YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Apotek: (021) 3920568 | Klinik: (021) 31927464 | Sekretariat: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

  • Artikel Image 2

    Menurunkan Risiko Kanker dengan Makanan Sehat dan Berolahraga

    Posted on Wed, 28.03.2018

    Penyakit kanker merupakan momok menakutkan yang menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO, pada tahun 2015 ada sebanyak 8,8 juta manusia yang meninggal akibat kanker. Angka tersebut menandakan bahwa kanker menjadi satu dari enam penyakit paling mematikan yang memengaruhi angka mortalitas dunia. Meski begitu, 30 hingga 50% dari kasus penyakit kanker ternyata masih dapat dicegah. Pencegahan kanker bisa dilakukan dengan mengaplikasikan strategi jitu agar masyarakat sadar akan bahayanya penyakit ini, salah satunya dengan memberikan informasi dan dukungan untuk menerapkan gaya hidup sehat.

    Gaya hidup sehat bisa diimplementasikan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan membiasakan diri mengonsumsi makanan dan minuman sehat atau dengan beraktivitas fisik atau olahraga.

    Menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh bisa jadi salah satu kunci efektif untuk mencegah diri terserang kanker. Menurut penelitian, terdapat hubungan signifikan antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan beragam jenis kanker yang kerap menyerang manusia, seperti esofagus, kolektrum, kanker payudara, endometrium dan juga kanker ginjal. Untuk mencegah hal ini, rutinlah mengonsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Diet yang sehat dan teratur diimbangi dengan olahraga rutin bisa jadi cara efektif dalam memerangi kanker.

    Selain menjaga makanan dan berat badan, mencegah datangnya kanker juga dapat dilakukan dengan menjauhi segala faktor yang membawa zat-zat pemicu tumbuhnya sel kanker, yakni merokok. Rokok  mengandung banyak zat berbahaya yang dapat merusak tubuh. Rokok diketahui mengandung ribuan zat kimia berbahaya di mana 50 di antaranya dapat menimbulkan beragam jenis kanker, seperti kanker paru, esofagus, laring, mulut, tenggorokan, ginjal, pankreas, saluran kencing hingga kanker serviks. Tidak hanya kanker, kebiasaan buruk merokok juga meningkatkan risiko penyakit kronis lain sehingga membunuh setidaknya enam juta orang tiap tahun. Risiko tersebut tidak hanya mengintai para perokok aktif tapi juga perokok pasif yang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 6

    Gaya Hidup dan Risiko Kanker

    Posted on Wed, 28.03.2018

    Kanker masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Menurut data yang dilansir Kementerian Kesehatan, pada 2016 lalu jumlah kasus kanker di Indonesia merangkak naik menjadi 1,3 juta kasus dari yang sebelumnya masih 1,2 juta kasus di tahun 2015. Sebesar 30% dari kasus kematian akibat kanker pun diketahui disebabkan oleh kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, dan juga obesitas atau kondisi kelebihan berat badan. Pertanyaannya, mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko kanker bahkan hingga berkali-kali lipat?

    Berdasarkan hasil studi yang dilakukan tim ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 lalu, terungkap bahwa orang dewasa yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) yang tinggi atau mengalami obesitas bisa menggandakan risiko mereka terserang kanker saat beranjak tua. Studi ini khususnya merujuk pada kecenderungan wanita dengan BMI tinggi dan risiko kanker payudara yang dimilikinya. Tak hanya kanker payudara, wanita yang di usia mudanya mengalami obesitas atau memiliki berat badan berlebih juga memiliki risiko lebih besar untuk terserang kanker endometrium.

    Melina Arnold, ilmuwan WHO yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa seseorang dengan obesitas memiliki peningkatan risiko terserang kanker sebanyak tujuh persen tiap 10 tahun.

    Lemak berlebih dalam tubuh bisa sangat membahayakan. Lemak bisa memproduksi hormon dan sejumlah protein yang dilepas ke saluran darah dan tersebar ke seluruh tubuh. Protein dan hormon yang tersebar melalui sirkulasi darah ini bisa berdampak buruk bagi bagian-bagian tubuh tertentu, dan selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya beberapa jenis kanker yang berbeda. Meningkatnya produksi hormon reproduksi khususnya estrogen dan testosteron bisa menyebabkan tingginya resiko kanker rahima dan kanker payudara bagi wanita atau kanker prostat bagi pria.

    Menjaga berat badan agar tetap normal dan tidak obesitas sehingga mencegah datangnya kanker bisa dilakukan dengan melakukan gaya hidup sehat. Makanlah makanan bergizi dan sehat secara teratur, termasuk makanan berserat untuk mengontrol kadar kolestrol dan gula darah dalam tubuh. Tinggalkan kebiasaan merokok atau minum minuman beralkohol, dan rajinlah berolahraga untuk membakar kadar lemak berlebih atau lemak jahat yang tersisa di tubuh, sehingga sel kanker tak pernah tumbuh dan mengganggu kesehatan Anda.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 17

    Lembaga Kanker Dunia Serukan Kesetaraan Akses Kurangi Kematian Prematur Kanker

    Posted on Mon, 19.03.2018

    Minggu, 4 Februari 2018 – Hari Kanker Sedunia, SEMARANG, Indonesia:  Hari Kanker Sedunia 2018 yang jatuh pada 4 Februari meningkatkan kesadaran jutaan warga dunia yang menghadapi kesenjangan dalam akses terhadap deteksi dini, pengobatan dan layanan perawatan kanker. Bersama para tokoh, praktisi kesehatan dan pegiat kanker di seluruh dunia, mendorong aksi penting untuk mengurangi kematian premature akibat kanker, memprioritaskan kecepatan hasil diagnosa dan akses terhadap pengobatan kanker di seluruh dunia.  

    Target dunia adalah untuk mengurangi kematian premature akibat kanker dan penyakit tak menular hingga 25% pada tahun 2025. Namun, untuk mendapatkan komitmen di seluruh dunia, ketidak setaraan saat ini terjadi dalam hal eksposur terhadap faktor risiko, akses terhadap skrining, deteksi dini, serta pengobatan dan perawatan yang sesuai secara tepat waktu and care, juga harus menjadi perhatian.

    Professor Sanchia Aranda, Presiden UICC dan CEO Dewan Kanker Australia mengatakan, “Target Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2011 adalah untuk mengurangi penyakit tak menular sebesar 25% dalam 14 tahun baru mencapai separuh jalan. Kita dapat mencapai target tersebut, namun masih banyak aksi nyata yang harus diambil.  Ketidaksetaraan dalam akses terhadap pencegahan, diagnosa, pengobatan dan perawatan yang membuat pengurangan kematian prematur akibat kanker menjadi sulit.  Jika kita berkomitmen untuk mencapai tujuan ini, kita semua harus bertindak cepat dan tegas untuk membuat akses terhadap layanan kanker yang berkeadilan di seluruh penjuru dunia”.  

    Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP, Ketua Yayasan Kanker Indonesia mengatakan, “Pengobatan yang optimal dan ketersediaan fasilitas terapi –khususnya untuk penyakit kanker, adalah hak setiap warga negara.  Angka kejadian kanker di Indonesia hanya dapat diturunkan melalui kepedulian serta kesadaran masyarakat akan kebiasaan hidup yang sehat dan melakukan deteksi dini.”

    Menurut Yayasan Kanker Indonesia, penyakit kanker merupakan permasalahan di Indonesia dengan prevalensi yang cukup tinggi, yaitu 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orangSalah satu tindakan pencegahan kanker adalah dengan melakukan aktivitas fisik secara teratur, termasuk olahraga lari.  

    Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Kanker Sedunia 2018, Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (Perhompedin) Cabang Semarang, bekerjasama dengan Pemkot Semarang dan didukung oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Pusat, serta organisasi pegiat kanker lainnya melakukan kampanye dengan kegiatan Fun Run berjudul “Run Against Cancer” sepanjang 5+1 km di kota Semarang pada 4 Februari 2018 pukul 05.30, dengan starting dan finish point di Balaikota Semarang.  Pada kegiatan Run Against Cancer tersebut, masyarakat diajak untuk mengikuti pola hidup “CERDIK” yaitu cek kesehatan secara rutin, enyahkan asap rokok, rajin olahraga, diet seimbang, istirahat cukup, dan kelola stres.  Kegiatan ini tercantum sebagai salah satu agenda dunia Hari Kanker Sedunia, dan dapat dilihat di situs: www.worldcancerday.org.

    Hari Kanker Sedunia, diprakarsai oleh Union for International Cancer Control (UICC), setiap tahunnya menyuarakan upaya penanggulanan kanker, sehinga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini mengakui untuk pertama kalinya kanker sebagai penyebab kematian utama di dunia. 

    Saat ini, diperkirakan terdapat 8,8 juta kematian akibat kanker setiap tahuannya.  Namun, 70% dari insiden tersebut terjadi pada negara-negara dengan pendapatan rendah sampai menengah, dimana peralatan perawatan kanker masih merupakan beban. Daerah terparah yang berkaitan dengan kanker anak-anak – yang merupakan kelompok spesifik yang digaris-bawahi oleh WHO dalam Resolusi Kanker 2017 – dengan tingkat ketahanan hidup diatas 80% dialami negara-negara berpenghasilan tinggi dan hanya 20% di negara-negara berpendapatan rendah.

    Ketidak-setaraan ini juga dialami di negara-negara berpendapatan menengah dan atas, namun terfokus pada populasi tertentu, seperti penduduk asli, imigran, pengungsi, masyarakat pedesaan dan berpenghasilan rendah.

    Professor Sanchia Aranda lebih lanjut mengatakan,  dalam tahun terkahir kampanye “Kita bisa. Aku Bisa.’ pada Hari Kanker Sedunia, kami berharap dapat menginspirasi langkah konkret dari pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi ketidak-setaraan pada penanganan, pengobatan dan perawatan kanker, dimana sangat disayangkan telah berdampak pada populasi yang rentan di setiap negara. Kesenjangan antara masyarakat kelompok sosio-ekonomi tinggi dan rendah semakin besar. Sehingga suara yang terpinggirkan harus diwakili dalam diskusi-diskusi Hari Kanker Sedunia.”

    Contoh konkret dari sebuah kesenjangan akses di dunia yang secara khusus berdampak pada pelayanan sub-standar terhadap masyarakat pra-sejahtera adalah akses terhadap radioterapi. Sebagai metoda utama perawatan kanker, radioterapi direkomendasikan untuk 52% dari pasien kanker. Disayangkan bahwa kesenjangan terbesar antara kebutuhan dan ketersediaan terjadi di negara-negara berpendapatan rendah s/d menengah; 90% pasien kanker di negara-negara berpendapatan rendah s/d menengah memiliki akses terbatas pada radioterapi. Namun, isu mengenai akses perawatawan kritis ini berkurang di banyak negara. Di negara China, terdapat kekurangan fasilitas radioterapi, dengan akses yang berbeda pada setiap provinsi. Di Inggris, akses terhadap jenis perawatan  radioterapi canggih Intensity Modulated Radiotherapy tergantung dimana pasien tinggal dan dapat menghadapi situasi yang jauh berbeda– antara 20% sampai 70%.

    Menyikapi kesenjangan keseteraan di dunia dan pentingnya tanggapan di masing-masing negara, UICC hari ini meluncurkan sebuah inisiatif kampanye, Treatment for All (Perawatan untuk Semua). Hal tersebut menandai inisiatif baru kedua dari UICC dalam beberapa tahun terakhir untuk memobilisasi aksi nasional guna meningkatkan akses terhadap diagnosa dan perawatan kanker, dan hal ini telah diakui secara langsung bahwa beban yang diakibatkan oleh kanker tidak dapat diringankan secara serta merta melalui pencegahan pengurangan insiden kanker.

    Dr Cary Adams, Chief Executive Officer UICC mengatakan, “Tsunami atas kasus-kasus kanker yang perlu diantisipasi dalam beberapa dasawarsa ke depan memerlukan  tanggapan yang persuasif dan serius pada setiap tingkat, baik dunia dan nasional.  Inisiatif Perawatan untuk Semua, sejalan dengan inisiatif C/Can 2025: Kota Tantangan Kanker, yang mana akan dilakukan untuk mempercepat progres dengan menerjemahkan komitmen dunia menjadi aksi nasional yang nyata, aman dan berkualitas."

    Dengan memberdayakan masyarakat pada tingkat individu,  kota, negara, dan pemerintah untuk mendorong inisiatif Perawatan untuk Semua dengan empat pilar pengobatan dan perawatan kanker, kita dapat mencapai:

    • Peningkatan kualitas data kanker untuk kepentingan kesehatan masyarakat
    • Peningkatan jumlah masyarakat yang dapat mengakses deteksi dini dan diagnosa kanker yang akurat
    • Pelayanan yang lebih tepat waktu dan berkualitas untuk penyakit metastasis, khususnya pada tahap awal
    • Sekurang-kurangnya layanan perawatan supportif dasar dan perawatan paliatif bagi sebanyak 32,6 juta orang yang hidup dengan kanker. 

    Pada Hari Kanker Sedunia, kampanye “Kita Bisa. Aku Bisa.” mendorong upaya untuk mengurangi penyakit kanker dan kematian penyakit tak menular sebesar 25% di seluruh dunia pada tahun 2025.

    • Penyakit tak menular atau penyakit kronis adalah penyakit dengan durasi panjang dengan perkembangan yang biasanya lambat. Empat tipe utama penyakit tak menular adalah penyakit jantung, kanker, penyakit pernafasan kronis, dan diabetes.
    • Masyarakat dunia telah berkomitmen untuk mengurangi kematian prematur akibat kanker dan penyakit tak menular sebanyak 25% pada tahun 2025 dan hal ini ditetapkan pada Rencana Aksi Global untuk Pencegahan dan Kontrol terhadap Penyakit Tak Menular 
    • Harapan utama bagi penyembuhan kanker mencakup radioterapi, operasi, dan pengobatan termasuk kemoterapi
    • Kesenjangan pada layanan kanker dan hasil pengobatan pasien tergantung pada dimana seseorang tinggal, dan ini sering disebut dengan istilah Postcode Lottery

    Tentang Hari Kanker Sedunia 2018

    Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari merupakan satu-satunya inisiatif  dimana masyarakat dunia dapat bersatu untuk meningkatkan profil kanker melalui cara positif dan inspiratif.  Diorganisasikan oleh Union for International Cancer Control (UICC), Hari Kanker Sedunia dalam dua tahun terakhir menggunakan  tagline ‘Kita Bisa. Aku Bisa.’ Yang menjelajahi bagaimana setiap orang, baik secara kelompok ataupun individu, dapat mengambil peran masing-masing untuk mengurangi beban akibat kanker.  Sebagaimana kanker dapat berdampak pada seseorang dengan cara berbeda, setiap orang pun juga memiliki kekuatan untuk bertindak dalam rangka mengurangi dampak kanker. Hari Kanker Sedunia merupakan kesempatan untuk merefleksikan apa yang dapat Anda lakukan, buatlah janji dan lakukan aksi! 

     

    Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.worldcancerday.org

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 9

    YKI dan RSHS Gelar Pelatihan Perawatan Paliatif Kanker

    Posted on Mon, 19.03.2018

    Yayasan Kanker Indonesia bekerjasama dengan RHSH mengadakan Pelatihan Perawatan Paliatif Pasien Kanker bagi Tenaga Kesehatan dan Tenaga Pelaku Perawat (Caregiver) sebagai salah satu upaya untuk menangani masalah kanker di rumah.

    Yayasan Kanker Indonesia bersinergi dengan PERUM BULOG, YKI Jawa Barat, RSUP Hasan Sadikin, dan Masyarakat Paliatif Indonesia (MPI) Cabang Bandung yang berlangsung di RSUP Hasan Sadikin Bandung dari tanggal 20-23 November 2017.

    Pelatihan Paliatif di RS Hasan Sadikin diikuti oleh 70 peserta tenaga medis dan tenaga pelaku perawat (caregiver) dari berbagai rumah sakit di Jawa Barat. Tim pengajar paliatif terdiri dari dokter, perawat, dan fisioterapis. Melalui pelatihan ini diharapkan para peserta akan memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang perawatan pasien paliatif di rumah.

    Paliatif sendiri  berarti mengurangi keparahan tanpa menghilangkan penyebab, sehingga dapat dikatakan bahwa upaya paliatif merupakan satu cara untuk meringankan atau mengurangi penderitaan. Perawatan paliatif membantu seorang penderita kanker untuk hidup lebih nyaman sehingga memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi.

    Belakangan ini, kanker menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai. Tiap tahun diperkirakan terdapat 100 kasus baru per 100.000 penduduk. Itu menunjukan dari sekitar 240 juta penduduk Indonesia, ada 240.000 pengidap baru tiap tahunnya.

    Sejak tahun 2013 sampai 2014 di Hasan Sadikin Sendiri kasus kanker terbanyak adalah kanker payudara, kanker kolorektal, kanker paru-patu, dan kanker serviks. Berdasarkan distribusi jenis kelamin kasus kanker terbanyak pada laki-laki adalah kanker paru-paru, sedangkan pada perempuan adalah kanker payudara dan serviks.

     

    RS Hasan Sadikin menjadi penutup pelatihan paliatif YKI di tahun 2017. Sebelumnya YKI telah melaksanakan pelatihan di Kupang, Palembang, dan Makassar. Selanjutnya YKI akan melaksanakan di pelatihan di cabang Aceh, Semarang, Banjarmasin, Papua, dan Samarinda pada tahun 2018.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 3

    Ketika Kualitas Udara di Perkotaan Semakin Rendah

    Posted on Thu, 03.08.2017

    Kualitas udara merupakan faktor penentu dalam mendukung kesehatan seseorang. Udara yang kita hirup jika mengandung zat-zat polutan akan sangat membahayakan kesehatan, menempatkan tubuh pada risiko penyakit berbahaya seperti asma, stroke, hingga kanker.

    Kualitas udara yang buruk dengan tingginya zat polutan yang terkandung di dalamnya ini turut menyumbang dalam angka kematian dini di dunia. Menurut data dari WHO, sebanyak 88% dari total kasus kematian dini di negara dengan pendapatan rendah dan menengah di dunia terjadi akibat kualitas udara yang buruk. Di perkotaan khususnya pada negara berkembang, polusi udara kian meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti tingginya kegiatan industri, padatnya volume kendaraan bermotor, atau kurangnya ruang terbuka hijau (RTH).

    Di negara berkembang di mana kegiatan industri banyak dilakukan, contohnya di Indonesia sendiri, perlu dilakukan pemantauan aktivitas sektor industri dan transportasi yang efektif. Hal ini penting untuk menjaga kualitas udara agar tidak tercemar dengan emisi gas seperti CO dan ozon yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kandungan ozon di udara jika terhirup masuk ke tubuh akan menyebabkan iritasi pada mata dan hidung, batuk, sakit kepala, hingga rusaknya fungsi paru-paru. Sementara itu, karbon monoksida atau CO jika mencemari lingkungan dengan kadar tinggi dapat menaruh manusia pada risiko kematian. Pasalnya, gas CO mampu mengikat hemoglobin dalam darah sehingga mengganggu pengikatan oksigen. Jika dihirup, seseorang dapat merasakan sakit kepala, pusing, lemas dan mual.

    Tidak hanya disebabkan oleh pencemaran udara dari sektor transportasi dan industri, memburuknya kesehatan pernapasan juga bisa didapat dari tingginya indoor smoke di perkotaan. WHO menyebutkan, sebanyak tiga juta orang yang masak menggunakan bahan bakar biomassa dan batubara dalam dapur rumah mereka berisiko mengalami risiko kesehatan serius .

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 7

    Penyebab Kanker Payudara

    Posted on Thu, 03.08.2017

    Kanker payudara memang tidak bisa dianggap remeh. Tercatat, 18,2 persen kematian di dunia adalah kematian akibat kanker payudara, baik yang menyerang wanita maupun pria. Penderita kanker payudara banyak ditemukan di negara-negara berkembang dibanding di negara maju. Faktornya beragam, mulai dari gaya hidup yang berbeda hingga jenis makanan yang dikonsumsi tiap harinya.

    Jenis kanker payudara yang dialami wanita bisa digolongkan menjadi dua. Pertama, kanker yang bermula di bagian saluran payudara (duktus laktiferus) atau yang lebih dikenal sebagai duktal karsinoma. Jenis kanker ini lebih banyak ditemukan dibanding jenis kanker lobular karsinoma, yakni kanker yang bermula dari bagian lobulus atau kelenjar susu.

    Masih belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang bisa terserang kanker payudara. Namun, sejumlah ahli menemukan  bahwa faktor bawaan genetik menjadi salah satu penyebab umum seseorang terserang kanker ini. Sel kanker tidak menurun dari orang tua ke anak, tapi seseorang yang memiliki gen tertentu (BRCA1 dan BRCA2) memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara atau kanker rahim. Selain itu, faktor usia juga berpengaruh pada pembentukan sel kanker payudara. Semakin tua seorang wanita, semakin tinggi risikonya terhadap kanker ini. Tercatat, 80 persen penderita kanker payudara adalah wanita berusia di atas 50 tahun dan telah mengalami menopause.

    Indikasi munculnya kanker payudara bisa dideteksi dengan munculnya benjolan di sekitar payudara yang disertai nyeri, Gejala ini muncul akibat adanya penebalan jaringan di payudara. Meski demikian, munculnya benjolan di sekitar payudara bisa saja hanya benjolan biasa dan tidak berisi sel kanker. Oleh karena itu, para wanita dihimbau untuk segera mengecek kondisi tersebut ke dokter untuk mencegah munculnya kanker.

    Gejala lain kanker payudara adalah timbul rasa sakit di sekitar payudara dan ketiak, munculnya ruam merah dan kerutan di kulit payudara, bentuk puting payudara mengerut dan mengeluarkan darah, atau berubahnya ukuran pada salah satu atau kedua payudara.

    Penanganan kanker payudara bervariasi tergantung pada beberapa faktor, yakni jenis kanker payudara, stadium kanker, usia, dan juga kondisi kesehatan penderita saat itu. Selain operasi, penderita kanker payudara biasanya ditindaklanjuti dengan radioterapi, kemoterapi, atau terapi biologis.

    Selengkapnya >>