YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

  • Artikel Image 32

    Kenali Penyebab dan Gejala Kanker Otak!

    Posted on Mon, 21.05.2018

    Kanker otak merupakan kondisi yang disebabkan oleh tumor ganas yang tumbuh dalam otak. Tumor otak sendiri disebabkan oleh pertumbuhan sel abnormal pada jaringan, sel saraf, selaput pelindung otak atau saraf tulang belakang.

    Tumor ganas penyebab kanker otak dapat menyebar secara tidak terkendali ke bagian tubuh dekat otak dengan mengambil tempat, darah dan juga nutrisi yang ada di jaringan tersebut. Bahkan, tidak jarang sel kanker ganas ini menyebar ke bagian tubuh lain yang lebih jauh melalui aliran darah.

    Kanker otak dibedakan menjadi dua, yakni kanker otak utama dan kanker otak sekunder (metastasis). Kanker otak utama disebabkan oleh munculnya salah satu sel dalam otak yang tumbuh tidak wajar dan bertransformasi menjadi sel kanker. Sel yang bertransformasi ini kemudian berkembang sehingga menyebabkan tumor. Sementara itu, kanker otak sekunder atau metastasis merupakan kanker otak yang dipicu oleh tumbuhnya sel tumor di bagian tubuh lain yang menyebar ke bagian otak. Kanker jenis inilah yang tercatat menjadi penyebab kasus kanker otak terbanyak di dunia.

    Penyebab tumor dan kanker otak

    Penyebab terjadinya  kanker otak memang masih belum dapat diketahui. Meski begitu, ada beberapa faktor yang dapat memicu risiko kanker otak pada seseorang, contohnya faktor genetik, racun dari lingkungan berbahaya, radiasi di bagian kepala, infeksi HIV, dan juga kebiasaan buruk merokok.

    Gejala kanker otak

    Awalnya, gejala kanker otak akan sama dengan gejala penyakit-penyakit lainnya yaitu pusing atau sakit kepala, kelelahan, sering merasa bingung, kesulitan berjalan hingga kejang. Pada beberapa kasus, penderita kanker otak juga dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, susah mengingat, mual, muntah, dan mengalami masalah penglihatan.

    Jika Anda terus menerus merasakan gejala yang telah disebutkan di atas, satu-satunya cara untuk mendeteksi adanya kanker otak adalah dengan melakukan CT Scan atau pemindaian otak. Dengan CT scan atau MRI, dokter atau ahli medis dapat mengetahui apakah penyebab gejala yang dirasakan adalah adanya tumor yang menekan bagian dalam otak atau karena adanya pembengkakan akibat peradangan dari tumor. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 29

    Mengenal Kanker Otak

    Posted on Fri, 04.05.2018

    Otak adalah salah satu organ terpenting dalam mengatur organ lain agar dapat berfungsi secara sinergis. Bagaikan ‘Bos’ diantara organ penting lainnya. Bisa dibayangkan jika terjadi masalah pada otak maka sistem pengaturan dan koordinasi akan menjadi kacau. Fungsi luhur seperti berbicara, melihat, berpikir, bergerak, dan lainnya bisa saja terganggu tergantung lokasi kelainnya.

    Tumor otak adalah pertumbuhan sel-sel otak yang tidak terkendali. Tumor otak bisa bersifat jinak ataupun ganas. Tumor ganas pada otak itulah yang kita sebut sebagai kanker otak. Menurut asalnya, tumor otak dikelompokan menjadi tumor primer dan sekunder. Disebut primer jika tumor berasal dari sel otak itu sendiri, sedangkan tumor otak sekunder berasal dari kanker organ lain misalnya akibat penyebaran kanker paru, kanker payudara, maupun kanker lain. Kebanyakan kanker otak merupakan tumor sekunder. Dari seluruh tumor primer otak, astrositoma anaplastik dan glioblastoma multiforme (GBM) meliputi sekitar 38% dari jumlah keseluruhan tumor primer, diikuti oleh meningioma dan tumor mesenkim lainnya sebanyak 27%.

    Kanker otak masih menjadi perhatian dunia, kerena berbagai kemajuan penelitian dan teknologi belum dapat memaksimalkan hasil pengobatan kanker otak. Di Indonesia kanker otak merupakan salah satu kanker terbanyak pada anak. Meskipun demikian, tumor ini dapat terjadi pada umur berapapun. Berdasarkan penelitian, tumor otak sering terjadi pada anak-anak 3-12 tahun dan orang dewasa 40-70 tahun. Risiko kanker otak meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

    Penyebab kanker otak belum sepenuhnya dipahami. Beberapa ahli berpendapat bahwa orang dengan faktor risiko tertentu mempunyai kemungkinan lebih besar mengalami kanker otak. Orang yang bekerja di kilang minyak, industri kimia atau karet mempunyai risiko lebih besar mengalami kanker otak. Faktor lain yang dikaitkan kanker otak adalah riwayat keluarga mengalami kanker otak, merokok, infeksi virus (HIV), dan paparan radiasi.

    Berhubungan dengan penyebab ataupun faktor risiko kanker otak, kita perlu mengkritisi berbagai isu atau rumor mengenai penyebab kanker otak. Disebutkan bahwa radiasi ponsel dapat menyebabkan kanker otak. Hal tersebut telah direspon oleh American Cancer Society dan National Cancer Institute yang menyatakan bahwa frekuensi radio ponsel terlalu rendah untuk dapat menyebabkan kanker otak. Selain itu, isu aspartame (pemanis buatan) yang dikatakan dapat menyebabkan kanker otak juga tidak terbukti kebenarannya.

    Gejala tumor otak sangat beragam, tergantung pada ukuran dan bagian otak yang terlibat. Tumor atau benjolan didalam tulang tengkorak ini bisa menyebabkan fungsi otak terganggu. Penekanan jaringan otak sekitar dapat menyebabkan sakit kepala hebat bahkan kejang-kejang. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah mudah lelah dan cenderung mengantuk, atau gangguan pada penglihatan, pendengaran, berbicara, melihat, dan koordinasi gerak. Peningkatan tekanan didalam otak juga dapat meyebabkan penderita muntah-muntah. Selain itu, perubahan kepribadian yang tidak seperti karakter biasanya juga bisa disebabkan oleh kanker ini.

    Perlu diingat bahwa tidak semua gejala sakit kepala ataupun keluhan yang disebutkan diatas merupakan gejala khas untuk kanker otak. Beberapa orang mempunyai keluhan yang tidak spesifik atau bahkan tidak bergejala. Konsultasikan dengan dokter Anda jika mengalami keluahan diatas, diperlukan pemeriksaan lanjut untuk dapat mendiagnosis kanker otak seperti CT-Scan ataupun MRI otak. Pengobatan kanker otak bervariasi, tergantung dari stadium saat ditemukan. Jika masih memungkinakan, kanker otak primer bisa diobati dengan tindakan pembedahan untuk mengangkat sel-sel kanker. Setelah itu, dilanjutkan dengan radioterapi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya. Pada stadium lanjut atau kanker otak sekunder, pengobatan berfokus pada pelayanan paliatif. Perawatan ini diutamakan untuk meringankan gejala agar penderita marasa nyaman dan mempunyai hidup yang berkualitas. 

    Dukungan keluarga dan kerabat sangat diperlukan untuk mendampingi penderita dalam mengambil keputusan pengobatan. Konsultasikan kepada ahli Onkologi untuk mendapatkan saran manfaat dari setiap pilihan pengobatan dan memperkirakan efek sampingnya. Pemahaman pasien dan keluarga akan membantu dalam pemilihan pengobatan yang tepat. Pendampingan juga diperlukan selama pengobatan agar panderita tidak merasa tertekan atau depresi terhadap kondisi yang dialami. Pengobatan dan pemulihan untuk penyakit kanker memerlukan waktu cukup lama, maka lakukan dukungan pada orang yang Anda kenal secara terus-menerus dalam menghadapi seluruh perjalanan kankernya. 

     

    ***

    Artikel oleh :

    dr. Fujiyanto

    Sahabat YKI Cabang Kalimantan Barat

    Dokter Umum RSUD dr Soedarso Pontianak

     

     

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 25

    Mewaspadai Bahaya Kanker Tulang

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Kanker tulang berawal dari tumor ganas pada tulang yang dapat menghancurkan jaringan tulang normal. Kanker ini merupakan salah satu dari enam kanker yang kerap menyerang anak-anak di Indonesia selain Leukimia (kanker darah), Retinoblastoma (kanker mata), Neuroblastoma (kanker sel saraf), Limfoma Malignum (kanker kelenjar getah bening) dan Karsinoma Nasofaring (kanker tenggorokan). Tercatat, prevalensi kanker tulang di Indonesia terutama pada anak terus meningkat sejak tahun 2010.

    Kanker tulang dapat menyerang jaringan tulang mana saja di seluruh tubuh, yaitu pada tulang padat, tulang rawan (kartilago), jaringan serat dan jaringan dalam sumsum tulang. Ada tiga jenis kanker tulang yang paling sering diderita berdasarkan tempat sel kankernya bermula, yaitu:

    Osteosarcoma

    Sel kanker jenis ini berawal dari jaringan osteoid pada tulang, sering terjadi pada lutut dan lengan atas.

    Chondrosarcoma

    Sel kanker jenis ini berasal dari jaringan tulang rawan dan sering terjadi di bagian panggul, kaki bagian atas dan bahu.

    Ewing Sarkoma

    Sel kanker terdapat dalam jaringan lunak (otot, lemak, jaringan fibrosa, pembuluh darah atau jaringan pendukung lainnya). Sarkoma ewing ini paling sering terjadi di bagian tulang punggung, panggul, tulang kaki dan lengan.

    Jenis kanker tulang chondrosarcoma dan ewing sarcoma sering terjadi pada remaja atau anak di atas usia 10 tahun. Mengingat tingginya prevalensi kanker tulang terutama pada anak tersebut, kita perlu memahami penyebab atau faktor pemicu kanker tulang agar angka kasus kanker dapat ditekan. Berikut adalah faktor pemicu terjadinya kanker tulang:

    • Sering menjalani terapi radiasi eksternal
    • Pengobatan dengan obat antikanker dosis tinggi
    • Faktor keturunan/genetik
    • Memiliki cacat tulang turunan
    • Memiliki cacat dan implan logam (pen atau plat)

    Kanker tulang yang dipicu oleh faktor non-genetik bisa dicegah dengan cara menerapkan gaya hidup sehat, yaitu menerapkan pola makan sehat dan teratur, rutin berolahraga, istirahat cukup, menghindari rokok dan alkohol dan rutin mengonsumsi makanan yang mengandung antioksidan pencegah kanker.

    Seseorang yang menderita kanker tulang akan merasakan beberapa gejala seperti nyeri pada tulang yang lebih terasa di malam hari atau setelah beraktivitas, pembengkakan, kemerahan dan hangat pada daerah nyeri tulang. Penderita juga rentan alami patah tulang dan nyeri punggung berkepanjangan.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 23

    Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat

    Posted on Tue, 24.04.2018

    Jakarta, 3 April 2018 – Masih dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Kanker Kolorektal yang jatuh pada Maret 2018 lalu, Merck sebagai perusahaan sains dan teknologi, bersama-sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) menggelar sesi diskusi dengan tema “Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat”. Kegiatan ini diadakan sebagai upaya dalam mengedukasi masyarakat tentang kanker kolorektal dan pentingnya deteksi dini untuk mendapatkan pengobatan yang tepat, serta memberikan dukungan kepada para penderita dan keluarga.

    Kanker kolorektal adalah salah satu masalah kesehatan di Indonesia baik bagi pria maupun perempuan. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, kanker kolorektal merupakan penyebab kematian kedua terbesar untuk pria dan penyebab kematian ketiga terbesar untuk perempuan. Data GLOBOCAN 2012 menunjukkan, insiden kanker kolorektal di Indonesia adalah 12,8 per 100.000 penduduk usia dewasa, dengan tingkat kematian 9,5% dari seluruh kanker. Bahkan, secara keseluruhan risiko terkena kanker kolorektal adalah 1 dari 20 orang (5%).

    Prof. Dr. Aru W. Sudoyo, SpPD- KHOM, FACP, FINASIM, Ketua Umum YKI menjelaskan, “Prevalensi kanker kolorektal di Indonesia yang meningkat tajam menjadi perhatian khusus bagi Yayasan Kanker Indonesia untuk mengajak masyarakat agar lebih waspada dan tidak mengabaikan tanda-tanda penyakit ini dengan melakukan deteksi dini –mengingat gejala kanker kolorektal tidak terlihat jelas. Untuk itu, kami mengapresiasi kerjasama dengan Merck dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang kanker kolorektal.”

    Sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa kanker kolorektal erat kaitannya dengan kanker keturunan atau kanker yang terjadi pada usia lanjut, padahal kanker yang tumbuh pada usus besar atau rektum ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Faktanya, 30% dari penderita kanker kolorektal adalah pasien di usia produktif, yaitu di usia 40 tahun atau bahkan lebih muda lagi. Kanker kolorektal yang ditemukan di Indonesia juga sebagian besar bersifat sporadis dan hanya sebagian kecil bersifat herediter.

    Faktor lingkungan dan gaya hidup yang tidak sehat memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap kasus kanker ini di Indonesia, seperti penyakit radang usus besar yang tidak diobati, kebiasaan banyak makan daging merah, makanan berlemak dan alkohol, kurang konsumsi buah-buahan serta sayuran dan juga ikan, kurang beraktivitas fisik, berat badan yang berlebihan, serta kebiasaan merokok.

    dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD-KHOM menjelaskan, “Sekitar 25% pasien kanker kolorektal terdiagnosa pada stadium lanjut, sehingga kanker telah menyebar ke organ lain. Pada kondisi ini, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih mahal, dan tingkat keberhasilan juga menurun. Studi juga menunjukkan hanya 10-12% dari pasien ini hidup lebih dari 5 tahun. Maka dari itu, pemeriksaan dini atau skrining usus dan pentingnya menghindari faktor risiko dengan melakukan perilaku hidup sehat sangat disarankan untuk mencegah kemungkinan kanker sejak dini.  Sementara itu, saat ini pengobatan kanker kolorektal di Indonesia juga sangat berkembang, didukung oleh ahli, tekhnologi dan obat yang tersedia.” 

    Yayasan Kanker Indonesia berharap angka kematian karena kanker kolorektal dapat terus berkurang sejalan dengan kemajuan penanganan kanker ini di Indonesia, khususnya dengan tersedianya terapi target dan pemeriksaan status penanda tumor RAS, yang akan membantu pasien kanker kolorektal mendapatkan obat yang tepat (personalized treatment).  Personalized treatment memungkinkan pemakaian obat yang tepat sehingga pasien akan terhindar dari efek samping dan biaya yang tidak perlu.

    Namun demikian, pada kasus dimana sebagian pasien kanker kolorektal menjalani pembedahan di tubuhnya untuk membuat lubang yang dibuat melalui operasi pengangkatan laring, saluran cerna (usus besar), atau saluran kemih, mereka atau disebut ostomate, membutuhkan pemasangan kantong stoma sebagai fasilitas sederhana agar dapat menjalani hidup normal.

    Keberadaan ostomate membutuhkan pendampingan perawat yang mempunyai keahlian untuk merawat luka, stoma dan inkontinensia (WOCM - Wound, Ostomate and Continence Nurses). YKI mendukung para perawat WOCN dalam hal pelatihan dan membantu mereka hingga akhirnya dapat mendirikan sekolah WOCN di Indonesia. 

    Dr. Aditya G. Parengkuan, M.Biomed, Koordinator Indonesian Ostomy Association YKI, mengatakan, “Salah satu kegiatan Indonesian Ostomate Association (InOA) YKI adalah mendistribusikan bantuan kantong-kantong stoma kepada para ostomate yang membutuhkan, mengingat kantong stoma tidak murah sementara merupakan kebutuhan vital. Namun demikian, InOA YKI masih mengalami kesulitan memasukkan sumbangan kantong stoma yang masih dianggap sebagai barang mewah dengan biaya pajak yang tinggi, yang membuat harga kantong stoma menjadi mahal.”

    Dengan kondisi penanganan pasien kanker kolorektal, hingga sebagian menjadi ostomate, maka dukungan keluarga dan orang terdekat sangatlah penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri saat pra dan pasca operasi.

    Ditemui pada kesempatan yang sama, Medical Director PT Merck Tbk, dr. Risa Anwar, menambahkan, “Sebagai perusahaan yang bergerak dalam sektor kesehatan, Merck memiliki komitmen untuk ikut serta meningkatkan pelayanan kesehatan di Indonesia dengan melakukan edukasi pada pekerja kesehatan dan masyarakat.  Untuk itu kami meluncurkan inisiatif terbaru kami, yaitu “Gut Strength” yang ingin mengajak masyarakat agar lebih terbuka dan memberikan dukungannnya kepada para penderita kanker, khususnya kanker kolorektal. Gerakan ini berfokus pada tiga elemen yaitu kebersamaan (together), kekuatan (strength), dan dukungan (support).“

    “Merck mengajak masyarakat untuk tidak tinggal diam terhadap penyakit ini dan mengambil upaya pencegahan serta memberikan dukungannya kepada para penderita untuk menghadapi penyakit ini. Untuk kemudian juga menginspirasi yang lainnya dalam membagikan informasi edukasi penting seputar kanker kolorektal sembari saling belajar dan memberikan dukungan satu sama lain,”  tutup dr. Risa.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 2

    Menurunkan Risiko Kanker dengan Makanan Sehat dan Berolahraga

    Posted on Tue, 27.03.2018

    Penyakit kanker merupakan momok menakutkan yang menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO, pada tahun 2015 ada sebanyak 8,8 juta manusia yang meninggal akibat kanker. Angka tersebut menandakan bahwa kanker menjadi satu dari enam penyakit paling mematikan yang memengaruhi angka mortalitas dunia. Meski begitu, 30 hingga 50% dari kasus penyakit kanker ternyata masih dapat dicegah. Pencegahan kanker bisa dilakukan dengan mengaplikasikan strategi jitu agar masyarakat sadar akan bahayanya penyakit ini, salah satunya dengan memberikan informasi dan dukungan untuk menerapkan gaya hidup sehat.

    Gaya hidup sehat bisa diimplementasikan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan membiasakan diri mengonsumsi makanan dan minuman sehat atau dengan beraktivitas fisik atau olahraga.

    Menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh bisa jadi salah satu kunci efektif untuk mencegah diri terserang kanker. Menurut penelitian, terdapat hubungan signifikan antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan beragam jenis kanker yang kerap menyerang manusia, seperti esofagus, kolektrum, kanker payudara, endometrium dan juga kanker ginjal. Untuk mencegah hal ini, rutinlah mengonsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Diet yang sehat dan teratur diimbangi dengan olahraga rutin bisa jadi cara efektif dalam memerangi kanker.

    Selain menjaga makanan dan berat badan, mencegah datangnya kanker juga dapat dilakukan dengan menjauhi segala faktor yang membawa zat-zat pemicu tumbuhnya sel kanker, yakni merokok. Rokok  mengandung banyak zat berbahaya yang dapat merusak tubuh. Rokok diketahui mengandung ribuan zat kimia berbahaya di mana 50 di antaranya dapat menimbulkan beragam jenis kanker, seperti kanker paru, esofagus, laring, mulut, tenggorokan, ginjal, pankreas, saluran kencing hingga kanker serviks. Tidak hanya kanker, kebiasaan buruk merokok juga meningkatkan risiko penyakit kronis lain sehingga membunuh setidaknya enam juta orang tiap tahun. Risiko tersebut tidak hanya mengintai para perokok aktif tapi juga perokok pasif yang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 6

    Gaya Hidup dan Risiko Kanker

    Posted on Tue, 27.03.2018

    Kanker masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Menurut data yang dilansir Kementerian Kesehatan, pada 2016 lalu jumlah kasus kanker di Indonesia merangkak naik menjadi 1,3 juta kasus dari yang sebelumnya masih 1,2 juta kasus di tahun 2015. Sebesar 30% dari kasus kematian akibat kanker pun diketahui disebabkan oleh kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, dan juga obesitas atau kondisi kelebihan berat badan. Pertanyaannya, mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko kanker bahkan hingga berkali-kali lipat?

    Berdasarkan hasil studi yang dilakukan tim ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 lalu, terungkap bahwa orang dewasa yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) yang tinggi atau mengalami obesitas bisa menggandakan risiko mereka terserang kanker saat beranjak tua. Studi ini khususnya merujuk pada kecenderungan wanita dengan BMI tinggi dan risiko kanker payudara yang dimilikinya. Tak hanya kanker payudara, wanita yang di usia mudanya mengalami obesitas atau memiliki berat badan berlebih juga memiliki risiko lebih besar untuk terserang kanker endometrium.

    Melina Arnold, ilmuwan WHO yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa seseorang dengan obesitas memiliki peningkatan risiko terserang kanker sebanyak tujuh persen tiap 10 tahun.

    Lemak berlebih dalam tubuh bisa sangat membahayakan. Lemak bisa memproduksi hormon dan sejumlah protein yang dilepas ke saluran darah dan tersebar ke seluruh tubuh. Protein dan hormon yang tersebar melalui sirkulasi darah ini bisa berdampak buruk bagi bagian-bagian tubuh tertentu, dan selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya beberapa jenis kanker yang berbeda. Meningkatnya produksi hormon reproduksi khususnya estrogen dan testosteron bisa menyebabkan tingginya resiko kanker rahima dan kanker payudara bagi wanita atau kanker prostat bagi pria.

    Menjaga berat badan agar tetap normal dan tidak obesitas sehingga mencegah datangnya kanker bisa dilakukan dengan melakukan gaya hidup sehat. Makanlah makanan bergizi dan sehat secara teratur, termasuk makanan berserat untuk mengontrol kadar kolestrol dan gula darah dalam tubuh. Tinggalkan kebiasaan merokok atau minum minuman beralkohol, dan rajinlah berolahraga untuk membakar kadar lemak berlebih atau lemak jahat yang tersisa di tubuh, sehingga sel kanker tak pernah tumbuh dan mengganggu kesehatan Anda.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 17

    Lembaga Kanker Dunia Serukan Kesetaraan Akses Kurangi Kematian Prematur Kanker

    Posted on Mon, 19.03.2018

    Minggu, 4 Februari 2018 – Hari Kanker Sedunia, SEMARANG, Indonesia:  Hari Kanker Sedunia 2018 yang jatuh pada 4 Februari meningkatkan kesadaran jutaan warga dunia yang menghadapi kesenjangan dalam akses terhadap deteksi dini, pengobatan dan layanan perawatan kanker. Bersama para tokoh, praktisi kesehatan dan pegiat kanker di seluruh dunia, mendorong aksi penting untuk mengurangi kematian premature akibat kanker, memprioritaskan kecepatan hasil diagnosa dan akses terhadap pengobatan kanker di seluruh dunia.  

    Target dunia adalah untuk mengurangi kematian premature akibat kanker dan penyakit tak menular hingga 25% pada tahun 2025. Namun, untuk mendapatkan komitmen di seluruh dunia, ketidak setaraan saat ini terjadi dalam hal eksposur terhadap faktor risiko, akses terhadap skrining, deteksi dini, serta pengobatan dan perawatan yang sesuai secara tepat waktu and care, juga harus menjadi perhatian.

    Professor Sanchia Aranda, Presiden UICC dan CEO Dewan Kanker Australia mengatakan, “Target Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 adalah untuk mengurangi penyakit tak menular sebesar 25% dalam 14 tahun baru mencapai separuh jalan. Kita dapat mencapai target tersebut, namun masih banyak aksi nyata yang harus diambil.  Ketidaksetaraan dalam akses terhadap pencegahan, diagnosa, pengobatan dan perawatan yang membuat pengurangan kematian prematur akibat kanker menjadi sulit.  Jika kita berkomitmen untuk mencapai tujuan ini, kita semua harus bertindak cepat dan tegas untuk membuat akses terhadap layanan kanker yang berkeadilan di seluruh penjuru dunia”.  

    Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, Ketua Yayasan Kanker Indonesia mengatakan, “Pengobatan yang optimal dan ketersediaan fasilitas terapi –khususnya untuk penyakit kanker, adalah hak setiap warga negara.  Angka kejadian kanker di Indonesia hanya dapat diturunkan melalui kepedulian serta kesadaran masyarakat akan kebiasaan hidup yang sehat dan melakukan deteksi dini.”

    Menurut Yayasan Kanker Indonesia, penyakit kanker merupakan permasalahan di Indonesia dengan prevalensi yang cukup tinggi, yaitu 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orangSalah satu tindakan pencegahan kanker adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, termasuk olahraga lari.  

    Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Kanker Sedunia 2018, Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Cabang Semarang, bekerjasama dengan Pemkot Semarang dan didukung oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat, serta organisasi pegiat kanker lainnya melakukan kampanye dengan kegiatan Fun Run berjudul “Run Against Cancer” sepanjang 5+1 km di kota Semarang pada 4 Februari 2018 pukul 05.30, dengan starting dan finish point di Balaikota Semarang.  Pada kegiatan Run Against Cancer tersebut, masyarakat diajak untuk mengikuti pola hidup “CERDIK” yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin olahraga, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.  Kegiatan ini tercantum sebagai salah satu agenda dunia Hari Kanker Sedunia, dan dapat dilihat di situs: www.worldcancerday.org.

    Hari Kanker Sedunia, diprakarsai oleh Union for International Cancer Control (UICC), setiap tahunnya menyuarakan upaya penanggulanan kanker, sehinga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengakui untuk pertama kalinya kanker sebagai penyebab kematian utama di dunia. 

    Saat ini, diperkirakan terdapat 8,8 juta kematian akibat kanker setiap tahuannya.  Namun, 70% dari insiden tersebut terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah sampai menengah, dimana peralatan perawatan kanker masih merupakan beban. Daerah terparah yang berkaitan dengan kanker anak-anak – yang merupakan kelompok spesifik yang digaris-bawahi oleh WHO dalam Resolusi Kanker 2017 – dengan tingkat ketahanan hidup diatas 80% dialami negara-negara berpenghasilan tinggi dan hanya 20% di negara-negara berpendapatan rendah.

    Ketidak-setaraan ini juga dialami di negara-negara berpendapatan menengah dan atas, namun terfokus pada populasi tertentu, seperti penduduk asli, imigran, pengungsi, masyarakat pedesaan dan berpenghasilan rendah.

    Professor Sanchia Aranda lebih lanjut mengatakan,  dalam tahun terkahir kampanye “Kita bisa. Aku Bisa.’ pada Hari Kanker Sedunia, kami berharap dapat menginspirasi langkah konkret dari pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi ketidak-setaraan pada penanganan, pengobatan dan perawatan kanker, dimana sangat disayangkan telah berdampak pada populasi yang rentan di setiap negara. Kesenjangan antara masyarakat kelompok sosio-ekonomi tinggi dan rendah semakin besar. Sehingga suara yang terpinggirkan harus diwakili dalam diskusi-diskusi Hari Kanker Sedunia.”

    Contoh konkret dari sebuah kesenjangan akses di dunia yang secara khusus berdampak pada pelayanan sub-standar terhadap masyarakat pra-sejahtera adalah akses terhadap radioterapi. Sebagai metoda utama perawatan kanker, radioterapi direkomendasikan untuk 52% dari pasien kanker. Disayangkan bahwa kesenjangan terbesar antara kebutuhan dan ketersediaan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah s/d menengah; 90% pasien kanker di negara-negara berpendapatan rendah s/d menengah memiliki akses terbatas pada radioterapi. Namun, isu mengenai akses perawatawan kritis ini berkurang di banyak negara. Di negara China, terdapat kekurangan fasilitas radioterapi, dengan akses yang berbeda pada setiap provinsi. Di Inggris, akses terhadap jenis perawatan  radioterapi canggih Intensity Modulated Radiotherapy tergantung dimana pasien tinggal dan dapat menghadapi situasi yang jauh berbeda– antara 20% sampai 70%.

    Menyikapi kesenjangan keseteraan di dunia dan pentingnya tanggapan di masing-masing negara, UICC hari ini meluncurkan sebuah inisiatif kampanye, Treatment for All (Perawatan untuk Semua). Hal tersebut menandai inisiatif baru kedua dari UICC dalam beberapa tahun terakhir untuk memobilisasi aksi nasional guna meningkatkan akses terhadap diagnosa dan perawatan kanker, dan hal ini telah diakui secara langsung bahwa beban yang diakibatkan oleh kanker tidak dapat diringankan secara serta merta melalui pencegahan pengurangan insiden kanker.

    Dr Cary Adams, Chief Executive Officer UICC mengatakan, “Tsunami atas kasus-kasus kanker yang perlu diantisipasi dalam beberapa dasawarsa ke depan memerlukan  tanggapan yang persuasif dan serius pada setiap tingkat, baik dunia dan nasional.  Inisiatif Perawatan untuk Semua, sejalan dengan inisiatif C/Can 2025: Kota Tantangan Kanker, yang mana akan dilakukan untuk mempercepat progres dengan menerjemahkan komitmen dunia menjadi aksi nasional yang nyata, aman dan berkualitas."

    Dengan memberdayakan masyarakat pada tingkat individu,  kota, negara, dan pemerintah untuk mendorong inisiatif Perawatan untuk Semua dengan empat pilar pengobatan dan perawatan kanker, kita dapat mencapai:

    • Peningkatan kualitas data kanker untuk kepentingan kesehatan masyarakat
    • Peningkatan jumlah masyarakat yang dapat mengakses deteksi dini dan diagnosa kanker yang akurat
    • Pelayanan yang lebih tepat waktu dan berkualitas untuk penyakit metastasis, khususnya pada tahap awal
    • Sekurang-kurangnya layanan perawatan supportif dasar dan perawatan paliatif bagi sebanyak 32,6 juta orang yang hidup dengan kanker. 

    Pada Hari Kanker Sedunia, kampanye “Kita Bisa. Aku Bisa.” mendorong upaya untuk mengurangi penyakit kanker dan kematian penyakit tak menular sebesar 25% di seluruh dunia pada tahun 2025.

    • Penyakit tak menular atau penyakit kronis adalah penyakit dengan durasi panjang dengan perkembangan yang biasanya lambat. Empat tipe utama penyakit tak menular adalah penyakit jantung, kanker, penyakit pernafasan kronis, dan diabetes.
    • Masyarakat dunia telah berkomitmen untuk mengurangi kematian prematur akibat kanker dan penyakit tak menular sebanyak 25% pada tahun 2025 dan hal ini ditetapkan pada Rencana Aksi Global untuk Pencegahan dan Kontrol terhadap Penyakit Tak Menular 
    • Harapan utama bagi penyembuhan kanker mencakup radioterapi, operasi, dan pengobatan termasuk kemoterapi
    • Kesenjangan pada layanan kanker dan hasil pengobatan pasien tergantung pada dimana seseorang tinggal, dan ini sering disebut dengan istilah Postcode Lottery

    Tentang Hari Kanker Sedunia 2018

    Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari merupakan satu-satunya inisiatif  dimana masyarakat dunia dapat bersatu untuk meningkatkan profil kanker melalui cara positif dan inspiratif.  Diorganisasikan oleh Union for International Cancer Control (UICC), Hari Kanker Sedunia dalam dua tahun terakhir menggunakan  tagline ‘Kita Bisa. Aku Bisa.’ Yang menjelajahi bagaimana setiap orang, baik secara kelompok ataupun individu, dapat mengambil peran masing-masing untuk mengurangi beban akibat kanker.  Sebagaimana kanker dapat berdampak pada seseorang dengan cara berbeda, setiap orang pun juga memiliki kekuatan untuk bertindak dalam rangka mengurangi dampak kanker. Hari Kanker Sedunia merupakan kesempatan untuk merefleksikan apa yang dapat Anda lakukan, buatlah janji dan lakukan aksi! 

     

    Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.worldcancerday.org

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 9

    YKI dan RSHS Gelar Pelatihan Perawatan Paliatif Kanker

    Posted on Mon, 19.03.2018

    Yayasan Kanker Indonesia bekerjasama dengan RHSH mengadakan Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Perawat (Caregiver) sebagai salah satu upaya untuk menangani masalah kanker di rumah.

    Yayasan Kanker Indonesia bersinergi dengan PERUM BULOG, YKI Jawa Barat, RSUP Hasan Sadikin, dan Masyarakat Paliatif Indonesia (MPI) Cabang Bandung yang berlangsung di RSUP Hasan Sadikin Bandung dari tanggal 20-23 November 2017.

    Pelatihan Paliatif di RS Hasan Sadikin diikuti oleh 70 peserta tenaga medis dan tenaga pelaku perawat (caregiver) dari berbagai rumah sakit di Jawa Barat. Tim pengajar paliatif terdiri dari dokter, perawat, dan fisioterapis. Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta akan memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan pasien paliatif di rumah.

    Paliatif sendiri  berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya paliatif merupakan satu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi.

    Belakangan ini, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Itu menunjukan dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, ada 240.000 pengidap baru tiap tahunnya.

    Sejak tahun 2013 sampai 2014 di Hasan Sadikin Sendiri kasus kanker terbanyak adalah kanker payudara, kanker kolorektal, kanker paru-patu, dan kanker serviks. Berdasarkan distribusi jenis kelamin kasus kanker terbanyak pada laki-laki adalah kanker paru-paru, sedangkan pada perempuan adalah kanker payudara dan serviks.

     

    RS Hasan Sadikin menjadi penutup pelatihan paliatif YKI di tahun 2017. Sebelumnya YKI telah melaksanakan pelatihan di Kupang, Palembang, dan Makassar. Selanjutnya YKI akan melaksanakan di pelatihan di cabang Aceh, Semarang, Banjarmasin, Papua, dan Samarinda pada tahun 2018.

    Selengkapnya >>