YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta
Telp: (021) 315 2603
Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

  • Artikel Image 3

    Ketika Kualitas Udara di Perkotaan Semakin Rendah

    Posted on Thu, 03.08.2017

    Kualitas udara merupakan faktor penentu dalam mendukung kesehatan seseorang. Udara yang kita hirup jika mengandung zat-zat polutan akan sangat membahayakan kesehatan, menempatkan tubuh pada risiko penyakit berbahaya seperti asma, stroke, hingga kanker.

    Kualitas udara yang buruk dengan tingginya zat polutan yang terkandung di dalamnya ini turut menyumbang dalam angka kematian dini di dunia. Menurut data dari WHO, sebanyak 88% dari total kasus kematian dini di negara dengan pendapatan rendah dan menengah di dunia terjadi akibat kualitas udara yang buruk. Di perkotaan khususnya pada negara berkembang, polusi udara kian meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti tingginya kegiatan industri, padatnya volume kendaraan bermotor, atau kurangnya ruang terbuka hijau (RTH).

    Di negara berkembang di mana kegiatan industri banyak dilakukan, contohnya di Indonesia sendiri, perlu dilakukan pemantauan aktivitas sektor industri dan transportasi yang efektif. Hal ini penting untuk menjaga kualitas udara agar tidak tercemar dengan emisi gas seperti CO dan ozon yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Kandungan ozon di udara jika terhirup masuk ke tubuh akan menyebabkan iritasi pada mata dan hidung, batuk, sakit kepala, hingga rusaknya fungsi paru-paru. Sementara itu, karbon monoksida atau CO jika mencemari lingkungan dengan kadar tinggi dapat menaruh manusia pada risiko kematian. Pasalnya, gas CO mampu mengikat hemoglobin dalam darah sehingga mengganggu pengikatan oksigen. Jika dihirup, seseorang dapat merasakan sakit kepala, pusing, lemas dan mual.

    Tidak hanya disebabkan oleh pencemaran udara dari sektor transportasi dan industri, memburuknya kesehatan pernapasan juga bisa didapat dari tingginya indoor smoke di perkotaan. WHO menyebutkan, sebanyak tiga juta orang yang masak menggunakan bahan bakar biomassa dan batubara dalam dapur rumah mereka berisiko mengalami risiko kesehatan serius .

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 2

    Menurunkan Risiko Kanker dengan Makanan Sehat dan Berolahraga

    Posted on Thu, 03.08.2017

    Penyakit kanker merupakan momok menakutkan yang menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia. Menurut data dari Badan Kesehatan Dunia WHO, pada tahun 2015 ada sebanyak 8,8 juta manusia yang meninggal akibat kanker. Angka tersebut menandakan bahwa kanker menjadi satu dari enam penyakit paling mematikan yang memengaruhi angka mortalitas dunia. Meski begitu, 30 hingga 50% dari kasus penyakit kanker ternyata masih dapat dicegah. Pencegahan kanker bisa dilakukan dengan mengaplikasikan strategi jitu agar masyarakat sadar akan bahayanya penyakit ini, salah satunya dengan memberikan informasi dan dukungan untuk menerapkan gaya hidup sehat.

    Gaya hidup sehat bisa diimplementasikan dengan beragam cara, salah satunya adalah dengan membiasakan diri mengonsumsi makanan dan minuman sehat atau dengan beraktivitas fisik atau olahraga.

    Menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh bisa jadi salah satu kunci efektif untuk mencegah diri terserang kanker. Menurut penelitian, terdapat hubungan signifikan antara kelebihan berat badan atau obesitas dengan beragam jenis kanker yang kerap menyerang manusia, seperti esofagus, kolektrum, kanker payudara, endometrium dan juga kanker ginjal. Untuk mencegah hal ini, rutinlah mengonsumsi makanan sehat seperti buah-buahan dan sayuran. Diet yang sehat dan teratur diimbangi dengan olahraga rutin bisa jadi cara efektif dalam memerangi kanker.

    Selain menjaga makanan dan berat badan, mencegah datangnya kanker juga dapat dilakukan dengan menjauhi segala faktor yang membawa zat-zat pemicu tumbuhnya sel kanker, yakni merokok. Rokok  mengandung banyak zat berbahaya yang dapat merusak tubuh. Rokok diketahui mengandung ribuan zat kimia berbahaya di mana 50 di antaranya dapat menimbulkan beragam jenis kanker, seperti kanker paru, esofagus, laring, mulut, tenggorokan, ginjal, pankreas, saluran kencing hingga kanker serviks. Tidak hanya kanker, kebiasaan buruk merokok juga meningkatkan risiko penyakit kronis lain sehingga membunuh setidaknya enam juta orang tiap tahun. Risiko tersebut tidak hanya mengintai para perokok aktif tapi juga perokok pasif yang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. 

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 7

    Penyebab Kanker Payudara

    Posted on Thu, 03.08.2017

    Kanker payudara memang tidak bisa dianggap remeh. Tercatat, 18,2 persen kematian di dunia adalah kematian akibat kanker payudara, baik yang menyerang wanita maupun pria. Penderita kanker payudara banyak ditemukan di negara-negara berkembang dibanding di negara maju. Faktornya beragam, mulai dari gaya hidup yang berbeda hingga jenis makanan yang dikonsumsi tiap harinya.

    Jenis kanker payudara yang dialami wanita bisa digolongkan menjadi dua. Pertama, kanker yang bermula di bagian saluran payudara (duktus laktiferus) atau yang lebih dikenal sebagai duktal karsinoma. Jenis kanker ini lebih banyak ditemukan dibanding jenis kanker lobular karsinoma, yakni kanker yang bermula dari bagian lobulus atau kelenjar susu.

    Masih belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang bisa terserang kanker payudara. Namun, sejumlah ahli menemukan  bahwa faktor bawaan genetik menjadi salah satu penyebab umum seseorang terserang kanker ini. Sel kanker tidak menurun dari orang tua ke anak, tapi seseorang yang memiliki gen tertentu (BRCA1 dan BRCA2) memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara atau kanker rahim. Selain itu, faktor usia juga berpengaruh pada pembentukan sel kanker payudara. Semakin tua seorang wanita, semakin tinggi risikonya terhadap kanker ini. Tercatat, 80 persen penderita kanker payudara adalah wanita berusia di atas 50 tahun dan telah mengalami menopause.

    Indikasi munculnya kanker payudara bisa dideteksi dengan munculnya benjolan di sekitar payudara yang disertai nyeri, Gejala ini muncul akibat adanya penebalan jaringan di payudara. Meski demikian, munculnya benjolan di sekitar payudara bisa saja hanya benjolan biasa dan tidak berisi sel kanker. Oleh karena itu, para wanita dihimbau untuk segera mengecek kondisi tersebut ke dokter untuk mencegah munculnya kanker.

    Gejala lain kanker payudara adalah timbul rasa sakit di sekitar payudara dan ketiak, munculnya ruam merah dan kerutan di kulit payudara, bentuk puting payudara mengerut dan mengeluarkan darah, atau berubahnya ukuran pada salah satu atau kedua payudara.

    Penanganan kanker payudara bervariasi tergantung pada beberapa faktor, yakni jenis kanker payudara, stadium kanker, usia, dan juga kondisi kesehatan penderita saat itu. Selain operasi, penderita kanker payudara biasanya ditindaklanjuti dengan radioterapi, kemoterapi, atau terapi biologis.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 6

    Gaya Hidup dan Risiko Kanker

    Posted on Wed, 02.08.2017

    Kanker masih menjadi penyebab kematian terbanyak di Indonesia. Menurut data yang dilansir Kementerian Kesehatan, pada 2016 lalu jumlah kasus kanker di Indonesia merangkak naik menjadi 1,3 juta kasus dari yang sebelumnya masih 1,2 juta kasus di tahun 2015. Sebesar 30% dari kasus kematian akibat kanker pun diketahui disebabkan oleh kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, kurangnya konsumsi buah dan sayuran, dan juga obesitas atau kondisi kelebihan berat badan. Pertanyaannya, mengapa obesitas bisa meningkatkan risiko kanker bahkan hingga berkali-kali lipat?

    Berdasarkan hasil studi yang dilakukan tim ilmuwan Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 lalu, terungkap bahwa orang dewasa yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) yang tinggi atau mengalami obesitas bisa menggandakan risiko mereka terserang kanker saat beranjak tua. Studi ini khususnya merujuk pada kecenderungan wanita dengan BMI tinggi dan risiko kanker payudara yang dimilikinya. Tak hanya kanker payudara, wanita yang di usia mudanya mengalami obesitas atau memiliki berat badan berlebih juga memiliki risiko lebih besar untuk terserang kanker endometrium.

    Melina Arnold, ilmuwan WHO yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa seseorang dengan obesitas memiliki peningkatan risiko terserang kanker sebanyak tujuh persen tiap 10 tahun.

    Lemak berlebih dalam tubuh bisa sangat membahayakan. Lemak bisa memproduksi hormon dan sejumlah protein yang dilepas ke saluran darah dan tersebar ke seluruh tubuh. Protein dan hormon yang tersebar melalui sirkulasi darah ini bisa berdampak buruk bagi bagian-bagian tubuh tertentu, dan selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya beberapa jenis kanker yang berbeda. Meningkatnya produksi hormon reproduksi khususnya estrogen dan testosteron bisa menyebabkan tingginya resiko kanker rahima dan kanker payudara bagi wanita atau kanker prostat bagi pria.

    Menjaga berat badan agar tetap normal dan tidak obesitas sehingga mencegah datangnya kanker bisa dilakukan dengan melakukan gaya hidup sehat. Makanlah makanan bergizi dan sehat secara teratur, termasuk makanan berserat untuk mengontrol kadar kolestrol dan gula darah dalam tubuh. Tinggalkan kebiasaan merokok atau minum minuman beralkohol, dan rajinlah berolahraga untuk membakar kadar lemak berlebih atau lemak jahat yang tersisa di tubuh, sehingga sel kanker tak pernah tumbuh dan mengganggu kesehatan Anda.

    Selengkapnya >>