Berikut adalah faktor pemicu terjadinya kanker tulang:

    • Sering menjalani terapi radiasi eksternal
    • Pengobatan dengan obat antikanker dosis tinggi
    • Faktor keturunan/genetik
    • Memiliki cacat tulang turunan
    • Memiliki cacat dan implan logam (pen atau plat)

    Kanker tulang yang dipicu oleh faktor non-genetik bisa dicegah dengan cara menerapkan gaya hidup sehat, yaitu menerapkan pola makan sehat dan teratur, rutin berolahraga, istirahat cukup, menghindari rokok dan alkohol dan rutin mengonsumsi makanan yang mengandung antioksidan pencegah kanker.

    Seseorang yang menderita kanker tulang akan merasakan beberapa gejala seperti nyeri pada tulang yang lebih terasa di malam hari atau setelah beraktivitas, pembengkakan, kemerahan dan hangat pada daerah nyeri tulang. Penderita juga rentan alami patah tulang dan nyeri punggung berkepanjangan.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 23

    Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Jakarta, 3 April 2018 – Masih dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Kolorektal yang jatuh pada Maret 2018 lalu, Merck sebagai perusahaan sains dan teknologi, bersama-sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar sesi diskusi dengan tema “Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat”. Kegiatan ini diadakan sebagai upaya dalam mengedukasi masyarakat tentang kanker kolorektal dan pentingnya deteksi dini untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, serta memberikan dukungan kepada para penderita dan keluarga.

    Kanker kolorektal adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia baik bagi pria maupun perempuan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kanker kolorektal merupakan penyebab kematian kedua terbesar untuk pria dan penyebab kematian ketiga terbesar untuk perempuan. Data GLOBOCAN 2012 menunjukkan, insiden kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan tingkat kematian 9,5% dari seluruh kanker. Bahkan, secara keseluruhan risiko terkena kanker kolorektal adalah 1 dari 20 orang (5%).

    Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD- KHOM, FACP, FINASIM, Ketua Umum YKI menjelaskan, “Prevalensi kanker kolorektal di Indonesia yang meningkat tajam menjadi perhatian khusus bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk mengajak masyarakat agar lebih waspada dan tidak mengabaikan tanda-tanda penyakit ini dengan melakukan deteksi dini –mengingat gejala kanker kolorektal tidak terlihat jelas. Untuk itu, kami mengapresiasi kerjasama dengan Merck dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker kolorektal.”

    Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa kanker kolorektal erat kaitannya dengan kanker keturunan atau kanker yang terjadi pada usia lanjut, padahal kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Faktanya, 30% dari penderita kanker kolorektal adalah pasien di usia produktif, yaitu di usia 40 tahun atau bahkan lebih muda lagi. Kanker kolorektal yang ditemukan di Indonesia juga sebagian besar bersifat sporadis dan hanya sebagian kecil bersifat herediter.

    Faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kasus kanker ini di Indonesia, seperti penyakit radang usus besar yang tidak diobati, kebiasaan banyak makan daging merah, makanan berlemak dan alkohol, kurang konsumsi buah-buahan serta sayuran dan juga ikan, kurang beraktivitas fisik, berat badan yang berlebihan, serta kebiasaan merokok.

    dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM menjelaskan, “Sekitar 25% pasien kanker kolorektal terdiagnosa pada stadium lanjut, sehingga kanker telah menyebar ke organ lain. Pada kondisi ini, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan tingkat keberhasilan juga menurun. Studi juga menunjukkan hanya 10-12% dari pasien ini hidup lebih dari 5 tahun. Maka dari itu, pemeriksaan dini atau skrining usus dan pentingnya menghindari faktor risiko dengan melakukan perilaku hidup sehat sangat disarankan untuk mencegah kemungkinan kanker sejak dini.  Sementara itu, saat ini pengobatan kanker kolorektal di Indonesia juga sangat berkembang, didukung oleh ahli, tekhnologi dan obat yang tersedia.” 

    Yayasan Kanker Indonesia berharap angka kematian karena kanker kolorektal dapat terus berkurang sejalan dengan kemajuan penanganan kanker ini di Indonesia, khususnya dengan tersedianya terapi target dan pemeriksaan status penanda tumor RAS, yang akan membantu pasien kanker kolorektal mendapatkan obat yang tepat (personalized treatment).  Personalized treatment memungkinkan pemakaian obat yang tepat sehingga pasien akan terhindar dari efek samping dan biaya yang tidak perlu.

    Namun demikian, pada kasus dimana sebagian pasien kanker kolorektal menjalani pembedahan di tubuhnya untuk membuat lubang yang dibuat melalui operasi pengangkatan laring, saluran cerna (usus besar), atau saluran kemih, mereka atau disebut ostomate, membutuhkan pemasangan kantong stoma sebagai fasilitas sederhana agar dapat menjalani hidup normal.

    Keberadaan ostomate membutuhkan pendampingan perawat yang mempunyai keahlian untuk merawat luka, stoma dan inkontinensia (WOCM - Wound, Ostomate and Continence Nurses). YKI mendukung para perawat WOCN dalam hal pelatihan dan membantu mereka hingga akhirnya dapat mendirikan sekolah WOCN di Indonesia. 

    Dr. Aditya G. Parengkuan, M.Biomed, Koordinator Indonesian Ostomy Association YKI, mengatakan, “Salah satu kegiatan Indonesian Ostomate Association (InOA) YKI adalah mendistribusikan bantuan kantong-kantong stoma kepada para ostomate yang membutuhkan, mengingat kantong stoma tidak murah sementara merupakan kebutuhan vital. Namun demikian, InOA YKI masih mengalami kesulitan memasukkan sumbangan kantong stoma yang masih dianggap sebagai barang mewah dengan biaya pajak yang tinggi, yang membuat harga kantong stoma menjadi mahal.”

    Dengan kondisi penanganan pasien kanker kolorektal, hingga sebagian menjadi ostomate, maka dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri saat pra dan pasca operasi.

    Ditemui pada kesempatan yang sama, Medical Director PT Merck Tbk, dr. Risa Anwar, menambahkan, “Sebagai perusahaan yang bergerak dalam sektor kesehatan, Merck memiliki komitmen untuk ikut serta meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia dengan melakukan edukasi pada pekerja kesehatan dan masyarakat.  Untuk itu kami meluncurkan inisiatif terbaru kami, yaitu “Gut Strength” yang ingin mengajak masyarakat agar lebih terbuka dan memberikan dukungannnya kepada para penderita kanker, khususnya kanker kolorektal. Gerakan ini berfokus pada tiga elemen yaitu kebersamaan (together), kekuatan (strength), dan dukungan (support).“

    “Merck mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam terhadap penyakit ini dan mengambil upaya pencegahan serta memberikan dukungannya kepada para penderita untuk menghadapi penyakit ini. Untuk kemudian juga menginspirasi yang lainnya dalam membagikan informasi edukasi penting seputar kanker kolorektal sembari saling belajar dan memberikan dukungan satu sama lain,”  tutup dr. Risa.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 2

    Menurunkan Risiko Kanker dengan Makanan Sehat dan Berolahraga

    Posted on Tue, 27.03.2018

    Penyakit kanker merupakan momok menakutkan yang menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO, pada tahun 2015 ada sebanyak 8,8 juta manusia yang meninggal akibat kanker. Angka tersebut menandakan bahwa kanker menjadi satu dari enam penyakit paling mematikan yang memengaruhi angka mortalitas dunia. Meski begitu, 30 hingga 50% dari kasus penyakit kanker ternyata masih dapat dicegah. Pencegahan kanker bisa dilakukan dengan mengaplikasikan strategi jitu agar masyarakat sadar akan bahayanya penyakit ini, salah satunya dengan memberikan informasi dan dukungan untuk menerapkan gaya hidup sehat.

    Gaya hidup sehat bisa diimplementasikan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan membiasakan diri mengonsumsi makanan dan minuman sehat atau dengan beraktivitas fisik atau olahraga.

    Menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh bisa jadi salah satu kunci efektif untuk mencegah diri terserang kanker. Menurut penelitian, terdapat hubungan signifikan antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan beragam jenis kanker yang kerap menyerang manusia, seperti esofagus, kolektrum, kanker payudara, endometrium dan juga kanker ginjal. Untuk mencegah hal ini, rutinlah mengonsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Diet yang sehat dan teratur diimbangi dengan olahraga rutin bisa jadi cara efektif dalam memerangi kanker.

    Selain menjaga makanan dan berat badan, mencegah datangnya kanker juga dapat dilakukan dengan menjauhi segala faktor yang membawa zat-zat pemicu tumbuhnya sel kanker, yakni merokok. Rokok  mengandung banyak zat berbahaya yang dapat merusak tubuh. Rokok diketahui mengandung ribuan zat kimia berbahaya di mana 50 di antaranya dapat menimbulkan beragam jenis kanker, seperti kanker paru, esofagus, laring, mulut, tenggorokan, ginjal, pankreas, saluran kencing hingga kanker serviks. Tidak hanya kanker, kebiasaan buruk merokok juga meningkatkan risiko penyakit kronis lain sehingga membunuh setidaknya enam juta orang tiap tahun. Risiko tersebut tidak hanya mengintai para perokok aktif tapi juga perokok pasif yang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 6

    Gaya Hidup dan Risiko Kanker

    Posted on Tue, 27.03.2018

    Kanker masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Menurut data yang dilansir Kementerian Kesehatan, pada 2016 lalu jumlah kasus kanker di Indonesia merangkak naik menjadi 1,3 juta kasus dari yang sebelumnya masih 1,2 juta kasus di tahun 2015. Sebesar 30% dari kasus kematian akibat kanker pun diketahui disebabkan oleh kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, dan juga obesitas atau kondisi kelebihan berat badan. Pertanyaannya, mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko kanker bahkan hingga berkali-kali lipat?

    Berdasarkan hasil studi yang dilakukan tim ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 lalu, terungkap bahwa orang dewasa yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) yang tinggi atau mengalami obesitas bisa menggandakan risiko mereka terserang kanker saat beranjak tua. Studi ini khususnya merujuk pada kecenderungan wanita dengan BMI tinggi dan risiko kanker payudara yang dimilikinya. Tak hanya kanker payudara, wanita yang di usia mudanya mengalami obesitas atau memiliki berat badan berlebih juga memiliki risiko lebih besar untuk terserang kanker endometrium.

    Melina Arnold, ilmuwan WHO yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa seseorang dengan obesitas memiliki peningkatan risiko terserang kanker sebanyak tujuh persen tiap 10 tahun.

    Lemak berlebih dalam tubuh bisa sangat membahayakan. Lemak bisa memproduksi hormon dan sejumlah protein yang dilepas ke saluran darah dan tersebar ke seluruh tubuh. Protein dan hormon yang tersebar melalui sirkulasi darah ini bisa berdampak buruk bagi bagian-bagian tubuh tertentu, dan selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya beberapa jenis kanker yang berbeda. Meningkatnya produksi hormon reproduksi khususnya estrogen dan testosteron bisa menyebabkan tingginya resiko kanker rahima dan kanker payudara bagi wanita atau kanker prostat bagi pria.

    Menjaga berat badan agar tetap normal dan tidak obesitas sehingga mencegah datangnya kanker bisa dilakukan dengan melakukan gaya hidup sehat. Makanlah makanan bergizi dan sehat secara teratur, termasuk makanan berserat untuk mengontrol kadar kolestrol dan gula darah dalam tubuh. Tinggalkan kebiasaan merokok atau minum minuman beralkohol, dan rajinlah berolahraga untuk membakar kadar lemak berlebih atau lemak jahat yang tersisa di tubuh, sehingga sel kanker tak pernah tumbuh dan mengganggu kesehatan Anda.

    Selengkapnya >>