YKI Pusat Jalan Sam Ratulangi no 35, Menteng, Jakarta

Hotline Donasi: (021) 3152603 | Apotek : (021) 3920568 | Sekretariat: (021) 3152603

Donasi Berikan bantuan untuk saudara kita sekarang

Artikel dan Berita

Artikel Image 90

Insiden Terus Meningkat: Waspada dan Kenali Kanker Paru NSCLC EGFR (-)

Posted on Mon, 29.11.2021

Jakarta, 26 November 2021 – Dalam rangka bulan kesadaran kanker paru, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerjasama dengan perusahaan farmasi multinasional yang berfokus dalam penelitian dan pengembangan obat dan vaksin inovatif, Merck Sharp & Dohme (MSD), menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan terhadap kanker paru bukan besar (NSCLC) EGFR (-).

Kanker paru menjadi…

Selengkapnya >>
  • Artikel Image 90

    Insiden Terus Meningkat: Waspada dan Kenali Kanker Paru NSCLC EGFR (-)

    Posted on Mon, 29.11.2021

    Jakarta, 26 November 2021 – Dalam rangka bulan kesadaran kanker paru, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerjasama dengan perusahaan farmasi multinasional yang berfokus dalam penelitian dan pengembangan obat dan vaksin inovatif, Merck Sharp & Dohme (MSD), menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan terhadap kanker paru bukan besar (NSCLC) EGFR (-).

    Kanker paru menjadi penyebab sekitar 11 persen atau 2.206.771 kasus baru kanker dan kematian akibat kanker nomor satu di dunia dan di Indonesia penyebab 8,8 persen atau 34.783 kasus baru (GLOBOCAN 2020)[i]. Dari kejadian kanker paru tersebut, lebih dari 80% merupakan tipe kanker paru Sel Bukan Kecil (non small cell lung cancer atau NSCLC)[ii] dan sekitar 40?ri NSCLC terjadi mutasi reseptor pertumbuhan epidermal (EGFR).[iii]

    Setelah ditemukan kanker paru, rata-rata kesintasan 5-tahunan atau prosentase pasien hidup sekurangnya lima tahun adalah sebesar 21%. Rata-rata kesintasan 5-tahunan untuk laki-laki sebesar 17%, sedangkan untuk wanita sebesar 24%. Adapun kesintasan 5-tahunan untuk NSCLC sebesar 25%, dibandingkan dengan 7% untuk kanker paru sel kecil.[iv] 

    Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP mengatakan, “Sebanyak 80% pasien kanker paru datang sudah stadium lanjut, sehingga prosentase kesintasan menjadi lebih rendah.  Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat akan faktor risiko, gejala dan pertimbangan khusus pengobatan kanker paru. Maka, YKI berharap masyarakat melakukan pencegahan kanker dengan menerapkan pola hidup sehat, tidak merokok, dan melakukan deteksi dini kanker, sebab kanker yang ditemukan dalam stadium dini mudah diobati bahkan bisa sembuh.”

    George StylianouManaging Director MSD di Indonesia, mengatakan, “Kami senang dapat berkolaborasi dengan Yayasan Kanker Indonesia, karena tantangan kanker paru tidak dapat dihadapi oleh hanya satu pemangku kepentingan saja. Itu sebabnya kami bekerja sama dengan pemerintah, organisasi pasien, tenaga kesehatan profesional, dan akademisi untuk menemukan solusi akses terhadap obat inovatif dan peluang untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit mengerikan ini.”

    “Di MSD, kami bekerja dengan urgensi untuk mengutamakan pasien dan memastikan obat kanker inovatif kami dapat diakses oleh pasien yang membutuhkan. Kita masing-masing didorong oleh visi bersama untuk memberi semua pasien kanker lebih banyak—lebih banyak cara untuk mengobati kanker mereka, lebih banyak kualitas dalam hidup mereka, lebih banyak waktu,” ujar George.

    Dr. Ralph Girson Ginarsa, SpPD-KHOM, spesialis penyakit dalam dan konsultan hematologi onkologi medik, menjelaskan bahwa terdapat beberapa subtipe NSCLC yaitu adenokarsinoma, karsinoma sel skuamosa, dan sel besar karsinoma. Adenokarsinoma berawal dari sel-sel yang biasanya mengeluarkan zat seperti lendir dan biasanya ditemukan pada orang yang merokok atau yang dahulu perokok, namun juga ditemukan pada orang yang tidak merokok, umumnya ditemukan pada perempuan, dan cenderung pada orang yang lebih muda dibandingkan jenis kanker paru lainnya. Jenis ini ditemukan di bagian luar paru dan kemungkinannya ditemukan sebelum menyebar.

    Subtipe berikutnya adalah karsinoma sel skuamosa yang dimulai dari sel-sel skuamosa yang merupakan sel datar di dalam saluran udara paru. Penderita subtipe ini sangat erat kaitannya dengan kebiasaan merokok, dan cenderung ditemukan di bagian tengah paru di dekat saluran bronkus. Sedangkan subtipe sel besar karsinoma dapat ditemukan di bagian manapun di paru dan cenderung tumbuh dan berkembang dengan cepat sehingga lebih sulit untuk diobati. Ada satu subtipe sel besar karsinoma yang dikenal dengan sel besar karsinoma neuroendokrin, yang merupakan kanker yang tumbuh pesat dan serupa dengan kanker paru sel kecil.[v]

    Sementara itu, reseptor faktor pertumbuhan epidermal (EGFR) merupakan protein pada sel yang membantu pertumbuhannya.  Sebuah mutasi pada gen EGFR akan menyebabkannya tumbuh berlebihan sehingga menyebabkan kanker.  Jika EGFR negatif, artinya sel tumor pada kanker paru tidak memiliki mutasi EGFR.

    Lebih lanjut Dr. Ralph mengatakan, “Gejala pada kanker paru NSCLC maupun jenis kanker paru lainnya seringkali tidak nampak pada stadium awal, sebab seringkali kanker paru memiliki gejala yang serupa dengan penyakit umum lainnya seperti TBC atau sebagai dampak dari kebiasaan merokok jangka panjang. Namun perlu diwaspadai  jika seseorang merasa letih, lesu, dengan penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya, kondisi batuk yang semakin parah, dahak berdarah, suara serak, nafas pendek, dengan infeksi paru yang berulang disertaki demam, nyeri pada area dada, dan nafsu makan hilang.”

    Karena kebanyakan pasien datang dengan kanker paru pada stadium lanjut,  perlu diketahui faktor risiko kanker paru.  Merokok merupakan faktor risiko pertama kanker paru bersanding dengan jumlah rokok dan berapa lama kebiasan itu dilakukan. Perokok pasif termasuk yang terkena risiko.  Paparan karsinogen atau zat kimia penyebab kanker seperti radon, asbestos, residu gas batu bara, arsenik, juga merupakan faktor risiko kanker paru. Selain itu, kanker paru juga lebih banyak ditemukan pada mereka yang diatas usia 40 tahun.  Faktor keturunan juga merupakan faktor risiko. 

    “Bagi mereka diatas usia 55 tahun yang sering terpapar dengan faktor risiko tersebut, deteksi dini kanker paru dapat dilakukan dengan skrining tahunan melalui tes pencitraan. Jika diduga terdapat kanker paru, akan dilakukan scan CT, PET atau MRI, kemudian pengujian lendir, dan pengujian yang lebih lanjut lainnya,” jelas Dr. Ralph.

    Terdapat opsi perawatan untuk NSCLS berdasarkan tingkat stadium kanker paru, kesehatan pasien secara umum, fungsi paru dan juga jenis kanker yang ada. “Bagi perokok, harus segera berhenti dan biasanya akan menunjukkan hasil yang lebih baik,” ujar. Dr. Ralph.

    Dr. Ralph menjelaskan bahwa terdapat 3 metode utama terapi kanker paru, namun bergantung pada ukuran, cakupan, tipe kanker paru, dan kondisi kesehatan pasien secara umum.  Untuk jenis NSCLC pada stadium awal (stadium I) dimana kanker masih berada pada salah satu organ paru, terapi dilakukan dengan pembedahan dan dapat dilanjutkan dengan kemoterapi untuk mengurangi risiko kambuh.  Opsi lain setelah pembedahan dapat dilakukan terapi radiasi. 

    Pada stadium II, kelenjar getah bening yang terdapat kanker dan kanker yang ada diangkat, kemudian diikuti dengan kemoterapi, dan kemungkinan dengan imunoterapi.  Opsi lainnya juga dilakukan radiasi.

    Pada stadium IIIA, NSCLC telah berukuran lebih dari 7 cm atau telah mengena jaringan getah bening diantara dua organ paru, maka terapi dilakukan dengan radiasi, kemoterapi, dan atau pembedahan bergantung pada ukuran tumor, lokasi di paru, kesehatan pasien, serta daya tahan pasien.

    Pada stadium IIIB, NSCLC telah menyebar ke kelenjar getah bening pada paru lainnya atau pada leher maupun struktur lainnya di dada. Kanker ini tidak dapat diangkat hanya dengan pembedahan, namun dengan kemoradiasi.  Imunoterapi diberikan jika kanker dapat terkendali setelah 2 kali kemoradiasi. Pasien yang kurang sehat hanya diberikan radiasi saja atau kemoterapi saja.

    Pada stadium IV, kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain dan menjadi sulit untuk disembuhkan. Terapi paliatif diberikan dengan fokus pada pengurangan rasa nyeri seperti dengan terapi fotodinamik (PDT) atau terapi laser. Namun jika kondisi pasien kuat, pengobatan atau perawatan dengan pembedahan, kemoterapi, terapi target, imunoterapi, maupun radiasi.[vi]

    Menimbang panjangnya proses penyembuhan kanker paru NSCLC, Dr. Ralph menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan kanker paru utamanya dengan berhenti merokok dan deteksi dini kanker paru, “Kanker dapat disembuhkan jika ditemukan dan segera dirawat oleh dokter pada stadium awal.  Selain itu, dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, tidak mengonsumsi alkohol, berolah raga secara teratur, cukup istirahat dan jauhi stress.” 

    Sekilas Yayasan Kanker Indonesia

    Yayasan Kanker Indonesia (YKI) adalah organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker. Tujuan YKI adalah mengupayakan penanggulangan kanker dengan menyelenggarakan kegiatan di bidang promotif, preventif dan suportif. Menyadari bahwa penanggulangan kanker hanya mungkin berhasil bila dilakukan oleh semua pihak, maka YKI melaksanakan kegiatannya dengan bekerjasama dengan semua pihak, baik pemerintah, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan dunia usaha baik di dalam maupun luar negeri. YKI memiliki lebih dari 100 cabang di seluruh Indonesia.  Lebih lanjut mengenai YKI kunjungi http://yayasankankerindonesia.org/ dan IG @yayasankankerid.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 89

    Waspada Kanker Payudara Triple Negatif: Kanker Agresif yang Tumbuh Pesat

    Posted on Thu, 21.10.2021

    Jakarta, 21 Oktober 2021 – Dalam rangka bulan kesadaran kanker payudara, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerjasama dengan perusahaan farmasi multinasional yang berfokus dalam penelitian dan pengembangan obat dan vaksin inovatif, Merck Sharp & Dohme (MSD), menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan terhadap kanker payudara subtipe tripel negatif (TNBC) yang dikenal lebih agresif dari jenis kanker payudara subtipe lainnya.

    Kewaspadaan terhadap penyakit kanker payudara secara umum menjadi sangat penting mengingat hasil riset The International Agency for Research on Cancer yang mengeluarkan Global Cancer Incidence, Mortality and Prevalence 2020 atau yang kita kenal dengan GLOBOCAN 2020 menunjukkan bahwa kejadian baru kanker payudara di seluruh dunia menempati urutan pertama dengan sekitar 2,3 juta kasus baru dan 680 ribu kematian, sementara di Indonesia menempati peringkat terbanyak dengan kasus baru mendekati 66 ribu dan tingkat kematian lebih dari 22 ribu jiwa pada 2020.

    Pada webinar ini, YKI dan MSD Indonesia mengangkat topik tentang kanker payudara tripel negatif sebagai jenis kanker agresif yang tumbuh dengan pesat, sebab negatif dari estrogen, progesteron, dan juga HER2. TNBC cenderung sudah menyebar saat ditemukan, dan kemungkinan muncul kembali setelah dirawat lebih tinggi dibandingkan jenis kanker payudara lainnya.[i] TNBC menjadi penyebab sekitar 10-20  persen kasus kanker payudara secara total dan menyerang wanita dibawah usia 40 tahun. Menurut sebuah penelitian pada 2014, kejadian TNBC menjadi terbesar kedua di Indonesia diantara tipe kanker payudara lainnya dengan persentase 25 persen.[ii]

    Berdasarkan data SEER* dari the American Cancer Society yang dikelola oleh the National Cancer Institute (NCI), secara keseluruhan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker payudara triple negative adalah 77%, tetapi pasien kanker payudara triple negative stadium lanjut dengan metastasis jauh memiliki tingkat kelangsungan hidup 5 tahun yang jauh lebih rendah yaitu 12%.

    Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, Sp.PD-KHOM, FINASIM, FACP mengatakan, “Kanker payudara sebagai kanker dengan kejadian tertinggi di dunia dan di Indonesia perlu menjadi perhatian serius seluruh unsur masyarakat, hal ini karena pengobatan kanker, termasuk kanker payudara, pada stadium lanjut amatlah mahal dan sulit. YKI berharap masyarakat melakukan pencegahan kanker dengan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini kanker, sebab kanker yang ditemukan dalam stadium dini mudah diobati bahkan bisa sembuh.”

    George Stylianou, Managing Director MSD di Indonesia, mengatakan: “Tingginya jumlah insiden menjadikan kanker payudara sebagai penyebab kematian utama pada kanker bagi perempuan di Indonesia, sehingga ada kebutuhan yang signifikan untuk rejimen pengobatan yang dapat membantu perempuan dengan kanker payudara metastatic triple-negative, sebuah penyakit ganas. MSD berkomitmen untuk mengevaluasi pendekatan pengobatan inovatif, yang didasarkan pada imunoterapi, di berbagai rangkaian dan stadium kanker payudara.” “Kami berharap kerjasama dengan Yayasan Kanker Indonesia dalam memperingati Hari Kanker Payudara Sedunia 2021 dapat meningkatkan kesadaran perempuan tentang penyakit ini. Kami mendorong para perempuan untuk rutin melakukan skrining yang disarankan, dan jika ditemukan kanker payudara, dapat melakukan perawatan medis sedini mungkin untuk mendapatkan hasil pengobatan yang optimal,” tutup George.  

    Gejala TNBC serupa dengan jenis kanker payudara lainnya, seperti benjolan baru di payudara atau ketiak, penebalan atau pembengkakan pada bagian payudara, iritasi atau lesung pipit pada kulit payudara, kulit kemerahan atau bersisik di area puting atau payudara, puting tertarik ke dalam atau nyeri di area putting, keluarnya cairan dari puting selain ASI, termasuk darah, perubahan ukuran atau bentuk payudara, ataupun nyeri di setiap area payudara.[i]

    Meski kanker payudara triple negatif memiliki gejala yang serupa dengan jenis kanker payudara lainnya, Prof. DR. dr. Ami Ashariati, SpPD.-KHOM, menjelaskan, “Saat kanker payudara didiagnosis melalui tes pencitraan dan biopsi, sel-sel kanker akan diteliti untuk fitur tertentu. Jika sel-sel kanker tidak memiliki reseptor estrogen atau progesteron, dan juga tidak memproduksi protein HER2, maka kanker ini dikategorikan sebagai jenis kanker payudara tripel negatif. Kanker ini sangat agresif sebab tumbuh begitu cepat dan dapat tumbuh kembali meski setelah diobati.

    Lebih lanjut Prof.Ami menjelaskan bahwa modalitas pengobatan pada kanker payudara secara umum terdiri dari 3 hal pokok yaitu operasi, radiasi, dan terapi sistemik berupa kemoterapi, terapi hormonal, terapi target dan imunoterapi. Pemilihan modalitas pengobatan dengan mempertimbangkan banyak hal, tetapi ada 2 hal yang penting yaitu stadium dan subtipe kanker payudara, baru kemudian faktor lain seperti usia dan penyakit penyerta lainnya.

    Opsi pengobatan kanker payudara triple negative stadium aawal, local-lanjut atau metastasis pada prinsipnya sama dengan subtipe yang lain, akan tetapi masih sangat terbatas hasilnya karena mepunyai sifat tumbuh Kembali lebih cepat walaupun sudah diobati dengan benar.

    Pada Stadium awal dapat dilakukan prosedur operasi lumpektomi atau mastektomi dengan mengangkat juga kelenjar getah bening didekatnya untuk melihat apakah kanker telah menyebar. Setelah melakukan lumpektomi, biasanya diikuti dengan terapi radiasi; sedang bila setelah mastektomi akan dilakukan terapi radiasi bila didapatkan penyebaran ke kelenjar getah bening minimal 4 atau lebih. 

    “Dalam prosedur ini, tidak sedikit pasien yang melakukan rekonstruksi payudara bersamaan dengan mastektomi untuk tujuan estetika,” ujar Prof. Ami.

    Pada stadium metastatik atau telah menyebar ke organ lain seperti paru atau liver, atau otak, dilakukan terapi sistemik seperti kemoterapi.

    Prof. Ami menuturkan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi pengobatan, kini juga tersedia pengobatan kanker payuadara triple negative dengan imunoterapi yang memberikan harapan hidup lebih panjang.

     Lebih lanjut Prof. Ami menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan kanker payudara dengan melakukan SADARI dan deteksi dini kanker payudara, “Sebab kanker dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium awal, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat gejala. Selain itu, dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, berhenti merokok, tidak mengonsumsi alkohol, berolah raga secara teratur, dan jangan lupa menghindari stress dan cukup istirahat.” 

     

    DAFTAR PUSTAKA :

    [i]  American Cancer Society. 2021. Types of Breast Cancer/Triple Negative Breast Cancer. Diakses pada 28 September 2021 melalui https://www.cancer.org/cancer/breast-cancer/about/types-of-breast-cancer/triple-negative.html

     [ii] Universitas Gadjah Mada. 2019. Raih Doktor Usai Teliti Kanker Payudara Triple Negatif. Diakses pada 28 September 2021 melalui https://www.ugm.ac.id/id/berita/18429-raih-doktor-usai-teliti-kanker-payudara-triple-negatif

    [iii] Centers for Disease Control and Prevention. 2021. Breast Cancer: What are the symptoms of breast cancer? Diakses pada 28 September 2021 melalui https://www.cdc.gov/cancer/breast/basic_info/symptoms.htm

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 88

    Hentikan Merokok dan Jaga Berat Badan: Waspadai Kanker Ganas Renal Cell Carsinoma

    Posted on Tue, 07.09.2021

    Jakarta, 30 Agustus 2021 – Gaya hidup merupakan salah satu kunci kesehatan seseorang dari paparan penyakit, baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular, seperti kanker ginjal.  Kanker ginjal masih jarang dibicarakan, dan Renal Cell Carsinoma (RCC) atau Karsinoma sel ginjal merupakan jenis kanker ginjal yang paling umum.

    Menurut data GLOBOCAN 2020, kejadian baru kanker ginjal di Indonesia sebanyak 2.394 kejadian baru dengan 1.358 kematian (57%) akibat kanker ginjal, sementara di dunia, terdapat 431.288 kasus baru dengan 179.368 (41%) kematian.  Berdasarkan data Survailans, Epidemiologi dan Hasil Akhir (SEER) dari the American Cancer Society yang dikelola oleh the National Cancer Institute (NCI), secara keseluruhan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker ginjal adalah 75%, namun pasien kanker ginjal stadium lanjut dengan metastasis memiliki tingkat kelangsungan hidup 5 tahun jauh lebih rendah yaitu sebesar 13%.

    Anggota Bidang Pelayanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia (YKI) yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, dr. Nadia Ayu Mulansari, Sp.PD-KHOM, mengatakan, “Kebanyakan RCC didiagnosis pada usia diatas 60 tahun dan ditemukan pada stadium awal, namun tidak sedikit pasien yang didiagnosis pertama kali dan sudah berada pada stadium dimana kanker ginjal telah mestastatik atau pada stadium lanjut, sehingga memerlukan perawatan yang seksama dan tepat agar kualitas hidup pasien dapat terus terjaga.”

    Nadia Mulansari menjelaskan bahwa RCC adalah sel ganas yang tumbuh pada tubulus ginjal. Sebagai jenis kanker yang agresif, RCC dapat menyebar ke organ lainnya seperti paru-paru, hati, dan otak, sehingga sangatlah penting untuk lebih peka dalam merasakan dan mengetahui tanda dan gejalanya sejak awal.

    Pada stadium dini, biasanya kanker ginjal tidak menimbulkan tanda atau gejala apapun dan diagnosis biasanya dicurigai berdasarkan temuan insidental, baik dengan CT, MRT ataupun biopsi. Namun pada stadium lanjut, pasien kemungkinan dapat merasakan gangguan seperti adanya darah dalam urin, urin berwarna kemerahan, nyeri punggung bawah di satu sisi meski tidak ada cedera, terdapat benjolan di samping atau punggung bawah, sering terasa lelah dan kehilangan selera makan, berat badan turun meski tidak melakukan diet, demam yang tidak kunjung sembuh meski tidak terdapat infeksi, serta kurangnya sel darah merah atau anemia. “Jika seseorang merasakan gejala-gejala tersebut, maka perlu untuk segera berkonsultasi dengan dokter,” ujar dr. Nadia Mulansari.

    Hentikan Merokok…

    Selain itu, masyarakat perlu mengetahui faktor risiko yang dapat berakibat terjadinya kanker ginjal.  Faktor risiko utama adalah kebiasaan merokok dan obesitas, disusul dengan faktor lainnya seperti tekanan darah tinggi, penyerapan cairan tidak mencukupi, jenis kelamin dimana laki-laki lebih mungkin terkena daripada perempuan, riwayat keluarga terkena kanker ginjal, paparan di tempat kerja, seperti lingkungan dengan bahan kimia tertentu, konsumsi alkohol dan obat penghilang rasa sakit dalam jangka waktu lama. 

    Namun demikian dr. Nadia Mulansari menjelaskan, “Faktor risiko terkena kanker hanya 5-10% yang diakibatkan oleh faktor genetika, sedangkan 90-95% lebih disebabkan oleh faktor  lingkungan, maka jika mau sehat, berhentilah merokok dan jagalah berat badan yang ideal, jagalah tekanan darah agar tidak tinggi, konsumsi makanan yang sehat seperti buah-buahan dan sayuran, dan  berolah ragalah secara teratur.”

    Pengobatan RCC meliputi pembedahan seperti nefrektomi atau pengangkatan tumor dari ginjal, dilanjutkan dengan terapi sistemik. Jika kedua ginjal sudah diangkat, maka pasien perlu menjalani cuci darah seumur hidupnya.  Dengan kemajuan pengobatan, kini pasien RCC dapat memanfaatkan pengobatan imunoterapi atau terapi biologis. Terapi lainnya meliputi terapi target dimana pengobatan ditargetkan hanya ke sel kanker saja sehingga efek terhadap sel sehat minimal.

     “Pilihan perawatan akan menyesuaikan dengan keadaan stadium RCC yang dialami pasien, hal ini agar kualitas hidup pasien dapat berlangsung baik,” ungkap dr. Nadia Mulansari.

    Nadia Mulansari mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu mewaspadai jika terdapat gejala seperti BAB berdarah dan segera berkonsultasi dengan dokter untuk didiagnosis. “Jika dideksi dan dirawat sejak dini, maka kemungkinan pulih lebih besar,” jelasnya.

    Sekilas Yayasan Kanker Indonesia

    Yayasan Kanker Indonesia (YKI) adalah organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker. Tujuan YKI adalah mengupayakan penanggulangan kanker dengan menyelenggarakan kegiatan di bidang promotif, preventif dan suportif. Menyadari bahwa penanggulangan kanker hanya mungkin berhasil bila dilakukan oleh semua pihak, maka YKI melaksanakan kegiatannya dengan bekerjasama dengan semua pihak, baik pemerintah, organisasi profesi, lembaga swadaya masyarakat, swasta dan dunia usaha baik di dalam maupun luar negeri. YKI memiliki lebih dari 100 cabang di seluruh Indonesia.  Lebih lanjut mengenai YKI kunjungi http://yayasankankerindonesia.org/ dan IG @yayasankankerid.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 87

    Yayasan Kanker Indonesia bersama MS Glow Tingkatkan Kepedulian Generasi Milenial Terhadap Kanker: C

    Posted on Wed, 24.02.2021

    Jakarta, 23 Februari 2021– Dalam rangkaian Hari Kanker Sedunia 2021, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) didukung oleh MS Glow menggelar webinar bagi kalangan milenial untuk meningkatkan kepedulian dan pencegahan dini terhadap penyakit kanker, khususnya tiga jenis kejadian kanker pada wanita di Indonesia yaitu kanker payudara, kanker serviks dan kanker kolorektal.

    Webinar ini menghadirkan pembicara Wakil Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Ibu Murniati Widodo AS; Pendiri MS Glow, Shandy Purnama; Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik, Dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, KHOM; dan penyintas kanker aktris Feby Febiola.

    Menurut data GLOBOCAN 2020, estimasi kejadian kanker di Indonesia pada 2020 mencapai 396.914 kasus baru dan sebanyak 234.511 kematian akibat kanker. Sementara itu, para ahli dari Lembaga Riset Kanker di Inggris menemukan bahwa kebanyakan kanker payudara dan kanker rektal dideteksi sepuluh tahun setelah tumbuh. Sementara itu sebuah studi yang diterbitkan dalam Lancet Public Health dari American Cancer Society selama 20 tahun terakhir menunjukkan terjadi peningkatan tajam pada kejadian kanker pada mereka yang berusia 25 sampai dengan 49 tahun, khususnya yang mengalami obesitas.

    Wakil Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Ibu Murniati Widodo AS, mengatakan, “Hanya 5 sampai 10% kanker yang diakibatkan oleh faktor genetika, sedangkan selebihnya disebabkan oleh lingkungan dan pola hidup. Oleh sebab itu, merupakan suatu keharusan bagi generasi milenial untuk waspada terhadap kanker, dengan melakukan pencegahan dan deteksi dini kanker, sebab pola hidup generasi milenial saat ini dapat menentukan kondisi kesehatan mereka 10 hingga 20 tahun mendatang.”

    Pada kesempatan yang sama, pendiri MS Glow Shandy Purnamasari menyampaikan, “MS Glow memahami bahwa tingginya kasus kanker baru dan kematian akibat kanker disebabkan salah satunya oleh keterlambatan penanganan karena kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat untuk mencegah dan mendeteksi kanker sejak dini. Untuk itu, dalam rangka Hari Kanker Sedunia, kami memberikan kontribusi dengan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya mengetahui penyebab kanker dan pentingnya melakukan deteksi dini kanker.”

     

    Kanker Payudara

    Menurut GLOBOCAN 2020, di Indonesia terdapat 65.858 kasus baru kanker payudara, dengan jumlah kematian akibat kanker payudara sebanyak 22.430 kasus.

    Dr. Nadia Ayu Mulansari, SpPD, KHOM menjelaskan, “Kebanyakan pasien kanker datang pada stadium lanjut, padahal jika kanker dideteksi dini maka tingkat kesembuhannya akan semakin tinggi. Untuk itu, masyarakat, termasuk generasi milenial perlu mengetahui cara mendeteksi dini. Misalnya, untuk deteksi dini kanker payudara, bisa melakukan SADARI (periksa payudara sendiri) serta tes USG atau tes mammografi, dan kanker leher rahim dengan tes papsmear. Lebih penting lagi adalah mencegah terjadinya kanker sejak usia muda dengan pola hidup sehat, tidak makan-makanan yang diolah, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, dan berolah raga secara teratur.”

    Dr. Nadia menambahkan, ciri-ciri yang perlu diwaspadai pada payudara adalah jika terdapat benjolan pada bagian dalam  bagian dalam payudara (bisa menempel atau tidak),  tidak bergerak, keluarnya cairan dari puting payudara, hingga terjadi hal yang tidak biasa pada kulit payudara, seperti ruam, kulit payudara tertarik dan bersisik, baik pada area sekitar payudara atau pada puting.

     

    Kanker Serviks

    Data Globocan 2020 menunjukkan di Indonesia ditemukan 36.633 kasus baru kanker serviks dengan jumlah kematian sebanyak 21.003 kasus. Kanker serviks menempati peringkat kanker tertinggi kedua pada perempuan di Indonesia.

    Dr. Nadia mengatakan, “Kanker serviks diakibatkan oleh virus human papilloma virus (HPV), dimana perjalanannya memakan waktu 10 hingga 20 tahun sejak terkena virus melalui tahapan-tahapan. Dalam kurun waktu tersebut, setiap perempuan perlu melakukan deteksi dini, jika kelainan  ditemukan pada tahap lesi prakanker, pengobatan mudah dan efektif. Dengan demikian tidak akan sampai terjadi kanker serviks, maka  ancaman kematian yang disebabkan kanker serviks dapat dicegah. Upaya pencegahan kanker serviks dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan IVA atau PAP Smear dan atau HPV test.”

     

    Kanker Kolorektal

    Menurut data GLOBOCAN 2020, angka kejadian kanker kolorektal di Indonesia tahun 2020 mencapai 34.189 kasus.

    Dr. Nadia menjelaskan bahwa gaya hidup sangat mempengaruhi potensi terjadinya kanker. Mulai sekarang, tidak merokok, lakukan aktivitas fisik, berolah raga, terapkan pola makan yang sehat dengan mengurangi asupan karbohitrat, gula, maupun lemak, perbanyak sayur dan buah.

    Dr. Nadia menambahkan bahwa skrining kanker kolorektal dapat menyelamatkan jiwa melalui deteksi dini prakanker dan kanker sehingga dapat disembuhkan. Deteksi dini dapat dilakukan dengan pemeriksaan feses darah samar.

     

    Deteksi Dini Gratis Periode Maret dan rencana kedepan Kerjasama YKI & MS Glow

    Sebagai bagian dari kerjasama Yayasan Kanker Indonesia dengan MS Glow ini, terbuka pendaftaran bagi 100 pendaftar pertama untuk melakukan deteksi dini kanker payudara atau kanker serviks secara gratis melalui tes USG atau mammografi atau papsmear yang akan dilaksanakan pada bulan Maret 2021 di Klinik Yayasan Kanker Indonesia Lebak Bulus.

    Ibu Murniati Widodo AS lebih lanjut mengapresiasi MS Glow yang telah memfasilitasi penyuluhan seputar kanker, dan pemeriksaan gratis kanker payudara dan kanker serviks bagi generasi milenial agar menyadari betapa pentingnya deteksi dini dan pemahaman akan bahaya penyakit kanker.

     

    Tentang MS Glow

    MS Glow berdiri pada tahun 2013, yang merupakan singkatan dari motto kami yaitu Magic for Skin. Berawal dari Penjualan Produk MS Glow skincare dan body care secara online dan telah memperoleh kepercayaan dari jutaan customer sehingga kami terus melakukan pengembangan produk. 

    Kini MS Glow telah berkembang menjadi skincare, bodycare dan cosmetic product yang memiliki Distributor, Agen, Member & Reseller resmi di seluruh Indonesia, bahkan sudah merambah mancanegara. Produk MS Glow memiliki sertifikasi BPOM, Halal dan sudah teruji secara klinis. Tidak hanya sampai disitu, demi kepuasan dan kepercayaan customer kami pun mendirikan MS Glow Aesthetic Clinic yang saat ini sudah ada 11 Cabang di kota-kota besar di Indonesia (Malang, Surabaya, Bali, Jakarta, Bandung, Sidoarjo, Bekasi, Makassar dan coming soon di Semarang & Medan). Dengan menghadirkan berbagai solusi perawatan wajah dan tubuh seperti Laser, Meso, Skin Rejuvenation, V Shape, Microdermabrasi, Beauty transformation dan lainnya yang langsung ditangani oleh dokter ahli.

    Tentang Yayasan Kanker Indonesia

    Masalah utama dalam penanggulangan kanker adalah kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kanker dan kesadaran masyarakat untuk melakukan perilaku hidup sehat untuk mengurangi risiko kanker serta melakukan deteksi dini kanker. Akibatnya sebagian besar kanker ditemukan pada stadium lanjut dan sulit ditanggulangi, sehingga memberikan beban yang besar bagi pasien kanker dan keluarganya. Berdasarkan kepedulian dan keprihatinan terhadap semakin banyaknya penderita kanker, rendahnya pengetahuan masyarakat akan penyakit ini serta tingginya angka kematian penderita akibat datang Siaran Pers berobat pada stadium lanjut, 17 tokoh masyarakat dan pemerhati kesehatan terpanggil untuk mendirikan Yayasan Lembaga Kanker Indonesia (YLKI) pada tanggal 17 April 1977 sebagai organisasi nirlaba yang bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan, khususnya dalam upaya penanggulangan kanker.

     

    Untuk keterangan lebih lanjut hubungi

    YAYASAN KANKER INDONESIA

    Bidang Humas

    Pratiwi Astar

    Email: humas.yki@gmail.com

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 84

    Program Aksi Penanggulangan Kanker Nasional 2021 bersama TemanKita dari @uphimpactslives dan @benihb

    Posted on Wed, 25.11.2020

    Hai Teman Baik!

    Yayasan Kanker Indonesia bersama TemanKita dari @uphimpactslives dan @benihbaik akan menggalang dana untuk Program Aksi Penanggulangan Kanker Nasional 2021.

    Program Aksi Penanggulangan Kanker Nasional adalah salah satu program rutin yang dilakukan Yayasan Kanker Indonesia setiap tahunnya. Kegiatan-kegiatan di dalamnya sangat bervariasi, seperti: deteksi dini kanker, dukungan ke Rumah Singgah Sasana Marsudi Husada bagi penderita kanker yang kurang mampu (finansial), sosialisasi, training/ workshop, pengadaan alat kesehatan dan terapi medis dll.

    Informasi lengkap mengenai penggalangan dana ini bisa Anda lihat di https://bit.ly/DonasiBenihBaik atau instagram @benihbaik.

    Setiap orang berhak untuk memiliki kebahagiaan, kesehatan, dan dicintai. Segala kasih yang kamu berikan akan menjadi secercah harapan bagi banyak orang dan suatu saat akan kembali pada kamu.

    Dengan berdonasi, kamu sudah menjadi orang yang berdampak bagi kehidupan orang lain. Ayo TemanBaik, let’s spread kindness and love dengan mulai berdonasi! God bless you and stay healthy. #BeAHeroForEveryone

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 70

    PROGRAM PEDULI KANKER YAYASAN KANKER INDONESIA bersama INDOMARET

    Posted on Tue, 29.09.2020

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap para pasien kanker payudara dan memudahkan masyarakat untuk ikut andil berdonasi, Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerja sama dengan PT. Indomarco Prismatama (Indomaret) menjalankan program donasi “Program Peduli Kanker”. Sebagai bentuk kepedulian untuk para pasien kanker payudara, dimana kanker ini menempati urutan nomor 1 (satu) di Indonesia dibanding jenis kanker lainnya yang dialami oleh wanita.

    Kilas balik mengenai kejadian kanker payudara pada wanita Indonesia berdasarkan data dari Globocan tahun 2018 adalah sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk. Kanker ini dapat tumbuh dan menyerang jaringan di sekitar payudara, seperti kulit atau dinding dada. Benjolan kanker bisa tumbuh lebih besar di payudara dan menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya atau melalui aliran darah ke organ lain. Kanker ini sangat bisa disembuhkan jika ditemukan sejak awal pertumbuhan. 

    Benjolan kanker bisa tumbuh lebih besar di payudara dan menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya atau melalui aliran darah ke organ lain. Kanker satu ini sangat bisa disembuhkan jika ditemukan sejak awal pertumbuhan. 

    Hal tersebut yang mendasari Yayasan Kanker Indonesia dan Indomaret membuat program ini. Dimana dana yang terkumpul dari program akan disalurkan untuk pembelian alat deteksi kanker payudara. Program donasi berlangsung sejak 1 September – 30 November 2020. Ayo, kita berdonasi untuk kesehatan wanita Indonesia. Informasi lebih lanjut bisa hubungi:  dr. Rebecca N. Angka di nomor (021) 7507447 / 7690704 atau Call Center Indomaret 1500 280.

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 69

    "Pandemi Virus Corona: Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Rendah, Ahli Jelaskan" Artikel oleh Kompas

    Posted on Mon, 10.08.2020

    KOMPAS.com - Virus corona baru yang menyebabkan penyakit Covid-19 sangatlah rentan menyerang orang dengan imunitas rendah. Salah satu pasien berisiko terinfeksi virus ini adalah penyintas kanker, yang tentu memiliki imunitas atau sistem kekebalan tubuh yang rendah. Di tengah pandemi virus corona ini, Pokja Kanker Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) bekerja sama dengan Cancer Information and Support Center (CISC) melakukan survei terhadap 355 penyintas kanker di seluruh Indonesia. Hasil survei yang dilakukan untuk mempelajari tindakan para penyintas kanker di tengah pandemi Covid-19 disosialisasikan dalam diskusi daring #LUNGTalk: Pandemi Covid-19 dari Sudut Pandang Penyintas Kanker, Sabtu (1/8/2020).

    "Penelitian ini dilakukan pada 355 pasien pada bulan Juli," kata dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K)Onk, Ketua Pokja Kanker Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI). Dr Elisna mengatakan pada dasarnya virus corona menyerang orang yang memiliki imunitas rendah. Meskipun tidak ada bukti bahwa orang kanker berisiko tinggi untuk terkena Covid-19, namun, risikonya tetap sama dengan kebanyakan orang. "Risiko semua orang sama, tidak hanya pada orang dengan kanker, maka perilakunya harus dipertahankan," kata dr Elisna.

    Berdasarkan penelitian yang dilakukan di China, tingkat infeksi virus SARS-CoV-2, di salah satu institusi menunjukkan angka 0,79 persen pada pasien onkologi dibandingkan dengan pasien pada umumnya dengan angka 0,39 persen. Bahkan menurut sebuah penelitian dalam jurnal Lancet, pasien kanker paru juga lebih rentan terinfeksi Covid-19. Angka risikonya menunjukkan 25 persen sampai 38 persen dibandingkan dengan pasien kanker lainnya. Survei yang dilakukan menunjukkan hasil yang baik terkait pengetahuan responden tentang Covid-19 dan upaya pencegahan yang perlu dilakukan untuk meminimalisasi risiko penularan.

    Pasien kanker terbiasa mengatur kecemasan.

    Dr Elisna memaparkan tercatat sebanyak 73 persen dari seluruh responden mendapatkan informasi yang cukup terkait pencegahan Covid-19. Di antaranya seperti mencuci tangan, memakai masker, menerapkan jaga jarak dan selalu menjaga imunitas tubuh. "Berdasarkan hasil survei, sebanyak 60,1 persen responden mengakui tingkat kecemasan mereka akibat Covid-19 cukup rendah," ungkap dr Elisna. Sebab, kata dr Elisna, para penyintas kanker telah terbiasa mengatur kecemasan dan stres mereka, bahkan sejak awal dinyatakan memiliki penyakit ini.

    "Kalau kecemasan pada orang kanker itu sudah ada dari awal. Penyintas ini sudah melatih stresnnya sejak dini," jelas dr Elisna. Faktor kecemasan lainnya bagi penyintas kanker yakni pandemi ini mengganggu proses terapi. Sebab, bagi beberapa pasien kanker ada terapi yang tidak dapat ditunda. Selain itu terkait akses ke pusat layanan, menurut dr Elisna, ada 22,5 persen responden yang mencemaskan hal ini. Penelitian serupa tentang bagaimana penyintas kanker menghadapi pandemi virus corona juga telah dilakukan sebelumnya di Zurich pada bulan Februari, serta di sejumlah negara seperti China, Spanyol dan negara lainnya.

    "Penelitian tentang kecemasan terkait Covid-19, hasilnya juga sama dan tidak jauh berbeda," jelas dr Elisna. Penyintas kanker paru Megawati Tanto, yang juga Koordinator Kanker Paru CISC juga memaparkan tantangan yang dihadapi pasien kanker paru selama pandemi ini semakin berat. Megawati mengatakan para pasien kanker, termasuk kanker paru, sangat bergantung pada pelayanan. Jika penindakan dan layanan kesehatan selama masa pandemi ini terganggu, maka juga akan berdampak buruk bagi kesehatan pasien ke depannya. Rekomendasi dari survei ini diharapkan agar akses layanan kesehatan bagi pasien kanker, tetap menjadi prioritas di masa pandemi virus corona saat ini.

    Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pandemi Virus Corona: Tingkat Kecemasan Pasien Kanker Rendah, Ahli Jelaskan",

    Klik untuk baca: https://www.kompas.com/sains/read/2020/08/03/160100023/pandemi-virus-corona--tingkat-kecemasan-pasien-kanker-rendah-ahli-jelaskan?page=all#page3.
    Penulis : Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas
    Editor : Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas

    Selengkapnya >>
  • Artikel Image 68

    Pengumuman Resmi Penutupan Sementara Yayasan Kanker Indonesia

    Posted on Thu, 02.04.2020

    Mengingat situasi dan dampak Covid-19 yang masih terus meningkat di Indonesia khususnya wilayah DKI Jakarta, dengan ini kami ingin menyampaikan informasi mengenai jam operasional Yayasan Kanker Indonesia selama masa pandemi. Kami akan informasikan kembali bila ada perubahan jadwal informasi dalam gambar. Semoga situasi akan segera kembali normal kembali.

    1. Yayasan Kanker Indonesia memperpanjang masa TUTUP KANTOR sampai dengan hari Kamis, 9 April 2020 dan akan dibuka kembali hari Senin, 13 April 2020. Ketentuan ini berlaku untuk seluruh kegiatan kantor pusat, klinik, dan apotek.

    2. Permintaan/pembelian obat dari pasien akan dilayani secara on-call dengan prosedur mencatat data obat yang dibutuhkan terlebih dahulu dan distribusi obat akan dilaksanakan sesuai hari yang telah disepakati (1x dalam seminggu). Pertanyaan mengenai apotik dapat menghubungi nomor whatsapp +62813 82112350 (Hanya melayani whatsapp).

    3. Bila ada perubahan jadwal operasional, akan kami informasikan kembali melalui postingan insta stories @yayasankankerid.

    4. Dalam masa pandemi covid-19 saat ini, kami ingin mengingatkan kembali untuk mengikuti hal-hal berikut ini;

    - Menjaga kesehatan pribadi dan keluarga.

    - Sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

    - Jangan keluar rumah bila tidak ada hal yang penting.

    - Gunakan masker bila sedang sakit.

     

    DILIBURKAN BUKAN BERARTI LIBURAN YA..!

     

    Salam Hormat,

    Prof. Dr. dr. Aru W. Sudoyo, Sp.PD, KHOM, FACP

    (Ketua Umum YKI)

    <!--EndFragment-->

    Selengkapnya >>